Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 03 : Camping (3)


__ADS_3

"Mell, Melisa... Bangun Mell... matahari dah terbit lohh... Melisaaa." Via masih terus berusaha membangunkan Melisa, tidak biasanya gadis itu lama dibangunkan, entah karena kelelahan atau kenyenyakan?


"Mell?"


"Emmm."


"Bangun, yuk. Yang lain dah bangun semua."


"Ini jam berapa, Vi?"


"Jam enam lebih lima belas, ayok bangun, masih sempet nih cuci muka!!"


Akhirnya kali ini Melisa bangun walaupun masih dengan mata yang ingin terpejam sakit ngantuknya.


"Cuci muka yuk, jam setengah tujuh mau berangkat ke air terjun soalnya!"


"Emm, ayo!"


"Mel? Yakin mau keluar kayak gitu?"


"Kenapa?"


Via merapikan rambut Melisa yang acak-acakan, "Nah, sekarang dah rapi, ayo!"


"Tunggu, mau ambil sabun muka sama sikat gigi dulu!"


"Udah, ini udah aku bawain!!" ucap Via sedikit berteriak dari luar tenda.


"Rere mana?"


"Udah bangun dari tadi, lagi ngecek jalan ke air terjun, aman apa nggak!"


"Oooh, ya udah ayo!"


Setelah selesai cuci muka dan sikat gigi, Melisa dan Via pun ikut kumpul untuk absen terlebih dahulu sebelum berangkat.


"Vi, jaket aku basah, jatuh tadi di kamar mandi!" bisik Melisa.


"Ya udah pakek punyaku aja ya.... Aku nggak terlalu kedinginan kok!" Via membuka jaketnya lalu menyerahkan pada Melisa.


"Kamu gimana?"


"Udah pakek aja!" tegas Via.


Panitia menjelaskan kalau perjalanan dari lokasi mereka sekarang ke air terjun hanya membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit saja. Dan juga bagi yang ingin mandi disarankan untuk memakai pakaian yang tidak menerang dan sopan.


"Kamu mau mandi nggak, Mell? Bawa baju ganti kan?" tanya Via.


"Bawa, kok, tapi aku nggak mandi seluruh badan, aku main air aja!"


"Ya udah deh, nanti aku mau mandi ya...."


"Iya."


Mereka diarahkan untuk berjalan mengikuti Willy dan Kak Romi, para siswi dipersilakan untuk jalan terlebih dahulu, sedangan siswa laki-laki berjalan di belakang bersamaan dengan beberapa panitia lainnya.


"Hati-hati, Vi." lirih Melisa, Via terlihat begitu antusias sekali, kadang ia melompat layaknya sang petualang yang sedang menjelajah hutan.


"Khemm, Mel?"


"Loh, Fais? Kamu udah mendingan?" tanya Melisa saat menyadari Fais berjalan di belakangnya.


"Udah, cuman mabuk perjalanan aja."


"Syukur deh kalo gitu."


"Iya, Mel, makasih ya buat minta kayu putihnya."


"Iya sama-sama."


Melisa menoleh ke belakang, melihat Fais yang tersenyum padanya.


"Eh, Mel, cepet jalannya, bentar lagi nyampe nih!!" ucap Via tak sabaran, terpaksa Melisa mempercepat langkahnya.


Jalan menuju air terjun tersebut bisa dibilang cukup aman, hanya sedikit becek yang menyebabkan sepatu atau sandal akan kotor. Sebelum benar-benar sampai, mereka harus menaiki sekitar 173 anak tangga terlebih dahulu, dengan ukuran tangga yang cukup untuk dua orang dewasa saja.


"Pelan-pelan, Mell," ucap Via sambil sesekali mengecek keadaan Melisa di belakangnya.

__ADS_1


"Hufs....." Melisa menghela napas begitu sampai di titik air terjun, kakinya terasa sedikit pegal setelah menaiki anak tangga yang membuatnya geleng-geleng kepala.


Namun, rasa lelahnya terbayar lunas tanpa bunga saat melihat pancuran air yang begitu indah memanjakan mata itu, di sekitar air terjun banyak bebatuan dengan ukuran besar, bisa dibilang posisi mereka tepat di bawah air terjun itu, karena jika dilihat dari atas ada sungai yang mengalir jernih di bawah sana, airnya benar-benar jernih tanpa noda, tanpa ada kotoran ataupun sampah yang menodai keindahannya.


"Gimana? Capek?" sapa Rere saat mereka semua sudah kumpul di atas.


