
Sesuai dengan janji, Melisa dan Rere datang menjenguk Via, mereka sampai di rumah Via sekitar jam 5 sore, bahkan mereka berdua diminta untuk ikut makan malam bersama di sana. Karena tidak enak untuk menolak, maka keduanya bergabung dalam satu meja makan yang sama dengan keluarga Via yang sudah seperti keluarga sendiri pagi Melisa dan Rere. Keduanya baru diizinkan pulang setelah selesai makan malam.
Tepat jam setengah sembilan malam, Melisa baru sampai rumah, sebelumnya ia sudah meminta izin pada Mama untuk makan malam di rumah Via. Dan tentunya saja Mama akan mengizinkannya!
Melisa menyempatkan diri dulu untuk menyapa Arkan dan Erlan sebelum masuk ke kamarnya, Arkan sendiri sedang sibuk mengerjakan tugas di ruang belajar, begitu pula dengan Erlan yang sedang mengulang pelajaran bersama Mama, jadi Melisa memutuskan untuk ke kamarnya saja dan tidak menggangu mereka.
Usai membersihkan diri dan memastikan kalau dia sudah menyelesaikan semua tugas sekolahnya, Melisa pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, tangan kanannya menarik bantal guling, sementara tangan kirinya meraih Handphone di atas nakas.
Melisa teringat dengan perkataan Gibran tentang Mamanya tadi. Membuat Melisa langsung meluncur ke Instragram, seingat Melisa, dia pernah melihat postingan foto Gibran dengan keluarganya!
"Emmm, kok kayak nggak asing ya wajahnya?" gumam Melisa sambil terus berpikir di mana dia pernah melihat wajah yang sama dengan wajah Mama Gibran!
Melisa terus mencoba mengingatnya, tapi sayang, Melisa tidak mengingat gambaran apapun. Intinya wajah itu tidak asing baginya!
^^^Melisa :^^^
^^^Gibran?^^^
Gibran :
Iya, Sayang. Kenapa?
^^^Melisa :^^^
^^^Lagi di mana?^^^
Gibran :
Lagi ngumpul sama temen.
Kenapa? Tumben nanyain?
^^^Melisa :^^^
^^^Gpp, sih.^^^
^^^Inget jangan pulang terlalu larut!^^^
Gibran :
Iya sayangku😚
^^^Melisa :^^^
^^^Ya udah aku tidur dulu.^^^
^^^Good Night^^^
Gibran :
Good Night Too, Sayang. Mimpi indah ya, i love you😚❤️
^^^Melisa :^^^
^^^I love you too<3^^^
_______
Melisa kembali meletakkan Handphone-nya setelah mematikan data seluler di atas meja.
"Kira-kira Gibran tau nggak ya tanggal lahirku?" gumam Melisa.
"Eh, tapi aku saja nggak tau kapan tanggal lahirnya?!"
Melisa menatap langit-langit kamarnya, sebenarnya sejauh apa sih Gibran mengenalnya? Dan sejauh apa juga dia mengenal Gibran selama ini?!
"Dia tau makanan dan minuman favoritku, tapi aku? Aku tidak tau apapun tentang dia! Jadi seharusnya perasaanku yang lebih pantas diragukan disini, bukan dia!" Melisa bermonolog.
"Oke Melisa, ini sebuah hubungan, jadi kamu nggak boleh egois lagi, saling mengerti dan memahami itu harus, jangan cuman kamu yang mau dimengerti, tapi kamu juga harus mengerti Gibran, jangan cuman kamu yang mau dikenali lebih jauh lagi, karena itu sangat tidak adil bagi pasanganmu! Seandainya pun Gibran belum tau, seharusnya itu tidak menjadi masalah bagimu, kan?" Batin Melisa.
"Tapi kan seharusnya dia nyari tau dong? Kan katanya cinta!"
Melisa langsung menggeleng begitu pertanyaan itu terbesit dalam pikirannya. Berdebat dengan hati dan pikirannya sendiri sangatlah melelahkan! Sampai membuat Melisa kesulitan tidur. Akhirnya Melisa pun memutuskan untuk keluar kamar, berniat untuk menjadi udara segar.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sepertinya Mama, Arkan dan Erlan sudah tidur sekarang.
Melisa membuka kulkas, berniat untuk mengambil segelas minuman dingin, namun sapaan dari Mbak Indah malah mengagetkannya!
"Non Melisa?"
Melisa menghembuskan nafas pelan, lalu tersenyum pada Mbak Indah. "Iya, kenapa, Mbak?"
"Nggak apa-apa, kenapa belum tidur, Non?"
"Belum ngantuk, Mbak."
"Emmm, kalau gitu, Non Melisa mau Mbak temenin?"
"Jangan, Mbak istirahat aja!"
"Emmm, ya udah kalau gitu, Mbak ke belakang dulu ya?"
"Silahkan...."
__ADS_1
Dengan berat hati Mbak Indah meninggalkan Melisa sendiri, sebenarnya ia benar-benar ingin menemani Melisa, tapi karena Melisa menolak, jadi dia tidak bisa memaksa juga.
Melisa berjalan menuju halaman depan, duduk di kursi taman yang selalu menjadi saksi pertemuannya dengan Arkan, dulu. Tapi malam ini, Melisa hanya duduk sendiri, menatap langit malam yang dihiasi kelap-kelip bintang-bintang.
"Aku nggak mau berekspektasi lebih lagi, aku takut kecewa dengan ekspektasiku sendiri!" gumam Melisa.
Melisa mengeluarkan Handphone-nya dari saku Hoodie yang ia pakai. Membuka WhatsApp dan melihat status WhatsApp Gibran yang mengunggah foto bersama dengan teman-temannya. Tiba-tiba chat baru datang dari Gibran.
