
Melisa memasukkan tas dan beberapa perlengkapan lain ke dalam mobil, Gibran yang bersikeras ingin mengantarnya ke sekolah sekarang malah sibuk ngobrol dengan Mama di ruang tamu. Entah apa yang mereka bicarakan.
Viaacu :
Mell, kamu di mana?
^^^Melisa :^^^
^^^Ini otw ke sekolah.^^^
Viaacu :
Oke, ditunggu, kalo bisa cepetan yaaa, busnya udah otw ke sekolah juga!
^^^Melisa :^^^
^^^Oke Viii^^^
Melisa memasukkan Handphonenya ke dalam tas saat melihat Gibran keluar rumah ditemani Mama.
"Udah semua? Nggak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Gibran.
"Nggak ada."
"Hati-hati ya, jaga diri di sana, jaga sikap juga," ucap Tania.
"Iya, Ma. Ya udah kalo gitu Melisa berangkat yaa...."
Tania memeluk Melisa, mengecup kening, dan kedua pipinya.
"Hati-hati bawa mobilnya," ucap Tania saat Gibran ikut pamitan padanya. Gibran tersenyum mengiyakan. Lalu pria itu membukakan pintu depan untuk Melisa.
"Ini beneran nggak ngerepotin kamu kan?" lirih Melisa. Gibran menoleh menatap Melisa, sembari memasang sabuk pengamannya, pria itu berkata.
"Nggak, Sayang. Lagian kan aku yang mau nganterin kamu. Udah, jangan dipikirin lagi!"
Rencana awal Melisa akan berangkat bersama Via dan Rere ke sekolah, tapi Gibran tiba-tiba meneleponnya dan memberitahu kalau Gibranlah yang akan mengantar Melisa ke sekolah, awalnya Melisa sempat menolak, tapi karena Gibran terus memaksa, akhirnya Melisa tidak bisa melakukan apa-apa selain mengiyakan kemauan Gibran. Walaupun Melisa sebenarnya merasa sedikit tidak enak, karena pasti Gibran punya banyak pekerjaan sekarang!
"Heyyy, ngelamunin apa?" Tangan kiri Gibran menoel pipi Melisa, Gibran sekilas menoleh, memastikan Melisa tidak melamun lagi.
"Nggak ngelamun kok."
"Jangan boong."
Gibran menoleh begitu mereka berhenti di lampu merah, tatapan matanya fokus ke arah Melisa, "Kenapa?"
"I love you."
Gibran diam sejenak. Lalu ia kembali tersenyum. "I love you too, Sayang."
"Udah, jangan ngelamunin lagi, jangan mikirin hal yang nggak perlu dipikirin!" Gibran mengelus pipi dan pucuk kepala Melisa sebelum tangannya kembali pada kemudi mobil.
"Khemmm, kok aku gugup ya diliatin terus dari tadi!" canda Gibran saat menyadari Melisa terus menatapnya sejak tadi.
"Hahaha pede banget sih!"
"Jadi bukan ngeliatin aku, ya??"
__ADS_1
"Eh, nggak gituuu, aku lagi ngeliatin makhluk Tuhan yang baiiiik dan ganteng banget ini ......"
Gibran terkekeh sambil menggeleng pelan mendengar ucapan Melisa.
"Oke, dah sampai."
"Udah ya?" Melisa menoleh ke arah kiri, melihat bangunan sekolahnya. Ya, mereka sudah sampai ternyata. Saking fokusnya memperhatikan Gibran sampai tidak sadar dengan sekitar.
"Bentar." Gibran turun terlebih dahulu, ia membukakan pintu mobil untuk Melisa, lalu mengeluarkan beberapa barang Melisa dari mobil.
"Mau aku bantu bawa ke dalam?"
"Eh, jangan--- Itu, ada mereka." Melisa menunjukkan ke arah Rere dan Via yang sudah menunggu kedatangannya.
"Ya udah, sampai sini aja." Gibran merengkuh Melisa, membawa tubuh Melisa ke dalam pelukannya.
"Jaga diri baik-baik ya, kalo ada apa-apa langsung kasih tau aku."
"Iyaaa."
Cup.
Satu kecupan lembut jatuh di atas kening Melisa, gadis itu melotot menatap Gibran yang hanya cengir kuda.
"Hehehe, dikit aja."
"Khemmm, aku, aku masuk ya." ucap Melisa yang salah tingkah akibat ulah Gibran.
"Silahkan, bye, Sayang!"
"Love you too." Gibran melambai, masih dengan senyum di wajah tampannya.
"Hadoooh, bumi terasa milik berdua yaaa. Kita sama yang lain mah cuman ngontrak...." Goda Via, gadis itu mengambil pelengkap yang tadinya Melisa bawa.
