
Setelah menikmati suasana libur akhir semester awal, kini waktunya untuk kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar lagi!
Hari pertama sekolah, Melisa sudah cukup dikagetkan dengan gosip yang beredar dari mulut ke mulut, bahwa selama liburan kemarin Fais berkencan dan liburan bersama dengan salah seorang siswi dari kelas 10!
Entah siapa gadis itu, Melisa sebenarnya tidak perduli, tapi sedikit penasaran! Siapakah gadis yang mampu memikat hati remaja itu sekarang?!
"Buset dah, si Fais udah kayak artis aja! Namanya disebut di mana-mana!" ucap Rere yang baru balik dari kamar mandi.
"Biasalah, kayak nggak tau anak-anak sini aja!"
"Eh, tapi aku penasaran, gosipnya beneran atau nggak sih?" Via nimbrung setelah menaruh tasnya di atas meja.
"Nggak tau, kalo mau tau, tuh tanya aja sama orangnya!" Melisa mengisyaratkan dengan tatapannya pada Fais yang kebetulan sedang mengobrol dengan teman-temannya di depan kelas Melisa, terlihat dari jendela kelas.
"Hiks, nggak, ah. Aku nggak sekepo itu sampai harus nanyak sama tuh orang!" ucap Via.
"Tadi katanya penasaran!"
"Kan yang penasaran Rere! Bukan aku!"
"Sama aja!" Tegas Melisa.
"Iya deh iya!" Via mengalah, membuat Melisa tersenyum puas.
"Eh nanti abis pulang sekolah jalan bareng yak!" ajak Via, memulai misinya.
"Mau kemana?" sahut Rere.
"Emmm, enaknya ke mana? Aku sih pengen makan ayam geprek yang di Ayam Square? Kalo kalian?"
"Ya udah ke sana aja!" sahut Melisa, Rere mengangguk mengiyakan.
"Ya udah, deal, ya. Kita ke sana abis pulang sekolah! Aman kan, Mel? Nggak dimarah, Ayah?"
"Aman!" Melisa mengacungkan jempolnya, Melisa cukup memberi tahu dan meminta izin pada Ayahnya. Dan pasti diizinkan asalkan pak Tio pergi bersamanya!
* * * *
^^^@Callmeviy_ :^^^
^^^Jadi hari ini, sekitar jam 2 kita sudah sampai sana!^^^
@Gyuandr_ :
Oke, terimakasih untuk informasinya. Aku pasti udah di sana sebelum kalian datang!
"Kok aku takut ya Ayah Melisa bakal marah, kalo sampai dia tau Melisa ketemu sama Gibran! Hiks, Aku takut bakal kena marah juga! Tapi mau gimana lagi, mau nggak mau aku harus temuin mereka berdua! Huh, semoga aja Ayahnya Melisa nggak curiga kalo aku yang bantuin Gibran kali ini."
Batin Via.
* * * * *
Mama :
Gibran, bisa anterin kue buat Euni nggak?
^^^Gibran :^^^
^^^Maaf, Ma. Gibran nggak bisa kalo sekarang, Gibran udah ada janji.^^^
Mama :
Mama udah tanya Gama tadi, katanya kamu nggak ada jadwal penting siang ini!
__ADS_1
^^^Gibran :^^^
^^^Iya, Ma. Ini emang nggak ada hubungannya sama kerjaan. Tapi janjiannya udah dari beberapa hari yang lalu, jadi nggak bisa dibatalin sekarang, Ma.^^^
^^^Suruh ambil sendiri aja kuenya!^^^
Mama :
Ya udah, tapi nanti jangan lupa, kamu udah janji juga sama Mama buat ganti makan malam bareng sama Euni!
^^^Gibran :^^^
^^^Liat nanti aja ya, Ma🙂^^^
Mama :
Oke, jangan sampai ngehindar lagi!
Gibran menyimpan kembali Handphone-nya ke dalam saku, masih 5 jam lagi sebelum Melisa pulang sekolah! Sekarang 5 jam terasa seperti bertahun-tahun lamanya bagi Gibran!
"Euni lagi, Euni lagi dan selalu Euni!"
* * * * *
"Loh, Gibran mana?" tanya Rozi pada sekretaris Gibran. Karena tidak menemukan Gibran di ruangannya!
"Lagi keluar makan siang, Tuan."
"Sama Gama?"
"Tidak, sepertinya Tuan Gibran pergi sendiri!"
"Oh, ya sudah, terimakasih kalau gitu!" Rozi kembali ke ruangannya, tadinya ia ingin membicarakan beberapa hal pada Gibran, terkait dengan Euni, gadis yang beberapa hari ini Rozi telusuri kehidupannya!
