
Pukul 06.20
Setelah mandi dan selesai memakai seragam sekolahnya, barulah Melisa turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama, tanpa pernah membuka Handphone-nya lagi, terakhir ia buka semalam sebelum ketiduran saat sedang telponan dengan Gibran!
Arkan tersenyum melihat kedatangan Melisa, begitu pun Erlan yang langsung pindah duduk di samping Melisa.
Arkan bangkit dari duduknya, berdiri tepat di belakang kursi makan Melisa. Remaja itu berbisik pelan pada sang Kakak -
"Happy Birthday, Kak Melisa. Emmmuach---" Satu kecupan lembut jatuh di pipi kanan Melisa, disusul oleh tawa jahil Arkan. Jangan ditanya lagi bagaimana ekspresi Melisa, pipinya merah merona, malu dan salah tingkah sendiri!
"Nih, langsung dipakai yakk!" Arkan menyerahkan kotak hitam yang dihiasi pita putih pada Melisa, gadis itu tersenyum saat menerimanya.
"Ini?"
"Anggap aja kado pembukaan dari Arkan!" ucap remaja itu dengan senyuman yang menampakkan lesung pipitnya!
"Terimakasih, Arkan---" Melisa menatap Arkan dengan air mata yang sudah berlinang.
"Mau peluk?" Arkan merentangkan tangannya lembar-lembar, tidak butuh waktu lama Melisa sudah berada dalam pelukannya.
"Kak Melisa...." Erlan menarik seragam sekolah Melisa. "Erlan juga punya sesuatu buat Kakak!"
"Em?" Melisa memperhatikan tangan Erlan yang mengambil sesuatu dari bawah meja makan.
"Happy Birthday, Kak Melisa...." Sebuah kotak ukuran sedang Erlan berikan pada Kakak Perempuannya itu.
"Aaa, terimakasih, Erlan..." Melisa memeluk Erlan erat, bahkan gadis itu tersenyum saat Erlan meminta izin untuk mengecup kedua pipinya
"Boleh dibuka sekarang?"
Erlan menggeleng.
"Ya udah, Kak Melisa simpen dulu, ya. Nanti dibuka. Kalo yang ini?" tanya Melisa pada kado yang Arkan berikan.
"Buka dan langsung pakai sekarang!"
"Emang apa isinya?"
"Buka aja!"
Sebuah jam tangan berwarna hitam yang langsung membuat Melisa jatuh cinta ketika melihatnya.
"Suka?" tanya Arkan.
"Suka bangettttttt! Terimakasih ya, Arkan!" Seolah belum puas dengan pemberian Arkan, Melisa malah mengulurkan tangannya, minta dipasangin langsung oleh Arkan.
"Cantik--" gumam Arkan, tapi bukan ia tunjukan pada jam tersebut, melainkan pada sang Kakak.
"Jangan gitu ngeliatin!!!" kesal Melisa dengan wajah yang kembali merona.
"Oh, ya, Mama mana?" tanya Melisa karena tak kunjung melihat sang Mama, bahkan sampai mereka semua menghabiskan sarapannya.
"Lah, emangnya tadi malam, Mama nggak pamitan sama Kakak?"
__ADS_1
"Pamitan? Ke mana?"
"Astaga, mungkin Mama lupa ya? Ituloh, katanya ada kendala di tempat kerja Ayah, jadi Ayah minta Mama juga buat nyusul ke sana!"
Melisa diam sejenak, semalam saat ia bertemu Mama, ia juga merasa aneh, karena Mamanya memakai pakaian rapi, tapi Melisa tak kepikiran untuk bertanya, mau ke mana sang Mama?
"Permisi, Non Melisa, Pak Tio sudah menunggu Anda."
"Iya, tunggu sebentar...." Melisa membersihkan ujung bibirnya menggunakan tisu, lalu memakai tasnya.
"Ayo, samaan. Nanti kalian telat!" ajak Melisa pada Arkan dan Erlan.
* * * * * *
Di perjalanan menuju sekolah, Melisa malah teringat kembali dengan kejadian semalam, yang dirinya sendiri masih ragu, itu antara sebatas mimpi atau memang benar-benar terjadi.
"Tapi aku dengernya jelas banget loh. Masak iya cuman mimpi?" gumam Melisa.
Melisa mengeluarkan Handphone-nya dari dalam tas, banyak notifikasi masuk di WhatsApp-nya. Salah satunya notifikasi dari Fais, yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya tepat pada jam 00.02.
Raut wajah Melisa yang tadi tersenyum, malah berubah, karena dari sekian banyak pesan masuk, tak ada satupun pesan dari Gibran, padahal dia online 15 menit yang lalu!
