
Begitu mobil berhenti di halaman rumah Gibran, jantung Melisa kembali berdegup dengan kencang, sampai-sampai Melisa rasa kalau jantungnya akan copot saking keras degupannya. Gadis 18 tahun itu diam terpaku mengatur pernapasannya.
Gibran menoleh, menatap lekat Melisa yang masih duduk diam di sampingnya, pria itu meraih kedua tangan Melisa, mencoba untuk kembali menenangkan kekasihnya.
"Kamu nggak sendiri, ada aku, aku akan selalu nemenin kamu, Sayang!" ucap Gibran. Gibran memegang kedua pipi Melisa, mengelusnya pelan sambil sesekali merapikan anak-anak rambut Melisa. Mata Melisa terpejam merasakan sentuhan tangan Gibran.
"Makasih ya karena udah buat aku selalu merasa nyaman." Tangan Melisa memegang punggung tangan Gibran yang masih menangkup kedua pipinya.
Melisa membuka mata, menatap wajah Gibran yang tersenyum tenang, Gibran benar-benar meyakinkan Melisa kalau semuanya akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu Melisa khawatirkan terlebih Gibran akan selalu ada di dekanya. Gibran turun dari mobil terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Melisa.
Keduanya berjalan bersamaan menuju pintu depan, sebelum membuka pintu, Gibran menoleh lagi pada Melisa, diraih dan digenggamnya tangan gadis itu.
Hesti yang melihat kedatangan Gibran langsung bangun dari duduknya, begitu pun dengan Livi, sementara Tuan Yohan masih asik membaca koran di halaman belakang. Bukan tak ingin menyambut, hanya saja ia tidak menyadari kedatangan Gibran dan Melisa.
"Kak Melisaaa."
Dengan penuh senyuman Livi menyambut kedatangan Melisa, bahkan gadis itu memeluk Melisa seperti orang melepas rindu yang tak kunjung temu. Melisa yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Livi pun mulai berani menatap ke arah Mama Hesti.
Tanpa di duga, Mama Hesti membuka kedua tangannya, memeluk singkat Melisa yang hanya mematung saking kagetnya sampai tidak tau harus merespon apa.
"Kita pernah bertemu kan sebelum ini?" ucap Mama Hesti, ia ingat betul kalau gadis di hadapannya sekarang ini adalah gadis yang sama dengan gadis yang tidak sengaja menabraknya saat di minimarket. Gadis yang pernah ia ceritakan juga pada Livi.
Melisa diam sejenak, mencoba mengingat-ingat. "Ya Tuhan, maaf ya, Tante, Melisa benar-benar nggak sengaja waktu itu," ucap Melisa spontan setelah mengingat kejadian di minimarket. Pantas saja Melisa tidak asing dengan wajah Mama Hesti.
"Loh, Ma? Mama pernah ketemu sama Melisa?" Gibran yang melihat itu pun terheran, sama halnya dengan Livi. Namun Mama Hesti hanya menjawab dengan senyuman, masih dengan senyuman yang sama wanita yang masih tampak muda dari usianya itu mempersilakan Melisa untuk duduk, bahkan Mama Hesti dan Livi mengapitnya.
Ada perasaan lega di hati Gibran melihat ketiga wanita yang ia sayang bisa mengobrol dengan senyuman di wajah mereka, walaupun Gibran masih melihat ada raut canggung di wajah Melisa.
Sambutan dari Mama Hesti dan Livi tentu saja membuat Melisa merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka, terlebih lagi Mama Hesti yang tidak banyak bertanya dan mengintrogasi Melisa, tidak ada hal yang membuat Melisa merasa tidak nyaman.
Berada di dekat Mama Hesti membuat Melisa merasakan hal yang sama ketika ada di dekat Mamanya, Mama Hesti menawarkan beraneka ragam cemilan, mulai dari yang manis, pedas, bahkan sampai satu meja ruang tamu itu dipenuhi oleh toples cemilan seperti sedang menyambut moment besar.
