Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01: Pilihan!


__ADS_3

Melisa mematung di depan pintu setelah melihat Ayahnya masuk ke dalam rumah yang ia tinggali!


"Ayo masuk, Ayah ingin bicara denganmu!" ucap Tania sambil menggandeng tangan putrinya!


Melisa menoleh pada Arkan dan Erlan, kedua bocah itu menggeleng, tanda mereka tidak tau apa-apa!


Felix sudah terlebih dulu duduk di sofa, posisinya berhadapan sekarang dengan Melisa dan Tania! Tatapannya terfokus pada Melisa yang memilih untuk menatap lantai, sesekali melirik pada Ayahnya.


"Melisa?"


"I-iya, Yah?" Gugup Melisa menjawab panggilan Ayahnya. Tangannya mencengkram sofa samar.


"Jauhi dia!"


Melisa mendongak, memberanikan diri untuk menatap sang Ayah. "Dia? Siapa, Yah?"


"Pria ini!"


Felix melempar sebuah foto yang menunjukkan Melisa dan Gibran yang sedang memilih baju di dalam Mall waktu itu!


"Jauhi dia, jangan pernah bertemu atau saling menghubungi lagi!"


"Jadi selama ini Ayah sudah mengetahui kedekatanku dengan Gibran?" Batin Melisa.


"Kami hanya berteman, Yah. Tidak lebih." Melisa menatap Mama, belum mengerti apa sebab kenapa tiba-tiba Ayah memintanya menjauhi Gibran!


"Jauhi dia, atau jauhi Via dan Rere?!"


"Maksud Ayah?"


"Jika kamu tidak mau menjauhi pria itu, maka biarkan Ayah yang menjauhkanmu dari mereka semua!"


"Tunggu, Melisa butuh alasan untuk menjauhi pria sebaik Gibran? Apakah Ayah punya alasannya?"


Felix menghembuskan napas pelan. Felix menatap Melisa lekat-lekat. "Dia tidak baik untukmu, Melisa!"


"Ayah tau dari mana Gibran tidak baik? Apakah Ayah mengenalnya?"


Tania menyentuh lengan Melisa sembari menggeleng pelan. Memberikan isyarat, takut Melisa melewati batas!


"Pria itu hanya ingin menyakitimu! Dia hanya ingin menghancurkan masa depanmu, Melisa! Mengertilah!!!"


"Bahkan Melisa nggak pernah ngerti dengan sikap Ayah! Lalu bagaimana bisa, Melisa bisa ngerti dengan apa yang Ayah inginkan sekarang?"


"Jadi kamu tidak mau menjauhinya? Baiklah, kemas barangmu! Kita pergi sekarang!" Felix berdiri, membuat Tania ikut berdiri dan menahannya.


"Tenanglah..." ucap Tania lembut sambil mengelus pelan punggung Felix.


"Ayah?" Melisa tertunduk menatap lantai. "Kalau memang Ayah tidak menyukai Gibran dan tidak suka Melisa dekat dengan Gibran, Melisa akan menjauhi Gibran! Tapi, apakah setelah Melisa menjauhi Gibran, Melisa bisa dekat dengan Ayah?"


Air mata Melisa sudah siap menetes membasahi pipi. Dengan sekuat tenaga Melisa menahan agar tangisnya tak pecah!


"Setidaknya setelah kehilangan orang yang selalu membuat Melisa merasa bahagia, Melisa bisa mendapatkan kebahagiaan yang Melisa cari selama ini! Melisa juga pengen kayak Via dan Rere! Mereka dekat dan disayangi oleh Papa Mama mereka! Setiap ada kesempatan akan pergi jalan-jalan bersama! Setiap makan akan duduk di meja makan yang sama! Melisa hanya ingin itu, Yah? Apakah Melisa bisa mendapatkannya?"


Rasa sesak, sakit dan perih tiba-tiba memenuhi dada Felix, tidak ada perkataan yang pernah menyakiti hati Felix seperti perkataan yang Melisa katakan saat ini! Ini sangat menyakiti hatinya sebagai seorang Ayah! Felix benar-benar merasa gagal memberikan kebahagiaan yang anaknya impikan!


"Melisa?" Felix merentangkan kedua tangannya, menatap Melisa yang sudah bergelimang air mata!


"Kemarilah!"


Tania mengangguk pelan saat Melisa menatapnya.


Melisa mendekap tubuh Felix erat, melepas semua perasaan yang selama ini tertahan. Dalam dekapan sang Ayah Melisa merasakan kenyamanan, kehangatan dan ketenangan yang selama ini tak pernah ia dapatkan.


