Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01 : Minta Bantuan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, secerah senyum yang terpancar dari wajah Gibran. Masih pagi, namun pria itu sudah bersenandung ria di dapur, menyiapkan dua cangkir teh hangat untuk dirinya dan Rozi.


Jadi begini ceritanya : Semalam Gibran meminta nomer WhatsApp Melisa, tidak berharap akan langsung dikasih juga, tapi siapa sangka, Melisa malah memberikan lebih dari yang Gibran harapkan.


"Kalian udah ngapain aja semalam?!" tanya Rozi yang sudah dibuat mati penasaran oleh wajah ceria Gibran.


"Nggak ada, cuman cerita beberapa kisah horor aja!"


"Udah seakrab itu kah sekarang?" Rozi memperhatikan Gibran yang nampak senyum-senyum sendiri.


"Bisa dibilang gitu? Rencananya gue mau ngajakin dia keluar nanti malam, apa menurut lu ini nggak kecepatan?"


"Ya kalo dia mau sih nggak apa-apa, inget jangan terlalu gegabah!"


"Gue tau!"


Gibran menyesap teh hangatnya. Sekarang Gibran tau cara apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan hati Melisa!


"Aku pastiin kali ini dapat!"


...****************...


Melisa tidak bisa melupakan kejadian semalam. Suara Gibran terus terngiang di telinganya.


Semalam saat Gibran meminta nomer WhatsApp, Melisa langsung memberikan. Karena Melisa juga ingin mencoba menerima kehadiran Gibran.


Dan saat Gibran izin untuk melakukan panggilan WhatsApp, Melisa pun menerima. Mereka tidak banyak mengobrol, hanya saja Melisa menikmati kisah horor yang Gibran ceritakan.


"Door!"


Melisa tersentak kaget. Si pelaku malah cengir kuda dan memasang wajah tanpa dosa.


"Masih pagi udah ngelamun aja! Ngelamunin apa sih?!"


Via meletakkan tasnya di atas meja. "Atau jangan-jangan lagi ngelamunin Om Gibran, ya?"


"Apaan sih, Vi. Emang nggak ada cowok lain apa selain dia?!"


"Ada banyak sih, tapi kayaknya Nona Melisa lagi tertarik sama dia?!"


"Sussst berisik! Masih pagi!" Melisa mengeluarkan kunci lokernya. "Aku mau ngambil sesuatu dulu! Mau ikut nggak?"


"Ikut-ikut! Sekalian mau cuci mata!"


"Dasar!"


Kedua gadis itu berjalan menuju lantai satu, tempat penyimpanan barang untuk semua siswa ada di sana.


"Selamat pagi Kak!" sapa salah seorang siswa kelas X pada Via dan Melisa.


"Selamat pagi juga!" jawab Via full senyum.


"Bisa nggak usah ngenit sehari aja?" bisik Melisa.


"Nggak bisa, udah terlanjur gatel dan pengen digaruk soalnya!"


Melisa menggeleng pelan. Dia tak peduli lagi, terserah anak manusia bernama Via itu mau melakukan apapun yang ia suka! Terserah!


Dari jarak cukup dekat, Livi terus memperhatikan Kakak Kelas yang sedang berdiri di depan loker. Gadis itu perlahan mendekat dan -


Brukkk...


"Maaf, aku nggak sengaja!" Livi berjongkok untuk memungut barang Melisa yang jatuh karena ulahnya. Ia sempat membaca bet nama yang terpampang jelas di seragam sekolah Melisa.


"Emm, nggak apa-apa." Melisa mengambil barangnya dari tangan Livi. Tapi matanya tak sengaja membaca bet nama gadis itu.


"Sekali lagi maaf ya, Kak!"


"Iya."


Melisa menoleh saat Livi sudah cukup jauh darinya. "Livi Yuandara? Apakah dia orangnya?" gumam Melisa.


"Cewek tadi siapa?" tanya Via yang baru saja selesai meladeni mangsa barunya.


"Entah, dia nggak sengaja nabrak aku!"


"Siapa namanya?"


"Udahlah, nggak penting!" Melisa segera menyeret Via. Kembali lagi ke lantai tiga.

__ADS_1


Sementara itu, Livi masih memperhatikan dua kakak kelas yang baru saja melewati kelasnya. Gadis itu tersenyum, "Dengan melihat satu fotonya saja aku bisa menandai dia dengan begitu tepat! Ternyata dia gadis yang membuat Kak Gibran jatuh cinta pada pandangan pertama itu? Melisa Dwi Pratiwi, nama yang cantik, seperti wajah dan senyumnya!"


Livi kembali masuk ke kelas. Rasa penasarannya dengan sosok Melisa terbayar sudah!


...****************...


Gibran melirik ke arah jam tangannya. Pukul 5 sore, waktunya untuk pulang, lagi pula pekerjaannya sudah selesai sejak tadi, seharusnya ia sudah pulang mandi dan bersantai. Tapi makhluk hidup yang bernama Rozi itu malah meminta tolong padanya untuk membantu menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi!


"Bagaimana ya kabar gadis manisku hari ini?" gumam Gibran. Gibran mengeluarkan Handphone-nya dari saku celana, tanpa dicari kontak Melisa ada diurutan teratas. Disematkan.


^^^Gibran :^^^


^^^Melisa?^^^


Si Manis :


Iya?


^^^Gibran :^^^


^^^Aku lagi sedih^^^


Si Manis :


Kenapa?


Ada masalah kah?