Obrolan di antara mereka terus berlanjut, Mama Hesti terlihat benar-benar antusias menceritakan masa kecil Gibran dulu, Mama Hesti sendiri yang menyebutkan kalau dia belum pernah melihat Gibran sesayang ini pada wanita manapun sebelumnya! Sampai-sampai foto Melisa memenuhi galeri Handphone pria itu, bukan hanya di Handphone tapi pada laptopnya juga terpajang foto berdua dengan Melisa.
Mendengar itu, Gibran tak membantah atau menghentikan Mamanya, memang fakta, memang sebucin dan sedalam itu perasaan Gibran pada Melisa.
Obrolan mereka terhenti saat Tuan Yohan datang, saking asyiknya, mereka sampai lupa memanggil Tuan Yohan di taman belakang rumah dan memberitahu kedatangan Melisa dan Gibran.
"Nah, kalau udah asik gini, nggak ada yang ingat Papa yaaa--" ucap Tuan Yohan, ia menatap sekilas ke arah Melisa dengan senyuman.
"Hehehe, maaf, Pa, Livi juga lupa."
"Gibran, ikut Papa sebentar," ucap Tuan Yohan, Gibran menatap Melisa sejenak sebelum akhirnya mengikuti langkah Papanya ke taman belakang.
Tuan Yohan meminta Gibran untuk duduk di sampingnya, tepat di kursi kayu yang berada di pinggir kolam.
"Gibran---" panggil Tuan Yohan, namun dengan tatapan yang fokus ke depan, melihat air kolam yang begitu tenang.
__ADS_1
"Iya, Pa."
"Sekarang, kamu udah besar, udah dewasa, tentu juga udah tau mana yang baik dan buruk untuk diri kamu sendiri, Papa nggak bakal nolak keputusan yang kamu ambil, karena Papa yakin, sebelum kamu melangkah sejauh ini, kamu pasti sudah sanggup dengan semua konsekuensi yang akan terjadi nanti-"
"Dulu, saat Papa jatuh cinta pada Mamaku, Papa persis seperti kamu, mau sebanyak apapun wanita yang cantik di luar sana, tatapan dan hati Papa hanya tertuju ke Mamamu, nggak pernah berubah, Papa juga berjuang habis-habisan untuk membuat Mamamu selalu ada di sisi Papa. Dan sekarang, kamu melakukan hal yang sama untuk gadis itu, kan? Kamu menolak Euni, bahkan kamu mempertaruhkan nyawamu sendiri di hadapan Felix!"
"Papa tau itu?" lirih Gibran.
Tuan Yohan tersenyum tipis. "Kamu pikir Papa tidak mengawasi selama ini? Kamu pikir Papa tidak tau semua yang sudah kamu lakukan di luar sana? Bahkan Papa tau sudah berapa kali kamu bertemu gadis itu, ke mana saja kalian pergi, atau apa saja yang sudah kalian lakukan!"
Tangan kanan Tuan Yohan merangkul bahu Gibran. "Papa nggak punya alasan buat bilang nggak, doa dan restu Papa selalu menyertai kalian berdua!"
Tak dipungkiri lagi pasti Gibran sangat amat bahagia mendengar ucapan Papanya, kekhawatiran dalam benaknya akhirnya terjawab juga. Rasa khawatir yang sempat ia rasakan langsung hilang seketika.
"Terimakasih, Pa!"
Tuan Yohan menyambut pelukan dari Gibran, meski usia Gibran sudah sangat dewasa, tapi tetap saja di mata seorang ayah, Gibran seperti bocah kecil yang akan selalu butuh kasih sayang darinya.
Setelah pelukan yang cukup lama jtu terlepas, keduanya pun kembali ke ruang tengah, terlihat ada Mama Hesti yang sedang mengobrol dengan Melisa.