Saat Ayah mengecup keningnya, Melisa merasa ada energi yang begitu kuat masuk ke dalam tubuhnya, memenuhi setiap ruang kosong dan menghidupkan kembali beberapa kenangan indah yang hampir punah!


Apakah ini hanya mimpi? Batin Melisa. Jika benar ini hanya sebuah mimpi, maka biarkan Melisa tidur lebih lama lagi! Biarkan Melisa menikmati mimpi indah ini! Tolong siapapun itu, jangan ganggu tidur Melisa! Jangan bangunkan Melisa dari mimpi indahnya!


Tania menyeka air matanya, ia ikut mendekap Melisa, tak tahan lagi untuk membohongi diri! Bahwa dia sangat menyayangi anak perempuannya itu, bahwa dia juga sangat takut kehilangan Melisa!


"Kamu mau kan melakukannya untuk Ayah?!"


Melisa mengangguk pelan, meski ada bagian dalam dirinya yang tidak rela untuk menjauhi Gibran! Meski ada bagian yang terasa sakit sekarang! Namun jika dibandingkan dengan perasaan bahagia yang dia rasakan, maka jelas saja akan mengalahkan semua rasa sakitnya!


Maaf, ini mungkin terkesan egois, aku hanya mementingkan kebahagiaanku sendiri! Maaf, Gibran, maafkan aku! Batin Melisa.

__ADS_1


"Melisa masih bisa bertemu Rere dan Via kan, Yah?"


"Iya, tapi ada syaratnya!"


"Syarat?" gumam Melisa, ia mengerti sekarang, dekat dengan Ayah berarti harus ikut dengan peraturan Ayah! Sebagaimana Arkan dan Erlan! Iya, kan?


****


[Belum Terbiasa]


"Melisa? Makan, Nak, jangan melamun!" ucap Om Noah. Mereka sekarang sedang makan siang bersama di sebuah restoran yang berada di bawah kepemilikan Om Noah!


"Iya, Om." Melisa menatap Ayah dan Mama, rasanya sedikit aneh jika tiba-tiba makan bersama seperti sekarang ini! Ada rasa canggung dalam diri Melisa! Mungkin karena Melisa belum terbiasa, ya?


Melisa menarik napas pelan, tadi sebelum berangkat ke restoran, Ayah sempat meminta Handphone nya, dan sampai sekarang belum dikembalikan!


Jujur saja Melisa masih sedikit bingung dengan semua ini, kenapa semuanya tiba-tiba? Ayahnya yang tiba-tiba berubah 360° tanpa sebab akibat! Lalu tiba-tiba menyuruh Melisa untuk menjauhi Gibran dengan alasan Gibran akan menyakitinya? Sebenarnya apa yang terjadi sebelum ini? Sampai Ayahnya bisa berpikir Gibran akan melakukan hal itu?


"Ayah, Mama, Melisa izin ke belakang ya?"


"Mau Mama temenin?" ucap Tania.


"Nggak apa-apa, Melisa sendiri aja, Ma!"


"Jangan lama-lama, ya!" ucap Felix.


"Iya, Yah!"


Entah datang dari mana rasa sesak di dada Melisa, ketika mengingat sepotong momen saat bersama Gibran! Senyuman pria itu tiba-tiba muncul di pikirannya! Menimbulkan rasa sesak dan sakit di hati Melisa!


"Kenapa sesakit ini?" Melisa mencengkram kuat pinggiran wastafel! Padahal belum apa-apa tapi dia sudah sesakit ini! Bagaimana jika besok dia dengan jelas menghindar dari Gibran!


"Gimana cara jelasin ke Gibran? Sedangkan untuk bertemu dan saling menghubungi saja Ayah melarangku!"


"Via? Ya aku masih bisa mengandalkan Via!"


Melisa membasahi tangan, menyeka beberapa tetes air mata yang tak bisa Melisa tahan!


"Kak Melisa?"


"Loh Livi?"


"Bener Kak Melisa kan?"


"Iya." Melisa tersenyum kaku.


"Kirain salah orang tadi!"


"Hehehehe, ke sini sama siapa?" Entah pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari bibir Melisa!


"Sama temen-temen, kebetulan tadi abis kerja kelompok! Kalo Kak Melisa? Sama Kak Rere dan Kak Via?"


Melisa menggeleng pelan. "Sama keluarga!"


"Oooo, kirain sama Kak Gibran, hahaha!"


"Hahaha, nggak lah!" Bibir bisa tersenyum dan tertawa! Tapi tidak dengan hati Melisa!


"Yang akurnya, ya, Kak! Jangan kebanyakan berantem! Kak Gibran memang suka jahil dan usil sih! Tapi aslinya dia baik banget, kok! Hehehehe, sanjung Kakak sendiri nggak apa-apa kan?!"


