
Melisa terdiam setelah mendengar penjelasan Via, mulai dari kejadian yang menimpa mereka sampai kejadian di mana dia harus dibawa ke rumah sakit oleh Ayah dan Gibran.
"Jadi tadi malam Gibran liat kalau Kak Chandra yang gendong aku turun dari bus?"
Via mengangguk pelan.
"Tapi dia tadi nggk ada bahas itu," lirih Melisa.
"Mungkin dia nggak mau nyari masalah, Mel. Semalam juga Kak Chandra sempet DM aku sih, nanyain keadaan kamu, tapi aku belum jawab."
Melisa hanya mengangguk pelan mendengar ucapan Via.
"Oya, Mel, maaf ya kemarin aku sempet buka HP kamu buat liat foto yang kamu ambil di air terjun."
"Terus gimana? Fotonya ada, nggak?" tanya Melisa penasaran.
"Nggak ada, Mell!"
Melisa dan Via saling menatap, sama-sama masih tidak percaya dengan kejadian yang mereka alami.
"Habis dari sini, aku mau jengukin Fais juga sama anak-anak yang lain. Sebenarnya mereka juga mau ke sini tadi, tapi Tante Tania nggak ngizinin."
Melisa mengangguk faham. "Nggak apa-apa, Vi. Aku ngerti kok, titip salam ya buat Fais sama temen-temen yang lain!"
"Iya, Mel, kamu istirahat yang benar, biar cepet sembuhhhhh, jangan malah ngebucin terus!!"
"Hahaha, iya, Viaa, iyaaaaa----"
Via memeluk Melisa sebelum meninggalkan gadis itu.
Kurang dari dua hari di rumah sakit, Melisa sudah meresa bosan dan minta untuk pulang, lagi pula ia merasa sudah jauh lebih baik sekarang, hanya saja masih sedikit lemas.
"Gimana, Ma? Melisa boleh pulang, kan?"
"Satu jam lagi Dokter akan memeriksa keadaan Melisa, kalau emang sudah lebih baik, Dokter akan membolehkan Melisa buat pulang, oke. Sabar ya, Sayang."
Melisa mengangguk pelan lalu menerima air madu yang Mamanya tawarkan.
Sementara itu, Gibran yang sedang sibuk berkecamuk dengan segala urusan pekerjaannya dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja membuka pintu ruangannya.
__ADS_1
"Lo kenapa, Zi?" tanya Gibran begitu melihat Rozi yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah panik, gelisah dan khawatir.
"Maaf, Gibran, gue izin pulang ya, Nyokap tadi ngabarin gue, kalo Liana tadi dibawa di rumah sakit, gue harus ke sana sekarang!"
"Iya, Zi, silahkan. Maaf ya gue nggak bisa nemenin lo ke sana, nanti setelah semua kerjaan di sini selesai, gue pasti nyusul kok!"
"Oke, terimakasih ya Gibran!"
Gibran menepuk pundak Rozi pelan, sebelum akhirnya pria itu menghilang secepat kilat dari ruangannya.
Gibran kembali duduk di kursi kerjanya, sekilas ia tersenyum saat membayangkan bagaimana perasaan bahagia Rozi nanti ketika melihat wajah bayinya, anak pertama dan cucu pertama di keluarga mereka. Gibran sendiri benar-benar menantikan kelahiran bayi yang dikandung oleh Liana dengan harapan bayi itu akan selalu mendatangkan kebahagiaan untuk Rozi dan keluarga kecilnya.
Tak lupa juga Gibran mendoakan agar Tuhan memudahkan proses persalinan agar semuanya berjalanan lancar, baik bagi Liana ataupun bayinya.
Sekitar satu jam kemudian, Handphone pribadi Gibran berdering, ada panggilan masuk dari Rozi.
"Hallo, Zi? Gimana? Semuanya berjalan lancar, kan? Boneka atau mobil-mobilan?" tanya Gibran antusias. Namun, tak kunjung ada jawaban apapun dari Rozi selain hembusan napas pelan.
"Dia, secantik Ibunya," lirih pria itu.
"Zi? Gimana keadaan Liana?"
Gibran ikut terdiam setelah dengan samar-samar ia mendengar isak tangis seseorang.
"Dia orang yang begitu baik, saking baiknya, Tuhan memanggilnya untuk istirahat dengan tenang dari kejamnya kehidupan---"
Deg.
Gibran langsung menjauhkan Handphone, pria itu menggeleng tak percaya. Dia memang cukup mengenal sosok Liana, terlebih lagi setelah wanita itu menjadi istri Rozi, Liana membawa banyak perubahan dalam kehidupan dan pribadi Rozi, Gibran masih tidak menyangka kalau Liana sekarang pergi, meninggalkan Rozi dan putri kecilnya yang tentu saja sangat membutuhkan kehadirannya.
Tanpa memperdulikan apapun lagi, Gibran menyerahkan semua sisa pekerjaannya pada Gama dan sekretarisnya, meninggalkan perusahaan dan segera menuju rumah sakit untuk menemani Rozi.
