
"Nona, tunggu!" Jefri terpaksa menarik tangan Melisa sebelum gadis itu masuk ke dalam kerumunan orang yang sedang menyaksikan konser. Terlalu banyak orang dan berdesak-desakan, Jefri tidak ingin mengambil risiko berat!
"Ikut saya!"
"Kita mau ke mana? Aku mau nonton konser!!"
"Iya, Nona akan tetap nonton konser! Tenang saja!"
Melisa ikut saja ketika Jefri membawanya ke sebuah kafe. Lalu pria itu berbisik pada salah seorang di bagian kasir.
"Lewat sini, Nona!" ucap Jefri, mengajak Melisa menuju lantai dua kafe itu. Ternyata ada beberapa orang juga di sana! Mereka tidak berdua!
"Nah, Nona nonton lewat sini aja, nggak perlu desak-desakan!" Posisi kafe ini ternyata tepat di samping kanan lapangan yang digunakan sebagai tempat penggelaran konser. Dan dari lantai dua, Melisa bisa melihat panggung di bawah, orang-orang di bawah sana terlihat begitu menikmati konser dari beberapa penyayi dan juga boyband.
"Makasih ya, Jef."
"Sama-sama, Nona!"
Jefri duduk di samping Melisa, ikut mendengarkan alunan musik yang terdengar begitu jelas dari atas sini.
Jefri tau siapa yang sedang bersamanya sekarang, seorang gadis muda dari keluarga terpandang. Jefri merasa beruntung karena Tuan Felix mempercayainya untuk menjaga Melisa selama mereka di pulau ini.
Sebenarnya Jefri juga bukan orang sembarangan, dia adalah anak dari orang yang paling disegani di pulau XX, hampir semua pengusaha yang mendirikan usahanya di pulau ini mengenal Ayah Jefri. Ayah Melisa termasuk temen baik Ayahnya!
"Nona Melisa, apakah saya boleh menanyakan sesuatu?"
"Apa? Silahkan tanya aja!"
"Apakah sebelum ini Anda pernah mengalami kejadian yang meninggalkan jejak trauma, seperti penculikan?"
Melisa menoleh menatap Jefri. "Nggak pernah, emang kenapa?"
"Tidak apa, hanya penasaran saja."
"Pasti karena Ayahku ya? Aku juga bingung kenapa Ayahku seperti ini! Tapi apapun alasan Ayah, aku yakin itu semua demi kebaikanku!"
"Pasti, semuanya demi kebaikan Nona!"
"Mau saya pesankan minum?" imbuh Jefri.
"Boleh."
"Mau minum apa, Nona?"
"Jus jeruk."
Jefri menghentikan langkahnya, menatap sekitar ruangan di lantai dua. Ia mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah, mengeluarkan Handphone lalu menghubungi salah seorang temannya yang bekerja di kafe ini untuk memesan minuman untuk dirinya dan Melisa!
Aku nggak mau Tuan Felix sampai kecewa. Aku nggak boleh lengah!
Batin Jefri.
Jefri tidak akan meninggalkan Melisa walaupun hanya semenit, Melisa harus tetap dalam pengawasannya!
* * * * *
Jika bukan dipaksa oleh Mamanya, Gibran tidak akan pernah sudi bertemu lagi dengan Euni! Dan sekarang, Mama malah menyuruhnya menjemput gadis itu, entah dia masih gadis atau tidak! Tapi kita tetap sebut gadis saja, sesuai KTP!
Mobil Gibran memasuki kawasan Villa Aela, sesuai dengan lokasi yang Euni bagikan. Bahkan Euni sudah mendapatkan kontak Gibran dari Mama!
Gibran keluar dari mobilnya, melihat ke kiri dan kanan, ada tiga bagunan Villa, dan Gibran tidak tau Euni di Villa yang mana!
^^^Gibran :^^^
^^^Gue udah sampe^^^
^^^Lu di mana?^^^
Mak Lampir :
Villa Aela 3, di paling ujung kanan!
Gibran menoleh ke sebelah kanan. Lalu melangkah menuju Villa yang Euni maksud, tapi tiba-tiba seseorang menarik lengan Gibran, mencengkram dengan begitu kuat, Gibran menoleh. Matanya dan mata Tuan Felix beradu tatap.
Tuan Felix menyerat Gibran menuju tembok belakang Villa Aela 1 yang Tuan tempati!
"Apa yang kamu lakukan di sini!"
Dari tatapan matanya yang tajam, Gibran bisa membaca sejauh mana Tuan Felix tidak menyukainya!
"Sebelumnya maaf, Tuan. Ini pertemuan pertama kita, tapi kenapa Anda sudah seperti ini? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" ucap Gibran dengan nada yang dibuat begitu tenang.