"Seleramu tak beda jauh ya dengan Papa." Canda Tuan Yohan ketika melihat istrinya dan Melisa mengobrol, memang jika dipikir-pikir, Mamanya dan Melisa memiliki beberapa kemiripan, mulai dari selera makanan, keduanya sama-sama menyukai makanan pedas.
Bahkan menurut Tuan Yohan, ia seperti melihat Mama Hesti dalam versi muda lagi ketika melihat Melisa, tutur kata dan gaya bahasa mereka hampir sama, berbicara dengan nada rendah dan lembut.
"Cobain ini, ini menu favorit Livi." Mama Hesti meletakkan sepotong paha alam dengan bumbu merah pedas di atas piring Melisa. Tak hanya itu, ia menawarkan hampir semua menu yang ada di meja makan untuk dicicipi oleh gadis yang sengaja ia suruh duduk di sampingnya.
"Maaf ya, Melisa, Mamanya Gibran memang seperti itu, dia terlalu senang dengan kedatanganmu."
"Em, nggak apa-apa, kok, Om. Melisa juga senang bisa ketemu sama Om dan Tante."
"Kok, Om sama Tante lagi sih, Mel. Panggil Mama Papa aja, Nak." ucap Mama Hesti yang sudah gemas dari tadi.
"Eh, iya, maaf, maksudnya Pa-papa dan Mama."
Senyum bahagia jelas terlukis di wajah Melisa, gadis mana yang tak merasa bahagia jika diperlakukan dan disambut dengan baik di keluarga pria yang ia cinta? Tentu saja hal seperti itu yang diharapkan oleh setiap gadis, berharap keluarga pasangannya bisa menerima kehadirannya dengan tangan terbuka!
Seolah tak puas dengan kehadiran Melisa hari ini, Mama Hesti meminta Melisa untuk datang lagi dan sering-sering main ke rumah, bahkan kalau Melisa ada waktu senggang, Mama Hesti ingin mengajaknya untuk jalan-jalan.
"Kalau ada waktu luang, main ke sini ya, jangan sungkan, datang saja walaupun tidak dengan Gibran!" ucap Mama Hesti. Wanita itu seolah tak rela melepas kepulangan Melisa.
"Iya, Ma, kapan-kapan ya Melisa datang lagi."
Mama Hesti memeluk Melisa, menatap lekat wajah gadis itu. "Terimakasih ya udah hadir di hidup Gibran."
Dengan senyuman tulus, Melisa mengangguk pelan. "Terimakasih juga, karena Mama mau menerima kehadiran Melisa."
Mama Hesti kembali memeluk Melisa, walaupun masih ingin mengobrol dan membicarakan banyak hal bersama tapi tetap saja ia harus membiarkan Melisa pulang dan balik ke keluarganya, tidak mungkin Mama Hesti menahan Melisa seharian penuh di rumahnya, yang ada malah Melisa merasa jenuh juga.
__ADS_1
"Hati-hati, ya bawa mobilnya."
"Iya, Ma."
"Jangan terlalu larut pulangnya."
"Siap, Ibu negara."
Mobil Gibran pun melaju meninggalkan halaman utama, meninggalkan senyuman di wajah Mama Hesti yang menatap kepergian mereka.
"Semoga dialah wanita yang ditakdirkan untuk mendampingi hidup Gibran." Batin Mama Hesti.
*******
Gibran menggandeng tangan Melisa menelusuri bibir pantai, hembusan angin pantai menyapu permukaan kulit keduanya, pantulan cahaya senja yang begitu indah akhirnya menghentikan langkah keduanya, tepat menghadap pada sang Surya yang memancarkan keindahan.
Baik Melisa ataupun Gibran tak mengucapkan sepatah kata, tatapan Melisa fokus ke depan, seolah tersihir dengan keindahan yang bukan kali pertama ini saja ia lihat, tidak ada kata bosan dan tidak kagum dari Melisa, karena setiap senja yang hadir memiliki keindahan dan pesonanya masing-masing.