"Nona? Nona Melisa?" panggil Pak Tio, membuat Melisa tersadar dari lamunannya.
"Iya, Pak?"
"Kita udah sampai, Non."
"Pagi, Mel!" sapa Rere saat berhadapan dengan Melisa.
"Pagi, Re."
"Em----" Rere memperhatikan Melisa dari atas sampai bawah, semuanya aman. Tidak ada pelanggaran!
Rere mengangguk dua kali, pertanda bahwa Melisa boleh melanjutkan langkahnya menuju kelas.
"Sampai ketemu di kelas!!" ucap Melisa, hanya dibalas anggukan dan senyuman oleh Rere.
"Khemmm!" Melisa meletakkan tasnya, melirik ke arah Via yang sibuk dengan Handphone-nya.
"Pagi, Mel." sapa Via, namun tatapannya masih fokus pada benda pipih di tangannya.
"Pagi---" Melisa berusaha untuk mengintip Handphone Via. Namun gadis itu langsung membalikkan posisi Handphone-nya.
"Ih, main rahasia-rahasiaan ya sekarang!" ketus Melisa.
"Susssst....." Via kembali memainkan Handphone-nya, tapi dengan posisi aman, yang tidak memungkinkan Melisa untuk mengintipnya.
"Eh, nanti pulang sekolah temenin aku yakk!" ucap Via.
"Ke mana?"
"Mau nonton, bisa kan?"
__ADS_1
"Emmm, boleh, sama Rere juga kan?"
"Iya."
* * * * *
Semua siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas, setelah bel keluar main terdengar, begitu pun dengan Melisa dan teman-temannya. Namun langkah Melisa tiba-tiba terhenti, saat seorang adik kelas masuk ke dalam kelasnya, dengan membawa buket bunga, tatapannya terhenti pada Melisa.
"Happy Birthday, Kak Melisa..." Buket cantik itu diberikan kepada Melisa dengan senyum tulus di wajah tampannya. Melisa menoleh ke kanan dan kiri, seisi kelas sekarang menatap ke arahnya.
"Untukku?" tanya gadis itu bingung. Antara bahagia, canggung, dan malu.
"Iya, untuk Kak Melisa."
"Emmm, terimakasih, ya."
"Sama-sama, Kak." Reno tersenyum dengan ekspresi wajah yang begitu tenang kepada semua mata yang menatapnya, lalu tanpa mengucapkan apapun lagi, pria itu meninggalkan kelas Melisa.
"What?" Rere dan Via sampai tak bisa berkata apapun lagi saking kagetnya. Mereka berdua tidak menyangka kalau nyali Reno sebesar itu!
"Khemmm, ke kantin yukk!" Melisa menyeret lengan Via setelah meletakkan buket tadi di atas meja, tak kuat menahan malu akibat digodain teman-teman kelasnya.
Di kantin Melisa malah celingak-celinguk mencari Livi, dia tidak pernah melihat gadis itu sejak tadi pagi!
"Nyariin siapa, Mel?"
"Livi! Dia masuk nggak?"
"Masuk kok, tadi aku ketemu di depan gerbang!" jawab Rere.
"Tumben nyariin, biasanya kan Livi nyariin kamu, emang ada apa?" tanya Via.
"Nggak apa-apa, sih."
"Eh, Mel. Gimana sama si Reno?"
"Gimana apanya?"
"Ih, jelas-jelas loh dia suka sama kamu, dari waktu kita di pantai--- inget?"
"Emm, gimana ya, waktu itu, pas kamu lagi sibuk ngebucin sama si Hito, terus Rere ninggalin aku berdua sama tuh bocah, aku sempat ngomong ke dia, aku nggak bisa terima kalau dia mau lebih dari sekedar Kakak dan adik kelas, dan dia juga bilang, nggak apa-apa, karena perasaan juga nggak bisa diatur dan dipaksa, 'kan?"
"Sumpah? Reno ngomong gitu?"
"He'em."
"Gila sih tuh anak!" ucap Rere.
"Selama ini dia nggak ada ngechat atau apa gitu?" tanya Via. Melisa menggeleng pelan.
"Bisa-bisanya, anak kelas sepuluh suka sama kamu, Mel!!!"
"Huh... Aku juga nggak tau kenapa bisa kayak gini, setelah Fais, muncul lagi Reno---" Melisa pusing sendiri dengan situasi sekarang, bukannya apa, tapi Melisa tidak ingin menimbulkan kekecewaan lagi ketika seseorang menyukainya! Jika boleh berharap, cukup Fais saja yang ia pernah kecewakan, jangan ada lagi Reno atau siapapun lagi setelahnya!
__ADS_1