"Jangan pura-pura tidak tau apa-apa!" Tuan Felix menarik kerah kemeja Gibran. "Jauhi putriku!!"
"Putri Anda? Siapa Putri Anda, Tuan?"
Tatapan mata Tuan Felix makin tajam pada Gibran. "Apa yang kamu inginkan dari Melisa!"
"Oh, Melisa Dwi Pratiwi. Rupanya gadis manis itu putri Anda?!" Dengan pelan Gibran mencoba melepaskan tangan Tuan Felix dari kerah kemejanya.
__ADS_1
"Tapi, perlu Anda tau Tuan Felix yang terhormat, dari awal saya tidak tau kalo gadis manis itu putri Anda, bahkan saya mengetahuinya setelah Anda menyuruh Melisa menjauhi Saya!"
"Apa yang kamu inginkan! Aku akan memberikan semuanya! Asal setelah itu jauhi Melisa!" ucap Tuan Felix menahan amarah, bahkan sampai tangannya sudah terkepal kuat.
"Saya tidak mau apapun dari Anda, saya hanya ingin memberikan cinta saya untuk Melisa!"
Tangan Tuan Felix sudah berada di leher Gibran, dengan tenang Gibran menahan tangan Tuan Felix agar tidak sampai mencekiknya.
"Apakah Anda tidak percaya, Tuan? Apakah Anda menuduh saya ingin memanfaatkan Melisa?"
Gibran menghembuskan napas pelan. "Saya benar-benar tidak per--"
"Sudahi omong kosongmu! Pergilah dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi di depan Melisa!"
Tuan Felix melepaskan tangannya. Hendak berbalik meninggalkan Gibran -
"Tuan Felix? Apakah Anda tidak ingin memberikan kesempatan? Saya serius dengan perasaan saya pada Melisa! Saya mencintainya!"
"Melisa masih terlalu dini untukmu, carilah wanita yang lebih pantas bersanding denganmu!" ucap Tuan Felix tanpa membalikkan badannya.
"Saya akan menunggu sampai Melisa siap! Tiga tahun, empat tahun, saya siap menunggu!" tegas Gibran.
Tuan Felix menoleh hingga tatapannya kembali beradu dengan Gibran. "Aku bisa saja langsung melenyapkanmu jika kamu menyakiti Melisa, ingat itu!"
"Itu artinya ada kesempatan untuk Saya?"
Tuan Felix tak menjawab apapun, dia meninggalkan Gibran, masuk ke dalam Villa.
Gibran mengejap, tubuhnya bersandar pada dinding Villa, walaupun sudah berusaha tenang, tapi tetap saja jantung Gibran hampir copot saat berhadapan dengan Tuan Felix tadi! Terlebih ketika Tuan Felix menarik kerah kemejanya, Gibran pikir dia tidak akan selamat lagi!
Berarti Melisa ada di sini juga?
Batin Gibran.
Cukup lama dia tertunduk di sana. Menenangkan diri. Entah, apakah ini akan membawanya pada sebuah kebahagiaan atau malah kesengsaraan, Gibran tau persis dengan siapa dia berurusan!
^^^Gibran :^^^
^^^Maaf, gue nggak bisa jemput lu, ada urusan mendadak!^^^
Gibran membawa laju mobilnya meninggalkan Villa Aela setelah mengirim pesan pada kontak Euni yang diberi nama Mak Lampir oleh Livi!
Gibran memutuskan untuk masuk ke salah satu kafe untuk memesan kopi dan menenangkan diri. Tidak peduli dengan suasana riuh di luar sana, Gibran sama sekali tidak tertarik untuk melihat konser itu!
"Sekarang keputusan ada di tanganku, apakah aku mau melanjutkan hal yang sempat terjeda atau melupakan semuanya!"
Gibran sekarang malah tarik ulur dengan perasaannya. Masalahnya jika dia salah melangkah sedikit saja, nyawanya pasti akan langsung melayang di tangan Tuan Felix!
* * * *
"Waktunya untuk pulang, Nona!" ucap Jefri mengingatkan. Tanpa banyak bicara Melisa langsung bangkit dari duduknya, entah mengapa perasaannya tiba-tiba saja tidak enak dan ingin cepat sampai rumah sekarang!
Melisa dan Jefri melangkah menuruni tangga melewati beberapa meja sebelum keluar dari kafe.
Melisa tidak menyadari kalau dia baru saja melewati meja yang Gibran duduki, begitu pula dengan Gibran yang tidak menyadari kalau Melisa berjalan tadi di belakangnya!
"Nona Melisa? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Jefri yang menyadari perubahan Melisa.
"Entah, perasaanku sedang tidak enak!"
Melisa mengeluarkan Handphone-nya.