"Keningnya merah tuh!" Goda Rere sambil menyenggol Melisa pelan.
"Apaan sih kalian, udah ah, jangan gitu, maluu tau!"
"Hahaha, ya udah ayo, kita mau absen dulu sebelum berangkat!!"
...****************...
"Gimana semuanya, aman?" tanya Gibran melalui sambungan telepon yang terhubung dengan Gama.
"Aman, Kak. Udah selesai urusannya?"
"Udah."
Terdengar Gama ikut menghembuskan napas lega.
"Nanti bawa semua berkas dari Tuan Hendra ke ruangku."
"Oke, Kak."
"Ya, terimakasih untuk hari ini."
Gibran menghela napas panjang, sebenarnya ia ada jadwal meeting dengan salah satu rekan bisnis Papanya. Tapi Gibran malah menyerahkan hal itu pada Gama dan tetap dengan keputusannya untuk mengantar Melisa. Pasalnya saat Melisa memberitahu kalau dia akan pergi camping, Gibran antara sadar dan tidak saat mendengarnya. Entah dia sudah berada di alam mimpi atau tidak malam itu.
__ADS_1
"Next weekend aja kali ya...." gumam Gibran mengingatkan akan janjinya pada Mama untuk memperkenalkan Melisa, tapi lagi dan lagi, waktu belom berpihak pada mereka.
...****************...
Melisa memutuskan mendengar lagu sepanjang perjalanan, Via yang duduk di sampingnya pun tertidur dengan bantal pink yang melingkar di lehernya. Sedangkan Rere duduk di kursi depan, karena dia memang kebagian tugas sebagai keamanan.
Beriringan dengan lantunan musik di telinganya, pikiran Melisa kembali melayang pada kejadian kemarin lusa, saat dia sedang asik merapikan kamar tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal di Handphone-nya. Karena takut ada hal penting, akhirnya Melisa memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
Tapi belom sempat Melisa menyapa, si pemanggil tiba-tiba saja memutuskan panggilan secara sepihak. Saat Melisa hendak menghubungi balik, nomernya tidak dapat dihubungi, bahkan sampai sekarang.
Melisa sempat mengecek nomer itu di salah satu aplikasi yang bisa memperlihatkan siapa nama dari sang pemilik nomer. Dan ada beberapa tag nama yang membuat Melisa masih bertanya-tanya, tentang kebenarannya. Yaitu : Wali Livi Yuandara, Livi's mom dan Momsnya Gibran.
"Kalau bener itu nomer Mamanya Gibran, kira-kira dia mau ngomong apa ya? Dan kenapa nomernya belom aktif sampai sekarang?" gumam Melisa.
"Mell?" panggil Via dengan mata yang masih terpejam.
"Kenapa, Vi?"
"Masih lama nggak?"
"Baru setengah perjalanan, kamu tidur lagi aja, nanti kalau udah sampai aku bangunin."
"Hmmm."
Melisa menatap wallpaper layar kuncinya, ada foto saat dia ulang tahun, lengkap dengan Rere, Via, Livi dan Gibran di sampingnya, tangan Gibran melingkar memeluk pinggang Melisa.
"Aku sayang banget sama kalian."
Melisa kembali hanyut dalam setiap bait lagu yang ia denger, sampai tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
"Melisa?"
"Iya?" Melisa melepas headsetnya, menoleh ke arah Fais yang kini berdiri di dekat kursinya.
"Kamu ada bawa minyak kayu putih nggak?"
"Ada---" Melisa merogoh tasnya, lalu menyerahkan barang yang Fais butuhkan.
"Aku pakai ya, soalnya aku lupa bawa."
"Iya pakai aja."
Sejak kejadian di lapangan basket, Fais benar-benar tidak pernah lagi menganggu Melisa, mereka layaknya seperti temen biasa, tetap saling menyapa dan tidak ada dendam atau apapun itu di antara mereka.
...****************...
...Hutan Pinus XXX...
Melisa turun dari bus, dengan membawa barang-barang miliknya dan juga milik Rere, karena gadis itu sekarang sedang sibuk menanyakan lokasi yang sudah mereka pesan sebelumnya, apakah sudah dikosongkan?
"Eh bentar, Mel, tunggu di sini!" Via berlari ke arah Fais yang jongkok di ujung jalan sana, terlihat Via mengelus tengkuk pria itu, sepertinya dia mabuk perjalanan.
"Melisa?"
Melisa yang mendengar seseorang memanggilnya dengan suara yang begitu familiar itu malah diam, tidak membalikkan badannya, sampai panggilan itu terdengar lagi.
"Melisa?"
__ADS_1