"Gila, Re. Ini kali pertama aku ngeliat air terjun sebagus dan seindah ini, rasanya tenang banget di sini, adem, nggak ada keributan, hanya ada suara percikan air, suara dedaun yang ditiup angin, suara kicauan burung, ini benar-benar indah, Ree...." decak Melisa kagum.


"Emang nggak ada yang bisa pungkiri keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini." gumam Via.


"Owh ya, kalo mau mandi, di sana---" Rere menunjuk kolam kecil di samping air terjun. "Inget, nggak boleh ngomong kotor di sini!"


"Siap!"


"Ayo, Mell, kita mandiiii!!" ajak Via.


"Re, kenapa nggak boleh mandi di bawah air terjunnya langsung?" tanya Melisa penasaran.


"Kalo cewek emang nggak dibolehin, Mell, itu pesan dari warga sekitar, kemarin juga penjaganya kasih pesan itu ke kita."


Melisa hanya mengangguk pelan.


"Mau mandi nggak, Mel?"


"Nggak, Re, aku mau ngambil foto di sekitar sini aja."


"Oh ya udah, aku nyusul Via, ya, Mell."


"Iya, Re, nanti aku ke sana."


Melisa mengeluarkan handphone-nya, mengambil beberapa potret air terjun dan pemandangan di sekitarnya.


Melisa terus fokus mengabadikan momen berharga ini, dengan mengambil foto dan video, ia berjalan menuju kolam kecil di mana Rere, Via dan beberapa teman-teman cewek yang lain mandi di sana.


Saking fokusnya pada handphone saat mengambil video, membuat Melisa tidak sadar kalau batu tempatnya berpijak sekarang licin dan berlumut sampai akhirnya ---


Brukkk....


Handphone yang Melisa pegang masuk ke dalam kolam, kakinya terpeleset saking licinnya batu tersebut, setengah badan Melisa ikut masuk ke dalam kolam.


"Arghh...."


"Melisa???"


Chandra langsung turun ke kolam, saat ia hendak membantu Melisa untuk naik, Melisa tiba-tiba mencengkram tangannya. "Sakittt...."


"Aku gendong ya?"


Tanpa pikir panjang lagi, Chandra mengangkat tubuh Melisa ke dalam gendongannya hingga mereka keluar dari kolam.


"Sini, Kak!" Fais sudah membentang jaketnya sebagai alas duduk untuk Melisa.


"Pelan-pelan, Kak!!" ucap Via khawatir, gadis itu ikut meringis ketika melihat ekspresi sakit di wajah Melisa.


Dengan pelan Chandra menurunkan Melisa, lalu meminta Melisa untuk meluruskan kakinya.


"Keseleo," lirih Rere saat melihat pergelangan kaki Melisa yang tampak memar.


"Ada yang bisa mijit nggak?" tanya Chandra pada semua yang ada di sana, tapi semuanya malah menggeleng pelan.


"Ya udah, gimana kalo kita turun dulu!"


"Tapi---" Via dan Rere menatap Melisa yang kini menyeka air matanya. Jangan untuk turun dan berjalan sejauh itu, untuk keluar dari kolam saja gadis itu tidak bisa.


"Biar aku yang bawa Melisa turun. Kasian dia kalo kakinya nggak cepet diobatin!" tegas Chandra.


"Nggak, Kak. Ini bisa jalan kok, nggak apa-apa." Tolak Melisa dan malah mencoba untuk berdiri, namun rasa nyeri itu semakin menyerang pergelangan kakinya, bahkan lebih sakit dari sebelumnya.


"Udah, Mel, udah, jangan dipaksain!" Rere menahan Melisa, tatapannya pasrah ke arah Chandra.


"Titip yang lain ya, gue turun bawa Melisa!" ucap Chandra pada Romi dan panitia-panitia lainnya.


"Nggak, Kak, kita ikut turun aja!" tolak yang lainnya.


"Iya, kita semua turun aja!"


Chandra membuka jaket yang tadinya ia pakai, lalu meminta tolong pada Rere agar mengganti jaket yang Melisa pakai.

__ADS_1


"Ayo!"


Dalam satu angkatan tubuh Melisa langsung berpindah dalam gendongan Chandra, Melisa tak berkata apapun, rasa sakit yang ia rasakan hampir mempengaruhi kesadarannya.


"Seriusan ini nggak ada yang bisa mijit?" tanya Rere sekali lagi pada semua panitia, tapi tetap aja jawaban yang ia dapat sama, hanya gelengan kepala.


"Ya Tuhan, Melisaaaa....." Rere menggeleng pasrah lalu bergegas turun mengikuti Chandra dan beberapa pria yang sudah turun terlebih dahulu.