^^^Melisa :^^^
^^^Arkan? Kamu di mana?^^^
Arkan :
Udah di Villa Kak.
Kak Melisa di mana?
^^^Melisa :^^^
^^^Mama sama Ayah udah di Villa juga, kan?^^^
^^^Erlan juga?^^^
Arkan :
Iya, kita semua udah di Villa.
Kak Melisa kenapa?
Kak Melisa di mana?
^^^Melisa :^^^
^^^Kak Melisa OTW ke Villa.^^^
__ADS_1
"Pelan-pelan aja, Jef. Kita nggak buru-buru!" ucap Melisa padahal Jefri sudah membawa mobil dengan pelan.
Via! Rere! Apa perasaan aneh ini datang dari mereka?
Batin Melisa.
^^^Melisa :^^^
^^^Re, apa kabar?^^^
^^^Gimana di sana?^^^
^^^**^^^
^^^Melisa :^^^
^^^Vi, apa kabar?^^^
^^^Gimana di Jepang?^^^
Melisa tampak tidak tenang sebelum mendapat balasan dari kedua sahabatnya itu!
Melihat Melisa yang seperti orang gelisah itu, Jefri pun menepi. Menatap Melisa yang juga menatapnya.
"Minum dulu, Nona!" Jefri memberikan sebotol air mineral yang kebetulan belum ia minum, hanya membelinya saja tadi sore.
"Terimakasih." Melisa meneguk seperempat dari air botol itu.
"Tarik napas, buang pelan-pelan, lakukan itu, Nona!"
Melisa mengikuti saran Jefri hingga ia merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Udah?" tanya Jefri lembut.
"Udah, terimakasih ya, Jef."
"Iya, sama-sama, Nona. Kira-kira siapa ya yang ikatan batinnya sekuat ini dengan Nona?"
Melisa menggeleng, dia sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba dia merasa khawatir, takut, sedih, dan panik tadi!
"Semoga cuman perasaan aku aja, ya?"
"Semoga."
Jefri kembali menyalakan mesin mobil, mengantar Melisa sampai depan Villa Aela.
"Sekali lagi terimakasih, Jef," ucap Melisa sebelum masuk ke dalam Villa.
"Iya sama-sama, Nona."
Jefri mengeluarkan Handphone-nya. Menghubungi Tuan Felix.
"Nona Melisa sudah masuk ke dalam Villa, Tuan. Tidak ada kejadian aneh apapun, tidak ada siapapun yang mendekati Nona. Hanya saja Nona sempat gelisah saat perjalanan pulang tadi."
"Baiklah, terimakasih untuk hari ini, selamat malam dan istirahat, Jef. Salam untuk Ayahmu!"
"Selamat Malam juga, Tuan. Saya akan meninggalkan beberapa orang di sekitar Villa Anda, jadi Anda tidak perlu khawatir tentang Nona Melisa. Selamat beristirahat, Tuan Felix."
"Baiklah, sekali lagi terimakasih!"
"Sama-sama, Tuan!"
Jefri meninggalkan Villa Aela, membawa laju mobilnya menuju salah satu bar di dekat pantai.
"Maaf telah membuatmu menunggu lama," ucap Jefri begitu datang dan langsung duduk di meja bar.
Pria di samping Jefri itu sedikit cemberut. "Kamu selalu bersama gadis itu seharian dan hanya menemuiku seperti sekarang ini!"
Jefri tersenyum, ia menggesek hidung mancungnya pada bahu Lucas. "Maaf, kan sekarang aku udah di sini."
Lucas diam tak menjawab, ia meneguk segelas bir tanpa memperdulikan Jefri di sampingnya.
"Apakah aku harus bertindak lebih di sini, untuk menarik perhatianmu?" Tangan Jefri sudah beralih memegang paha Lucas.
"Cukup-cukup!" Lucas menggenggam tangan Jefri yang ukurannya lebih besar jika dibandingkan dengan tangan Lucas!
"Dia cantik." lirih Lucas.
"Lalu?"
"Apa kamu menyukainya?"
Jefri tersenyum, ia mengangkat tanganya yang masih dalam genggaman Lucas.
Cup.
Satu kecupan mendarat di punggung tangan Lucas. "Aku sudah memilikimu, untuk apa aku menyukai gadis itu, hmm? Ini hanya sebatas kerjasama dengan Tuan Felix, tidak lebih!"
"Janji?"
__ADS_1
"Iya, janji." Jefri mengusap rambut Lucas lalu memberikan kecupan hangat di pipi pria itu.
Inilah salah satu alasan kenapa Tuan Felix percaya kepada Jefri, karena Jefri tidak akan mungkin melibatkan perasaan dengan putrinya! Secara Jefri tidak menyukai wanita! Dan Tuan Felix tau itu!