
Jemari Gibran mengetuk-ngetuk meja, meeting yang dimulai dari jam 7 tadi baru saja selesai, beberapa orang sudah meninggalkan ruangan, hanya tersisa Gibran, sekretarisnya dan dua staf lain yang sedang membersihkan ruangan.
Rencana Gibran yang akan menemui Ayah Melisa di hari ulang tahun gadis itu malah gagal sekarang, padahal dia, Via dan Rere sudah menyusun rencana kejutan untuk Melisa. Gibran baru saja membaca pesan dari Rere yang mengabarkan tentang kepergian Ayah Melisa dan akan pulang pada tanggal 13 nanti, sedangkan mulai dari tanggal 12 sampai tanggal 17, Gibran ada jadwal penting di luar kota!
"Semuanya gagal, kan!" gumam Gibran, membuat Gama menatap ke arahnya.
"Apa yang gagal, Tuan? Bukannya meeting kita hari ini berjalan lancar?"
Gibran tak menjawab apapun, ia malah meninggalkan Gama duduk sendirian.
"Lah? Tuan Gibran putus cinta lagi, ya?" Gama merapikan beberapa tumpukan map di atas meja, lalu menyusul Gibran ke ruang kerjanya.
Di tengah pusing memikirkan rencananya yang gagal, Gibran malah teringat lagi dengan tuntutan Mamanya, yang terus minta dipertemukan dengan gadis yang Gibran suka. Padahal Gibran sedang mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka!
"Gama?"
"Iya, Tuan?"
"Saya ada urusan penting siang ini, jadi batalin aja semua jadwal saya!"
"Baik, Tuan."
Gibran merogoh Handphone pribadinya di dalam saku celana. Dan langsung mengirim pesan pada seseorang yang memiliki urusan "penting" dengannya.
* * * * *
Rere menggeliat begitu guru Bahasa Indonesia meninggalkan ruangan, siswa-siswi lainnya juga sudah sibuk merapikan barang-barang mereka, bersiap untuk pulang.
"Mel!"
Melisa menoleh. "Iya, kenapa, Re?"
"Jengukin Via yuk!"
"Emmm-" Melisa berpikir sejenak, pasalnya ia baru saja mendapat pesan ajakan makan siang bersama dengan Gibran! Bahkan pria itu sedang dalam perjalanan ke lokasi janjian sekarang!
"Kamu nggak bisa, ya?" tebak Rere melalui ekspresi wajah Melisa.
"Kamu duluan, aja ya. Nanti aku nyusul ke sana!"
"Emang kamu bisanya kapan?" tanya Rere.
"Sore, mungkin."
"Ya udah sore aja, supaya samaan!"
"Oke, nanti aku jemput!" ucap Melisa.
"Siap! Sekarang kamu mau ke mana?"
"Ada urusan penting! Hahaha...."
"Hmmm, urusan penting nggak tuh?"
Melisa mengangguk sambil tersenyum menyakinkan Rere.
"Ya udah ya, semoga urusannya lancar! Kalo gitu aku pulang duluan yak!"
"Samaan ke parkirannya!" rengek Melisa.
"Ya udah ayok cepetan!" Rere memperhatikan Melisa yang sekarang malah sibuk merapikan buku-bukunya. Dari tadi nih bocah ngapain aja?
* * * * *
Senyum Gibran mengembang seketika, ketika melihat Melisa berjalan mendekatinya, gadis itu menggunakan jaket crop berwarna hitam dengan lengan yang berwarna putih, menyamarkan kalau dia sebenarnya masih menggunakan seragam sekolahnya!
Spontan Gibran berdiri, lalu menarik kursi dan mempersilakan Melisa untuk duduk.
"Macet ya?" tanya Gibran.
Melisa membuka maskernya, meletakkan di atas meja. "Lumayan sih, aku lama ya datangnya? Maaf..."
Gibran tersenyum, "Nggak apa-apa, kok, lagian bukan salah kamu juga kan? Udah, jangan dibahas lagi, ya."
"Emm, tumben ngajakin ketemu jam segini. Ada hal penting ya?"
__ADS_1
"Ada, banyak malah!"
"Apa?" tanya Melisa serius.
"Yang pertama, aku kangen kamu, yang kedua, aku pengen ketemu kamu, yang ketiga... aku pengen---" Gibran mencubit pipi Melisa cukup keras. "Cubit pipi kamu. Intinya aku pengen berduaan sama kamu!"
Melisa menatap Gibran sambil mengelus pipinya, "Sakit tau!"
"Iyakah? Coba sini liat!"
"Nggak mau, nanti dicubit lagi!"
"Nggak, sini dulu makanya!"
Melisa sedikit memajukan tubuhnya.
Cup.
Gadis itu melotot ketika Gibran mengecup pipinya, reflek ia menoleh ke kiri dan kanan, beruntung orang-orang sedang sibuk sendiri dengan makanan mereka!
"Gimana, udah ilang sakitnya?"
Melisa mencubit punggung tangan Gibran dengan rona merah di pipinya, jelas saja gadis itu sedang malu sekarang.
"Jangan gitu lagi... Malu kalo sampai diliat orang!!"
"Emm, Mel, kamu marah yak?" tanya Gibran karena Melisa malah membuang muka, tak mau menatapnya.
"Aku malu....."
"Ya udah sini, aku tutupin biar nggak malu!"
"Gibran!" Melisa kembali mencubit punggung tangan Gibran sampai pria itu meringis kesakitan.
"Iya-iya, ampun, Melisa, ampun!"
"Janji nggak kayak gitu lagi?!"
"Hiks, iya, janji."
Gibran meringis, menyesal sendiri dengan perbuatannya.