"Hahaha, nggak apa-apa, wajar aja sih! Lagian Gibran orangnya emang baik!"


Livi tersenyum, ia meraih tangan Melisa, menatap Melisa lekat. "Livi titip Kak Gibran ya, Kak! Livi nggak pernah liat dia sebahagia sekarang ini! Itu semua setelah Kak Gibran mengenal Kak Melisa!"


Melisa tertunduk, satu sisi ia bahagia jika mendengar Gibran bahagia karenanya, tapi satu sisi juga Melisa takut Livi kecewa! Melisa tidak ingin memberikan harapan apapun pada Livi atau Gibran!


"Doain yang terbaik aja, ya, Livi!"


"Iya, Kak."


Melisa balas tersenyum. "Kalo gitu aku duluan ya, sampai jumpa lagi, Livi!"


"Dadah Kak Melisa!"


Livi menatap punggung Melisa, dari raut wajah dan reaksi Melisa tadi, Livi rasa ada yang Melisa sembunyikan darinya?!

__ADS_1


"Apa mereka lagi ada masalah ya?" gumam Livi. "Coba nanti aku tanya Kak Gibran deh!"


*****


[Gelisah]


Gibran menatap jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam! Tapi notifikasi dari Melisa tak kunjung tiba!


"Apa acaranya belum selesai? Atau apa mungkin dia kecapean sehabis acara kali, ya?" gumam Gibran! Pria itu keluar kamar, duduk di tepi kolam. Sejak Rozi tidak lagi tinggal di apartemen nya, sejak itulah Gibran selalu pulang ke rumah Mama dan Papanya! Tak betah jika sendiri di apartemen! Kadang hanya mampir untuk mengambil beberapa barang saja!


"Kak Gibran?" Livi ikut duduk di samping Gibran, kebetulan dia ke dapur untuk mengambil minum dan melihat pintu belakang terbuka! Ternyata ada Gibran yang sedang termenung di tepi kolam!


"Belum tidur?" tanya Gibran, namun pandangannya tertuju pada langit malam.


"Belum ngantuk, Kak Gibran kenapa belum tidur?"


"Belum bisa tidur!"


"Ada masalah kah di kantor?"


"Nggak ada sih!"


"Terus?"


"Lagi kepikiran sama Melisa aja!" Gibran senyum-senyum sendiri!


"Eh, tadi siang Livi ketemu sama Kak Melisa di Restoran!"


"Iyakah?"


"He'em, kebetulan Kak Melisa juga lagi makan siang di sana sama keluarganya! Gitu sih katanya!"


"Dia memang ada acara keluarga hari ini!"


"Gitu ya! Kalian nggak lagi berantem kan?" Livi menatap Gibran.


"Nggak! Baik-baik aja!"


"Syukur deh kalo gitu! Kirain lagi berantem!"


"Menurut Livi, Kak Melisa orangnya seperti apa?!" tanya Gibran.


"Kak Melisa? Dia orangnya baik, manis, cantik, nggak sombong kayak Kakak kelas yang lain!"


"Dia memang manis!" gumam Gibran, ia menggeleng pelan saat bayang-bayang wajah Melisa menghantui pikirannya!


"Kalian pacaran ya?"


"Belum!"


"Eh kirain udah pacaran!"


"Nggak semudah itu buat dapetin Melisa! Takutnya dia malah risih sama Kakak!"


"Terus? Mau nunggu sampai kapan?"


"Sampai ada kesempatan yang tepat!"


"Jangan kelamaan loh, keburu ditikung orang!" ucap Livi sambil menyikut lengan Gibran.


"Hahaha, siapa yang berani rebut Melisa dari seorang Gibran Yuandara!"


"Emmm, awas nanti ditikung orang baru tau rasa! Panik sendiri! Ha-ha-ha!"


"Nggak bakal terjadi!"


"Iya-iya si paling percaya diri!" Livi bangkit, ia mengulurkan tangannya pada Gibran. "Masuk, Kak! Nanti masuk ingin loh di sini!"


"Iya ini mau masuk! Tapi boleh buatin Kak Gibran teh anget dulu, nggak?"


"Boleh, boleh! Tunggu sebentar ya!"


"Sekalian bawain ke kamar!" Teriak Gibran. Livi hanya mengacungkan jempolnya! Gadis itu sebenarnya sangat senang karena Gibran mau tinggal lagi bersama mereka! Setidaknya suasana rumah ini lebih ramai kalo ada Gibran! Walaupun Livi selalu menjadi babu pribadi Kakaknya itu!


Hahaha, canda babu!

__ADS_1


__ADS_2