
Melisa menggeleng pelan saat tangan Ayah terulur padanya, mengajak untuk naik Jet Ski.
"Ayo, percaya sama Ayah!"
Melisa memperhatikan Arkan yang terlihat begitu bahagia di tengah laut sana, memboncengi Mama di belakangnya!
Lalu Melisa menoleh pada Erlan yang asik bermain pasir pantai dengan Mbak Tuti.
"Melisa?"
"Kalo Melisa jatuh, gimana?"
"Nggak akan, percaya deh sama Ayah!"
Akhirnya Melisa pun naik setelah memasang kembali rompi pelampung atau life jacket-nya.
"Ayah... pelan-pelan!" Teriak Melisa sambil mengeratkan kembali pelukannya pada pinggang sang Ayah.
Melisa tersenyum samar dibalik ketakutannya. Ternyata begini ya rasanya memiliki seorang Ayah yang bisa diajak bermain bersama?
"Pegangan ya..."
"Ayah!" Jet Ski itu melesat menimpulkan percikan air yang membasahi tubuh Melisa. Tuan Felix hanya tertawa mendengar teriakkan anaknya, entah senang saja menjahili Melisa.
"Mau sama Arkan?" tawar Arkan saat menepi. Melisa langsung menggeleng cepat.
"Hahaha, Erlan? Mau ikut nggak?"
"Nggak." Erlan masih asik membuat istananya, sama sekali tidak tertarik.
"Ya udah kalo gitu! Balap yuk, Yah!"
"Oke, nantangin Ayah ya kamu!"
Sepanjang bermain Arkan tak henti-henti tersenyum, bagi Arkan ini adalah liburan terbaiknya! Momen langka bisa bermain bersama Ayah seperti sekarang!
"Bentar, ya, Ma. Melisa beli air minum dulu. Mama mau minum apa?"
"Biar Mbak aja yang beli, Non." Mbak Indah menawarkan diri, asisten pribadi Mama.
"Melisa aja!"
Tania tersenyum, "Udah biarin dia aja, Ndah."
Mbak Indah menurut, membiarkan Melisa yang pergi walaupun hatinya tak enak, bagaimana mungkin anak majikan yang pergi membeli minum untuk mereka?!
Melisa membersihkan pasir-pasir yang menempel di tubuhnya lantas beranjak untuk pergi membeli minum. Seperti biasa Jefri langsung mengikuti Melisa.
"Harus banget ya ikut?"
"Iya, harus, Nona."
"Dahlah, terserah!"
Melisa mengambil beberapa botol minuman dan juga camilan. Tak lupa juga untuk membayar.
"Sini, biar saya yang pegang." Jefri mengulurkan tangannya meminta kresek belanjaan yang Melisa pegang.
"Harus dipegangin juga?"
"Iya, harus, Nona!"
Melisa menyerahkan kresek yang memang cukup berat itu. Membiarkan Jefri yang memegangnya.
__ADS_1
Gibran?
Langkah Melisa berhenti, memperhatikan seorang pria yang sangat mirip dengan Gibran! Dari postur tubuh, gaya rambut dan cara jalannya! Benar-benar mirip!
"Kenapa, Nona?" tanya Jefri, mengikuti arah pandangan Melisa.
"Nggak apa-apa!" Melisa melanjutkan langkahnya, sesekali ia menoleh mencari sosok pria tadi!
Apa aku salah liat ya? Nggak mungkin kan Gibran juga ada di sini?
* * * *
"Gibran kamu dari mana aja!" Hesti menarik lengan Gibran yang baru menghampiri mereka. Padahal Hesti sudah mengatakan kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengan Gibran!
"Ada urusan tadi, Ma!" Alasan Gibran, padahal ia malas saja bertemu dengan gadis yang Mamanya ceritakan semalam!
Livi menatap wajah malas Gibran, gadis itu akhirnya bangkit dari duduknya, memilih untuk jalan-jalan saja, dari pada ikut duduk di sini!
"Mau ke mana, Liv?" tanya Tuan Yohan.
"Cari angin, Pa!"
"Jangan jauh-jauh ya, Nak!" Teriak Hesti.
Apaan sih Mama, pakek acara jodoh-jodohin Kak Gibran segala! Nggak tau apa anaknya masih belum bisa lupain Kak Melisa!
Batin Livi yang kurang suka dengan Euni, anak teman arisan Mamanya yang gayanya setinggi langit!
Balik lagi ke restoran.
"Euni, ini Gibran anak pertama Tante. Gibran, ini Euni anak bungsu Tante Selly."