Gibran tak bisa berkata-kata lagi setelah melihat wajah pucat Liana yang terpejam, namun dengan senyuman yang seolah-olah mengisyaratkan kalau dia pergi dengan kebahagiaan dan penuh kedamaian. Lalu gadis mungil yang tertidur di dalam box bayi itu membuat hati Gibran meringis ketika membayangkan bagaimana gadis mungil itu tumbuh tanpa seorang Ibu!
Rozi tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya, semuanya lepas begitu Gibran datang, air mata yang sedari tadi ia tahan kini tak terhitung lagi sudah berapa tetes yang jatuh membasahi pipi.
Gibran membiarkan Rozi melepas semua perasaan yang ia rasakan, air mata tak selalu menandakan kelemahan. Kadang air mata adalah obat yang mengantarkan kepada sebuah ketenangan dan keikhlasan.
Untuk sementara Gibran lupa dengan dunianya sendiri, yang ada dalam pikirannya sekarang adalah membantu Rozi mengurus kepulangan dan peristirahatan terakhir Liana, agar Liana lebih damai dan tenang di sisi Tuhan.
__ADS_1
...****************...
Pukul setengah lima sore, Tuan Felix datang ke rumah sakit untuk menjemput Melisa, membawa gadis itu pulang sesuai keinginannya, tentu saja setelah Dokter memeriksa dan memperbolehkan Melisa untuk pulang.
"Melisa, kamu kenapa, Sayang? Lagi mikirin apa?" tanya Tania karena tak sedikit pun ia melihat raut wajah bahagia pada wajah putrinya.
"Nggak, Ma. Melisa tiba-tiba aja kangen sekolah, kangen main bareng Via dan Rere."
Tania sebenarnya tak sepenuhnya percaya pada jawaban Melisa, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin memaksa Melisa untuk mengatakan apa yang sedang mengganggu pikiran Melisa yang sebenarnya!
"Melisa, Gibran tau kalau kamu mau pulang?" tanya Tuan Felix sembari melirik sekilas ke arah kursi belakang, di mana ada Melisa dan Istrinya duduk di sana.
"Melisa udah kabarin kok, Yah."
"Oke, kalau gitu."
Sekarang Tania faham, ini pasti ada hubungannya dengan Gibran, kan?!
...****************...
Pukul sembilan malam, Gibran baru sampai di kediaman keluarga besar Rozi, di sana sudah banyak orang yang membantu mengurus jenazah Liana, agar bisa di makamkan dengan sehormat-hormatnya.
"Makan dulu, ya, kamu nggak pernah makan dari tadi---" bujuk salah satu sepupu Rozi, dia juga sudah menghidangkan makan malam untuk Gibran, terlihat kedua pria itu begitu kelelahan.
"Lu aja yang makan, gue nggak ada selera!" ucap Rozi pada Gibran.
"Zi---" Gibran menatap Rozi lekat. "Setidaknya lu masih punya alasan buat tetap jaga kesehatan, masih ada putri kecil yang butuh sosok Raja yang akan selalu menjaga dan melindunginya!"
Gibran mengambilkan satu sendok nasi dan beberapa lauk untuk Rozi, setidaknya ada asupan energi yang masuk.
"Lu juga makan!" tegas Rozi. Gibran tersenyum tipis, lalu ia juga mengambil nasi dan lauk untuk dirinya, tapi ketika ia hendak memasukkan suapan pertama, Gibran langsung teringat pada Melisa, buru-buru pria itu merogoh saku celananya, mengambil handphone.
"Bentar, Zi---" Gibran mengecek WhatsApp-nya, bener saja ada beberapa pesan masuk dari Melisa. Tanpa basa-basi lagi, Gibran langsung minta maaf karena tidak mengabari sejak tadi dan menjelaskan keadaan sekarang pada Melisa lewat voice note.
"Maaf ya, gue jadi ngerepotin Lo," lirih Rozi setelah Gibran kembali memasukkan Handphonenya.
"Zi, gue udah anggap lo lebih dari sahabat, bahkan gue ngerasa punya sosok saudara laki-laki, jadi lo jangan ngerasa ngerepotin gue, ini udah tugas gue sebagai saudara!" tegas Gibran.
"Makasih ya---"
__ADS_1
Rozi tak mampu menjelaskan lagi seperti apa sosok Gibran dalam hidupnya, Rozi juga merasakan hal yang sama, ia merasa seperti memiliki saudara laki-laki yang akan selalu ada untuknya, dan dibuat seperti memiliki sosok keluarga yang ia impikan karena Mama Hesti juga memperlakukannya dengan baik, seperti memperlakukan Gibran dan Livi. Bahkan sekarang, Mama Hestilah yang menemani dan mengurus putri kecilnya di rumah sakit.
"Gue beruntung banget ada di tengah-tengah orang-orang sebaik kalian!" Batin Rozi.