"Iya, mau ngomong apa?"
"Yang pertama, aku mau minta maaf, karena minggu ini aku belum ada waktu buat ketemu sama Ayah kamu, mungkin minggu depan setelah pulang dari luar kota, aku bakal langsung ke rumahmu, oke, nggak apa-apa, kan?"
"Emmm, iya, nggak apa-apa, kalau emang ada kendala. Terus yang kedua, apa?"
"Setelah aku ketemu sama Ayah kamu, kamu mau kan ketemu sama Mama aku juga?"
"Mama kamu?"
"Iya, dia pengen banget ketemu sama kamu. Kamu mau kan?"
"Emm, boleh."
"Serius?"
"Iya, serius, dari awal aku emang nggak ada niatan buat becanda."
Gibran terharu mendengar jawaban Melisa, lantas pria itu meraih tangan Melisa. Menggenggam jemari gadis itu di atas meja. "Jadi pacar aku ya, Mel!"
Melisa malah tersenyum menahan tawa mendengar ucapan Gibran. "Telat banget ngajakin pacarannya!"
"Ya gimana ya, aku takut kamu bingung sama hubungan kita sekarang! Jadi gimana? Kita pacaran?!"
Melisa mengangguk pelan.
"Iya?" tanya Gibran untuk memastikan.
"Iya, kamu--" Melisa menunjuk dada kiri Gibran. "Pacar aku sekarang!" tegas Melisa, seorang Gibran hanya miliknya seorang.
"Jadi aku boleh panggil sayang?"
"Emang kalau aku ngelarang, kamu mau manggil apa?"
__ADS_1
"Ya tetap, aku bakal panggil sayang! Hahahaha!"
"Daasar! Terus aku harus manggil sayang juga?" tanya Melisa dengan polosnya.
"Panggil sesuka hati Melisa aja!" ucap Gibran penuh senyuman. Pria itu tidak pernah memaksa Melisa, intinya asal Melisa nyaman dan bahagia, itu sudah cukup baginya, dan sifat Gibran itulah yang Melisa suka.
"Emmm, tadi katanya mau ke luar kota? Kapan berangkatnya?" tanya Melisa setelah mengembalikan buku menu pada pelayan restoran.
"Berangkatnya tanggal dua belas, jam 1 siang."
"Terus pulangnya kapan?"
"Kalo nggak ada kendala, tanggal tujuh belasnya udah pulang! Emang kenapa? Takut kangen ya?"
"Dih, percaya diri banget ya, Anda!"
"Hahaha. Kalo kangen bilang aja, jangan malu-malu, ya, Sayang!"
"Nggak kebalik nih, kayaknya bukan aku deh yang bakal kangen duluan!"
"Iya deh iya. Aku yang selalu kangen sama kamu, Sayang.... Bahkan nih, ya. Aku selalu liatin foto kamu setiap pergantian jam!"
"Hahaha, masak iya?"
"Iya, kamu nggak percaya?"
Gibran menghidupkan Handphone-nya, membuka galerinya yang sekarang dipenuhi oleh foto Melisa.
"Nih. Baru buka galeri aja udah keliatan orangnya!"
"Eh--" Melisa malah malu sendiri jadinya.
"Dapat foto yang ini dari mana?" tanya Melisa sambil menunjukkan fotonya dengan Livi.
"Ya dari Livi lah. Nih foto berharga loh! Tau nggak kenapa?"
"Emang kenapa?"
"Mau tau?"
"Iya, please, kasih tau."
"Nih ya." Gibran meletakkan Handphone-nya di atas meja. "Di foto ini, ada dua orang yang aku sayang, satunya adikku, dan satunya lagi, masa depanku!"
"Eakkk, bapernya ya?" goda Gibran. Membuat Melisa langsung memukuli tangannya.
"Oke, terus, yang paling penting, aku nggak dapetin foto ini secara cuma-cuma!"
"Maksudnya?"
"Aku harus nyogok Livi dulu supaya dia mau kirimin fotonya!"
"Astaga, jadi keluar uang berapa?"
"Emmm, kamu nggak perlu tau, kamu cukup tau, kalau kamu itu berharga bagi aku, jadi please, jadi diriku, jaga kesehatan kamu, oke?"
"Oke, kamu juga, jaga kesehatan, istirahat yang cukup, jangan lupa makan, aku nggak mau kamu sakit karena kecapean."
"Siap, Sayang!" ucap Gibran sambil mengelus pelan pucuk kepala Melisa.
* * * *
Setelah selesai makan siang bersama dan puas bercengkrama, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang, tentu setelah Gibran membayar semua tagihan pada kasir.
"Hati-hati ya di jalan."
Gibran tersenyum dan mengangguk pelan.
"Sayang!" panggil Gibran ketika Melisa sudah membuka pintu mobilnya.
Melisa langsung menoleh ke arah Gibran. "Iya, kenapa?"
"Nggak ada, ngetes panggilan aja!" sahut Gibran dengan wajah tanpa dosa. Sementara Melisa buru-buru masuk ke dalam mobil untuk menyembunyikan wajah merahnya. Lagian Gibran ada-ada aja, bisa-bisanya ngetes panggilan di parkiran!
Gibran melempar senyum saat Pak Tio menatap ke arahnya. Tak merasa terancam dan takut seperti sebelumnya. Walaupun ekspresi wajah Pak Tio tak berubah, masih datar dengan tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
"Huh, jauh lebih lega rasanya sekarang!"
Batin Gibran. Tidak terasa, dia dan Melisa menghabiskan waktu lebih dari sejam tapi terasa begitu singkat, yang membuat Gibran ingin terus bersama dan bersama lagi dengan Melisa untuk kedepannya.