Euni menjulurkan tangannya, disambut oleh uluran tangan Gibran!
"Gibran."
Gibran tersenyum seadanya, melepaskan tangannya dari genggaman Euni.
"Euni ini masih muda, tapi udah bisa ngelola usaha sendiri dan bla... bla... bla..." Hesti menyebutkan semua yang dia tau tentang Euni. Lebih tepatnya yang disebut hanya bagian yang bagus bagus saja!
Gibran diam, tak memberikan tanggapan.
"Aduh!" Hesti memegang kepalanya.
"Mama kenapa?" tanya Gibran sigap.
"Tante kenapa?"
"Mama pusing, kayaknya butuh istirahat deh!" Hesti mengedipkan matanya pada Tuan Yohan.
"Ya udah kalo gitu kita pulang aja, Ma. Mama kayanya butuh istirahat!" ucap Gibran, siap mengantar Mamanya pulang.
"Nggak apa-apa, biar Mama pulang sama Papa. Kalian lanjut aja!"
Tuan Yohan sudah berdiri.
"Maaf ya, Euni. Tante harus ninggalin kalian."
"Nggak apa-apa, Tante, Tante istirahat aja."
"Terus Livi gimana?" tanya Gibran.
"Nanti pulang sama kalian aja!" Yohan dan Hesti menghilang setelah membayar tagihan, menyisakan Gibran dan Euni yang sangat canggung di meja.
__ADS_1
"Nggak ada yang perlu diomongin lagi kan?" ucap Gibran.
"Emmm, masih banyak yang belum aku tau tentang kamu!"
"Nggak ada yang perlu kamu tau!" Gibran bangkit, namun Euni menahan tanganya.
"Aku tau kamu nggak suka sama aku, kan?"
"Aku nggak pernah ngomong gitu! Tapi bagus deh kalo kamu sadar!" Gibran menyingkirkan tangan Euni. "Aku mau cari Livi dulu!"
"Gibran!"
Gibran tak menoleh sekalipun Euni terus memanggil namanya!
Sangat jauh dari seleraku!
Batin Gibran.
Saat itu, Euni menggunakan baju yang memperlihatkan belahan dadanya! Dan menurut Gibran itu sangatlah tidak sopan, apalagi di sana ada Mama dan Papanya, tak seharusnya dia berpakaian seperti itu dihadapan orangtua!
"Huh, Mama ini ada-ada saja!" gerutu Gibran!
^^^Gibran :^^^
^^^Livi, kamu di mana?^^^
^^^Kak Gibran tunggu di parkiran restoran!^^^
Gulali Manisku :
Oke, Kak aku ke sana!
* *
"Loh, loh kenapa ini, kok wajahnya cemberut gitu?" tanya Gibran sambil menatap Livi yang memasang wajah cemberut yang sangat menggemaskan! Sampai Gibran tak tahan untuk tidak mencubit pipi Livi!
"Ish, sakit, Kak! Livi lagi kesel tau!" Livi masuk ke dalam mobil, kesel sendiri.
"Kesel kenapa, coba cerita sama Kak Gibran."
"Itu loh, Livi kesel sama si Euni, Euni!"
"Loh, kok bisa?"
"Jadi gini, tadikan pas di toilet restoran Livi nggak sengaja nabrak dia, terus dia marahin Livi abis-abisan. Padahal Livi udah minta maaf, eh pas tau kalo Livi adiknya Kak Gibran malah muji-muji, bilang Livi cantik lah, manis lah di depan Mama sama Papa! Gimana Livi nggak pengen jambak tuh rambut Mak Lampir! Pen tampol juga deh bibir pedesnya itu!"
"Hahaha ternyata kita sama!"
"Kenapa, Kak Gibran nggak suka juga?"
"Sama sekali nggak tertarik!"
"Bagus deh! Jangan sampai Livi punya Kakak ipar kayak dia! Tampang cantik doang!" kesal Livi.
"Udah ih, kasian nanti bibirnya abis kegigit sendiri!"
"Biarin aja, biar sakit tuh bibir Nenek Lampir, sekalian aja sariawan!"
"Hahaha." Gibran menggeleng mendengar ucapan Livi.
Ini baru namanya jiwa Adik-kakak yang kompak, Gibran suka, Livi juga suka, Gibran tidak suka, Livi pun sama!
Sok-sokan mau rebut Tahta Melisa! Sampai kapan pun tetap Melisa pemegang tahtanya!
__ADS_1
Batin Gibran.
Meski tak bisa dekat dengan Melisa seperti dulu lagi, tapi hati Gibran masih terpaut dan terikat pada gadis itu.