*📍*Ayam Square
Via sengaja berjalan di belakang Melisa dan Rere, agar dapat bertukar pesan dengan Gibran, untuk menanyakan di mana posisinya. Namun tiba-tiba saja, Melisa menghentikan langkahnya, membuat kepala Via berbenturan dengan punggung Melisa!
"Eh, maaf, Vi. Maaf!" Seru Melisa.
"Kenapa, Mel? Kok tiba-tiba berhenti?"
"Emmm, nggak apa-apa, kita mau duduk di mana?"
"Meja 24, tadi aku udah pesen mejanya!"
"Dua empat ya?" gumam Melisa. Meja yang sama seperti meja yang dia pesan dengan Gibran dulu!
"Loh, itu siapa?" tanya Rere saat melihat seseorang sudah menduduki meja dengan nomer 24. Pria itu duduk membelakangi mereka!
"Nggak tau!"
Namun tetap saja, ketiga gadis itu melanjutkan langkahnya menuju meja!
"Permisi?" ucap Melisa, Gibran menoleh hingga manik hitamnya bertatapan langsung dengan Melisa kaget dengan kehadiran Gibran!
"Gibran?" Melisa mundur selangkah, meraih lengan Rere.
"Kalian di sini juga?" Gibran pura-pura bertanya.
"Iya, ini meja kita!" jawab Via.
"Meja kalian, ya? Maaf, tadi Mbaknya nyuruh aku duduk di sini!"
__ADS_1
"Emmm, nggak apa-apa, duduk aja, kita pesen meja lain aja, Vi!" ucap Melisa, ia menarik ujung seragam Via, mengajak Via untuk segera menjauhi Gibran!
"Melisa?" panggil Gibran, menghentikan langkah ketiganya, Rere yang tidak tau apa-apa celingak-celinguk, takut kalau ada orang suruhan Ayah Melisa di sekitar mereka! Via pun tak kalah takutnya!
"Iya?"
"Boleh ngomong sebentar?"
"Sama aku?"
"Iya, sebentar aja. Boleh?"
Melisa menatap Via dan Rere bergantian.
"Emmm, kayaknya penting deh, Mel!" bisik Via. Akhirnya Melisa menyetujui, ia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Gibran, sementara Via dan Rere kembali ke bagian kasir untuk memesan meja!
Melisa menatap jemarinya, terlalu gugup jika harus menatap wajah Gibran, terlebih Gibran sedang menatapnya sekarang!
"Emmm, mau ngomong apa?"
"Aku kangen, Mel. Kamu nggak kangen sama aku?" lirih Gibran.
Hiks, pertanyaan macam apa ini! Jelas kangen lah!!
"Gibran, kamu tau kan posisi kalau--"
"Aku udah ketemu sama Ayah kamu!"
Mendengar ucapan Gibran, Melisa langsung mengangkat pandangannya, menatap wajah Gibran yang tersenyum hangat.
"Ayahku?"
"Iya, aku siap dengan semua resikonya, aku juga nggak keberatan kalau harus nungguin kamu tiga, empat atau lima tahun lagi! Aku mencintaimu, Melisa. Aku ingin terus bersamamu, kamu tau itu?"
"Tapi Gibran---"
Gibran meraih tangan Melisa, menggenggamnya erat. "Liat aku, Mel!"
"Kamu mau kan, jalanin semuanya sama-sama? Aku nggak bisa berjuang sendiri, aku butuh dukungan kamu juga, Melisa..."
"Tapi, kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa, aku juga terpaksa harus kubur dalam-dalam lagi harapan tentang kita! Aku nggak mau maksa kamu, Mel."
"Gibran?"
Gibran yang tadinya hanya menatap meja kembali menatap wajah Melisa.
"Kamu nggak apa-apa, kan? Ayah nggak nyakitin kamu, kan?"
Gibran menggeleng sembari tersenyum tipis. "Aku nggak apa-apa, Melisa."
"Emmmm, aku mau minta maaf, aku ngelakuin semua ini buat keselamatan kamu, aku takut orang-orang suruhan Ayah bakal nyakitin kamu! Maaf kalo waktu itu aku tiba-tiba jauhin kamu!"
"Iya, aku ngerti kok, terimakasih udah khawatirin aku."
"Emm, satu lagi-"
"Iya?"
"Aku-" Melisa menatap Gibran sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya, tangan kanannya masih dalam genggaman tangan Gibran di atas meja.
"Iya? Kamu?"
"Aku belum bisa jawab sekarang! Maaf, Gibran!"
__ADS_1