Gibran :
Kenapa belum tidur, Sayang?
Katanya tadi mau tidur.
^^^Melisa :^^^
^^^Nggak apa-apa, belum ngantuk aja.^^^
Gibran :
Aku temenin ya!
^^^Melisa :^^^
^^^Jangan.^^^
Gibran :
Kenapa?
Aku udah di apartemen kok, Sayang.
Aku telpon ya?
___
Gibran langsung menekan tombol video call, tanpa menunggu persetujuan dari Melisa! Melisa pun tidak bisa menolak, karena pada dasarnya dia memang membutuhkan seseorang sekarang!
"Loh, kamu lagi di mana, Sayang?" tanya Gibran, karena melihat lampu-lampu taman di belakang Melisa.
"Aku lagi di taman depan rumah!"
"Dingin, nggak?"
"Lumayan."
"Butuh pelukan hangat?"
Melisa tersenyum jahat, lalu sedikit mengangkat Handphone-nya, memperlihatkan kalau dia sedang menggunakan Hoodie yang sudah sangat cukup menghangatkan tubuhnya!
"Ya udah ya... Tapi kalau mau peluk, bilang ke aku ya! Aku sediain jasa peluk gratis yang spesial buat Nona Melisa!"
"Iyain biar bahagia! Hahahaha...."
"Sayang?" panggil Gibran setengah berbisik.
"Iya?"
"Masuk ke kamar, udah setengah dua belas loh ini!"
"Iya, ini bentar lagi masuk kok."
"Sekarang!" tegas Gibran.
"Iya-iya." Melisa membawa botol minumnya, meninggalkan taman utama.
"Loh, Melisaa? Kamu dari mana, Sayang?" tanya Tania begitu melihat Melisa membuka pintu utama.
Bukannya langsung menjawab, Melisa malah mengamankan Handphone-nya terlebih dahulu, yang masih tersambung video call dengan Gibran.
"Melisa dari taman, Ma."
"Udah malem loh, Sayang, kenapa malah ke taman sendirian?"
"Cari udara segar aja, Ma. Hehehe."
"Ya udah, sekarang masuk ke kamar, langsung tidur, besok sekolah!"
"Siap, Ma!"
Tania mengusap rambut Melisa, mencium kening gadis itu, sebelum membiarkannya balik ke kamar.
"Good night, Sayang."
"Good night too, Ma."
Melisa menghembuskan nafas lega begitu sampai di kamarnya. Ia menutup pintu kamar rapat dan tak lupa untuk mengunci juga.
Gadis itu tersenyum saat melihat Gibran yang sedang memainkan rambutnya.
"Udah?" tanya Gibran.
"Udah, kok. Nih, udah di kamar." Melisa memperlihatkan kamarnya yang tertata rapi. Sebuah boneka beruang berwarna pink pemberian Via bersandar cantik di atas kasurnya.
__ADS_1
"Oke, kalo gitu sekarang tidur!"
"Belum ngantuk!"
"Mama bilang apa coba tadi? Langsung tidur kan?!"
"Iya," ucap Melisa pasrah.
Gibran malah tersenyum melihat wajah pasrah Melisa.
"Ya udah, aku temenin nih, sampai ngantuk!"
"Emmm, Gibran?"
"Iya, Sayangku... Kenapa?"
"Aku boleh nanyak, nggak?"
"Mau nanya apa, hmm?"
"Makanan favorit kamu apa?"
"Aku?"
"Iya!"
"Nasi goreng! Lengkap dengan telur, timun, dan kerupuk! Aku sebenarnya bisa makan apa aja, termasuk kamu!"
"Dih, Kanibal!"
"Hahahaha, becanda, Sayangku..."
"Kalau minuman favorit apa?"
"Air kelapa muda."
"Warna favorit?"
"Hitam putih."
"Kalo tanggal lahir, kapan?"
"Delapan Maret.... Kenapa sih, Sayang?"
"Nggak apa-apa, pengen kenal kamu lebih jauh aja!"
Gibran berusaha menahan salting dengan berdehem dan menjauhkan wajahnya dari kamera beberapa saat.
"Cie... Salting, ya??" goda Melisa.
Gibran menggeleng, namun senyum dan raut wajahnya tidak bisa diajak berkerja sama!
"Hahahaha, akhirnya bisa bales dendam juga!!!" ucap Melisa yang senang karena bisa membalas kelakuan Gibran.
"Awas kamu, ya!" ancam Gibran, gemas sendiri karena tidak bisa membalas Melisa.
"Makasih ya...." ucap Melisa setelah diam beberapa saat.
"Makasih untuk?"
"Emmmm-" Melisa merebahkan diri di atas kasur, menatap wajah Gibran yang masih menunggunya melanjutkan ucapan. "Intinya makasih udah ada sampai titik ini!"
"Seharusnya kamu nggak perlu berterimakasih untuk itu, Sayang... Kalau bukan karena kamu, aku juga nggak tau apakah aku bisa ada titik sekarang ini!"
Melisa tersenyum. "Terimakasih..." lirihnya.
"Sama-sama, Sayang. Udah, ih, jangan mewek gitu! Senyum lagi dong! Senyum... Mana senyumnya!!"
Melisa kembali tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah, sekarang kamu istirahat ya..."
"Kamu mau ke mana?" tanya Melisa.
"Aku nggak ke mana-mana, kok, Sayang."
"Jangan dimatiin!"
"Telpon biasa ya? Aku nggak mau ganggu privasi kamu!"
"Iya."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Melisa tidak tau apa yang ia dengar nyata atau hanya mimpi semata. Tapi samar-samar ia mendengar Gibran berbicara dengan lembut, seolah-olah sedang berisik di dekat telinganya. "Happy Birthday, Sayang...."