"Melisa Dwi Pratiwi." panggil dengan suara yang begitu pelan, hingga membuat Melisa langsung mengalihkan pandangannya.
Sekarang Melisa sadar, ada yang mampu menyihirnya selain keindahan senja, yaitu pandangan dari pria di hadapannya!
"Terimakasih untuk segala-galanya, terimakasih karena sudah mengizinkanku mengenalmu, mengizinkanku masuk ke dalam kehidupanmu, bahkan memberikan tempat bagiku di hatimu, untuk setiap waktu yang kamu berikan padaku, aku berterimakasih banyak untuk semua hal itu. Terimakasih juga karena sudah bersedia ada di sisiku selama ini, untuk kedepannya, aku sangat berharap untuk bisa seperti ini, lagi dan lagi, kamu di sisiku, aku di sisimu, kita berdiri dan berjalan dengan langkah dan tujuan yang sama, menuju sebuah kebahagiaan. Maka dari itu, bersediakah engkau untuk terus ada sisiku, menemani dan mendampingiku sampai akhir napasku?"
Disaksikan oleh langit senja, Gibran berjongkok di hadapan Melisa, dengan sebuah kotak cincin yang terbuka di tangan kanannya.
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Melisa menganggukkan kepalanya. "Aku bersedia."
Seulas senyuman menghiasi wajah tampan Gibran, lantas disematkannya cincin permata yang ia siapkan sejak sebulan yang lalu itu di jari manis Melisa.
"Anggap saja ini sebagai sebuah pengikat, karena aku terlalu takut kehilangan gadis yang sudah berhasil meluluh lantakkan hatiku ini!"
Melisa mendekap tubuh Gibran, erat. Gadis itu tak mampu menyusun kata-kata untuk mengutarakan kebahagiaan, bahkan cukup dengan melihat senyuman di wajah Gibran saja, dia susah sangat bahagia.
Setiap butiran pasir yang mereka pijak menjadi saksi kebahagiaan dua insan yang saling mencintai dengan ketulusan, kesabaran dan pengorbanan itu. Terlebih sosok Gibran yang akan dengan sabar menunggu kesiapan Melisa untuk menjadi sosok pendamping hidupnya, sampai waktu yang tepat, keduanya akan terikat dengan sebuah janji suci pernikahan yang mereka ucapkan.
...- TAMAT -...
...****************...
Sebelumnya, terimakasih banyak untuk yang udah ngikutin Cerita "Om Gibran?" sampai bab ini, terimakasih sebesar-besarnya untuk dukungan yang udah diberikan. Peluk jauh untuk semuanya 😚🥺❤️
Q : Thor, kok cepet banget tamatnya, terkesan terburu-buru, kan Gibran belum dapetin hatinya Erlan? Melisa juga belum tamat sekolah, kan? Mereka belum nikah loh, Thor, belum punya anak! Terus gimana nasib Via dan Rere? Terus si duda anak satu Rozi, gimana? Atau Livi, dia sama siapa, Thor? Arkan juga Arkan?? Jangan lupa Euni, Thor!
Hehehe, maaf ya sebesar-besarnya, dari awal emang udah direncanain begitu, kalau nggak ada halangan, author bakal lanjutin lagi, tapi untuk season ini, sampai sini dulu yakkk, takut buat lanjutin karena belum nemu konsepnya, kalo dilanjutin lagi nanti kesannya memaksakan cerita dan hancur alur ceritanya, jadi nggak apa-apa yaa, sampai sini dulu, ya, ya, ya!!! (Maksa😭)
Em, kalo gitu semoga kita bisa ketemu lagi dengan season selanjutnyaaaaa, sehat dan bahagia selalu yaaa semuanya, love you 😚🥺❤️
__ADS_1