^^^Gibran :^^^


^^^Ada^^^


^^^Masalahnya aku belum ngeliat kamu hari ini.^^^


^^^Ada banyak kerjaan di kantor, jadi nggak sempet buat jemput Livi.^^^


Si Manis :


Kirain masalah apa:v


^^^Gibran :^^^


Si Manis :


Iyain


^^^Gibran :^^^


^^^Nggak ada niatan buat ketemu aku?^^^


Si Manis :


???


^^^Gibran :^^^


^^^Nanti malem, bisa nggak?^^^


^^^Kalo nggak bisa, nggak apa-apa, masih ada waktu lain.^^^


Si Manis :


Mau ketemu di mana?


^^^Gibran :^^^


^^^Nanti aku share lokasi^^^


^^^Atau mau aku jemput?^^^


Si Manis :


Share lokasi aja


^^^Gibran :^^^


^^^Oke sampai ketemu Melisa^^^


...----------------...

__ADS_1


Melisa mematung di depan kaca. Bingung sekarang harus melakukan apa, memberitahu dan mengajak Rere dan Via? Atau pergi sendiri saja?


"Tapi kalo diingat-ingat lagi aku masih malu buat ketemu dia!! Apa aku bilang nggak jadi aja?"


Gadis itu mengigit jarinya, berpikir. Bisa dibilang jika ia keluar berdua dengan Gibran malam ini, maka itu akan menjadi kencan pertamanya?


"Gimana ini, aku nggak punya pengalaman apa-apa!"


Melisa akhirnya menyerah. Dia akui, dipayah dalam urusan percintaan! Jadi dia butuh bantuan seseorang sekarang!


"Hallo, Vi. Kamu sibuk nggak?"


"Nggak, Mel? Kenapa?"


"Bisa datang ke rumah?"


"Oke otw!"


"Cepet ya!"


"Tentu!"


Hups. Sekarang kesampingkan rasa malu! Lagipula dia Via, tidak perlu malu padanya! Seharusnya begitukan dari awal?


15 menit kemudian.


"Melisa? Are you oke?" Via sudah berdiri di depan pintu kamar Melisa, gadis itu terlihat sedikit panik.


"Kamu kenapa, Vi? Abis dikejar setan?!"


"Huh, kamu tiba-tiba nelpon dan nyuruh aku buat datang ke rumah, tentu aku sedikit panik! Takut kamu kenapa-kenapa! Tapi serius kan, kamu nggak apa-apa?!" Nada khawatir yang berlebihan.


"Nggak apa-apa. Cuman aku butuh bantuan kamu sekarang!"


"Aku siap bantu! Mau dibantuin apa?"


"Emmm-" Melisa menatap lemari, lalu kasur, langit-langit kamar, lalu pindah ke lantai. Tidak berani menatap Via. "Aku ada janji sama seseorang nanti malam!"


"What? Sama siapa?" tanya Via heboh. "Jangan-jangan sama Om Gibran? Iya, kan?!"


Melisa hanya mengangguk pelan.


"Akhirnya.... Melisaku mau bermain api cinta juga! Huh, aku seneng banget!" Via loncat dan langsung memeluk Melisa, bergoyang ke kanan dan kiri.


"Sebenarnya kamu kenapa, Vi? Ini terlalu berlebihan!"


"Melisa! Asal kamu tau, aku setiap hari terus merhatiin kamu! Dan dari hasil pengamatanku, kamu jarang banget berinteraksi sama lawan jenis, kalo pun iya pasti sama Fais! Jadi aku mulai takut kamu mati rasa atau bahkan nggak tertarik lagi sama cowok!"


Cletak. Satu sentilan mendarat di jidat Via.


"Aku cuman males ya, nggak mati rasa juga! Apalagi bakalan tertarik sama sesama jenis! Jangan aneh-aneh!"


"Jadi, sejak kapan kalian sedekat ini? Sampai mau pergi kencan segala?!" tanya Via.


"Bingung harus cerita darimana! Tapi intinya sekarang aku butuh bantuan kamu!"


"Oke-oke, tapi lain kali kamu harus cerita ya!"


Sebenarnya Via sudah tau semua, karena Gibran juga selalu menceritakan semua hal tentang Melisa padanya. Mulai dari Melisa yang kembali merespon chatnya, lalu mereka pernah bertemu di sekolah ya walaupun dari ke jauhan, dan yang terbaru adalah, Gibran berhasil mendapatkan nomer WhatsApp Melisa dan bisa langsung mengobrol lewat sambungan telepon semalam!


"Awalnya sih nggak mau! Tapi sekarang?" Via bergumam sambil memilih setelan yang cocok untuk kencan pertama sahabatnya.


"Huh, ini kayaknya cocok!"


Melisa menatap kaos putih, celana dan jaket jeans abu di atas kasur.


"Ini cocok buat kamu, lagipula lemarimu isinya kaos putih sama kaos item semua! Gaun? Jangan harap aku nemuin di sini!"


Sekarang giliran Melisa yang cengir kuda.


"Kamu tau kan, aku agak kesusahan kalo pakek gaun! Lagi pula aku nggak ada acara penting yang harus dihadiri pakek gaun!"


"Iya-iya, sekarang kamu mandi yang bersih, aku tungguin di sini!"


Via berbaring di atas kasur Melisa, ia tidak heran lagi jika Melisa meminta bantuan padanya sekarang. Karena Via kenal betul seperti apa Melisa, gadis yang payah dalam percintaan!


Berbeda dengan Via yang seorang buaya betina.


"Ya, besok kita ketemu di kantin sekolah!" ucap Via sebelum menutup telpon dari gebetan barunya.

__ADS_1


"Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa dapetin berondong juga!"


__ADS_2