"Re, Pak Bastian mana? Bukannya Pak Bastian pinter mijit?" tanya Fais sambil mensejajarkan langkahnya dengan Rere.


"Pak Bastian tadi izin nggak bisa ikut, karena nggak kuat buat jalan!"


"Huh, seharusnya Pak Bastian ikut!" decak Fais. Rere melirik sekilas, jelas terlihat raut khawatir di wajah pria itu, tapi ini bukan saatnya membahas hal itu dengan Fais, lagi pula wajar jika dia khawatir pada Melisa, kan? Bahkan semua teman-teman yang lain pun khawatir!


"Mell?" panggil Chandra sembari menatap wajah Melisa, terlihat beberapa tetes air mata mengalir di pipi gadis itu.


"Ini temannya kenapa, mas?" tanya seorang pria yang berpapasan dengan Chandra, pria itu sepertinya hendak menuju air terjun juga dengan beberapa orang lain di belakangnya.


"Keseleo, Mas."


Pria itu seketika melihat ke arah kaki Melisa. "Boleh saya bantu?" tawarnya.


Tampak Chandra sempat ragu, namun saat ia melihat wajah Melisa dan air mata gadis itu, akhirnya Chandra memutuskan untuk menerima bantuan pria itu. Bukan hanya Chandra yang ada di sana, tapi ada Via, Willy dan Romi.


"Permisi ya, Mbak." Pria itu memegang pergelangan kaki Melisa setelah mengolesi dengan minyak yang diberikan oleh temannya.


"Ini kepeleset ya, Mas?"


"Iya."


Melisa mencengkram lengan Chandra saat pria itu mulai memijit pergelangan kakinya.


"Kak." Rere yang baru sampai langsung menggantikan posisi Chandra, kini dia yang duduk di belakang Melisa, sebagai tempat bersandar gadis itu.


"Tahen ya, Mel." lirih Rere.


"Emmmm.... sssakit banget, Re...." Rere tak kuasa menahan tangisnya, ia merasa gagal menjaga Melisa, begitu pun dengan Via.


"Tahan ya, Mbak...."


Pria itu masih memijat pergelangan kaki Melisa, dengan pelan dan hati-hati.


Sampai-sampai tiba-tiba,


krekkk.


"Argghhh...." Melisa tak tahan untuk tidak berteriak kesakitan, tapi setelah itu, rasa sakit dan nyeri dipergelangan kakinya tiba-tiba menghilang, masih sedikit sakit tapi seperti pegel biasa saja.


"Coba digerakin pelan-pelan kakinya, Mbak."


Melisa mencoba untuk menggerakkan kakinya, memang tidak sesakit dan senyeri tadi.


"Gimana?"


"Udah nggak sesakit tadi, terimakasih banyak yaa...."


"Terimakasih, Tuhan....." gumam Rere dan Via bersamaan.


Pria itu tersenyum lega, begitupun dengan Rere, Via, Chandra dan yang lainnya.


"Di atas emang licin kalo pagi, apalagi kalian naiknya sebelum jam tujuh," ucap pria itu membuat semua yang mendengar ucapan itu pun diam kebingungan.


"Maksudnya apa sebelum jam tujuh? Sekarang kan udah hampir jam semb---" Chandra menghentikan ucapannya ketika melihat jarum jam pada jam tangannya masih menunjukkan pukul delapan tepat.


"Jam berapa?" tanya Chandra pada Romi dan yang lainnya.


"De---" semua terdiam tak bisa berkata apa-apa, karena baik jam tangan ataupun jam di handphone mereka masih menunjukkan pukul delapan.


Bahkan Via yang sempat melihat jam sebelum berangkat tadi pun sampai kebingungan.


Pria yang membantu mereka tadi hanya tersenyum melihat wajah kebingungan mereka. "Lebih baik kalian balik saja sekarang, dan istirahat, kalian pasti lelah kan?"


Hening, tidak ada jawaban kecuali anggukkan kepala dari mereka.


"Ya udah kalo gitu, kami pamit ya, mau lanjut ke atas!" Lalu pria asing berserta rombongannya itu berlalu meninggalkan mereka yang masih diam mematung itu.


"Udah yuk, kita buruan balik aja!" ucap Rere menyadarkan semuanya. Mereka pun bergegas kembali ke tenda, tanpa banyak bicara lagi. Melisa yang sudah bisa berdiri dipapah oleh Rere dan Via.

__ADS_1


Ada banyak kejanggalan saat mereka pulang, jalan yang tadinya hanya bisa dilewati oleh satu orang, kita bisa dilewati oleh tiga orang sekaligus!!


__ADS_2