
Livi berlari memasuki gedung sekolah, 2 menit lagi bel masuk akan berbunyi, dia tidak punya waktu yang lebih banyak lagi. Belum lagi harus menghadapi Kakak kelas yang bertugas mengecek perlengkapan.
"Stop!" Rere menatap ke arah Livi. Memberikan isyarat agar Livi berdiri di depannya.
Rere mengamati penampilan gadis di depannya. Mulai dari rambut, baju, rok sampai sepatu. Semuanya mengikuti aturan dan tata tertib sekolah. Kecuali satu hal-
"Anak baru atau pindahan?" tanya Rere.
"Baru, Kak." Livi melihat jam tangannya, mati sudah, ia telat.
"Besok bet namanya dipasang, ya. Untuk hari ini kamu lolos!" Rere memberikan jalan lewat untuk Livi. Gadis itu tersenyum sembari mengangguk sopan pada Rere.
"Tunggu, nama kamu siapa?"
"Livi Yuandara, Kak!" Livi sekali lagi tersenyum sebelum akhirnya berlari untuk mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa hari terakhir.
"Yuandara?" gumam Rere sambil menatap bayangan Livi yang sudah hilang beberapa detik yang lalu.
"Kayak nggak asing, tapi aku lupa dimana aku pernah dengar nama itu!"
...****************...
Rere duduk di samping Melisa yang sedang sibuk menikmati nasi goreng yang ia pesan. Sementara Via baru saja meletakkan bakso dan air botolnya di atas meja.
"Emm, Vi, kamu asing nggak sama nama Yuandara?" tanya Rere. Dia masih penasaran dengan nama itu.
"Nggak asing, kenapa?"
"Nggak, tadi soalnya ada anak baru, namanya Livi Yuandara. Tapi aku masih bingung, aku pernah denger nama Yuandara di mana, ya?"
"Itu loh, Om Gibrannya Melisa-"
Melisa menatap Via yang telah membawa dan menyangkut pautkan namanya dengan Gibran.
"Nama lengkapnya kalo nggak salah, Gibran Yuandara!" lanjut Via.
"Mungkin nggak sih mereka keluarga?" gumam Rere.
"Mungkin, iya. Mungkin juga nggak!" Sahut Via. Sementara Melisa hanya menyimak saja. Malas untuk ikut-ikutan.
"Eh, Mel! Gimana sama Om Gibran?" tanya Via.
"Gimana apanya?"
"Ya keputusan kamu, mau kasih kesempatan atau nggak?"
Rere sudah mengambil ancang-ancang untuk menginjak kaki Via di bawah meja kantin.
"Belum, aku masih ragu!"
"Ragu karena?"
Rere menatap Via, memberi isyarat agar tidak membahas Gibran lagi dengan Melisa.
"Banyak hal, salah satunya, aku ragu sama diriku sendiri. Apa aku pantas buat dicintai oleh orang seperti Gibran?
"Hei!" Via langsung menatap wajah Melisa. "Kamu pantas, bahkan sangat pantas buat dicintai dan disayangi oleh semua orang!"
"Hanya orang yang nggak pantas buat kamu aja yang bikin kamu nggak pantas juga buat dia!" Tegas Rere.
"Aku nggak mau ya denger kamu bilang gitu lagi, itu bukan alasan yang masuk akal! Siapa yang berani bilang kalo kamu nggak pantas buat dicintai? Sini, biar aku injek lehernya!" sahut Via.
"Itu fakta."
"Melisaaa!" Via sudah melotot sampai bola matanya mau keluar. "Sekali lagi ya, aku nggak bakal mau ngomong lagi sama kamu!"
"Iya-iya."
Melisa kembali fokus dengan nasi gorengnya. Namun masih menyimak percakapan antara Via dan Rere yang sibuk menebak apakah benar Livi Yuandara itu adalah keluarga dari Gibran Yuandara?
"Kenapa kalian sibuk sekali sih mikirin hubungan gadis itu dengan si Om Gibran? Kalo emang iya, apa untungnya? Dan kalo nggak, apa ruginya?" akhirnya Melisa pun ikut mengeluarkan suara.
"Ya nggak apa-apa, cuman penasaran aja, ya kan, Vi?"
"He'em."
"Tinggal tanya langsung aja ke orangnya, gitu aja susah!" gumam Melisa.
"Kamulah yang tanya!"
"Aku?" Melisa menunjukkan dirinya sendiri. "Kenapa malah aku, kan yang penasaran kalian berdua?!"
"Tapi yang sering chatingan sama Om Gibran kan kamu!" ucap Via tak mau kalah.
"Kata siapa aku sering chatingan sama dia?"
"Tuh kata Hpmu!" Via menunjuk benda pipih di samping tangan Melisa.
__ADS_1
"Nggak, aku nggak pernah chatingan sama dia!"
Melisa langsung memasukkan Handphone-nya ke dalam saku.
"Huh bilang aja kamu malu buat ngaku! Iya kan, Re?"
Rere menggedikkan bahu. Dari awal ia tidak ingin ikut campur urusan percintaan sahabatnya. Tapi jika memang mereka membutuhkan Rere, dengan senang hati Rere akan membantu!
"Kamu nggak asik, Re!"
"Nyenyenyenye, bodoamet!"
Melisa sibuk dengan pemikirannya sendiri. Semalam dia sudah mengambil keputusan, mengikuti apa yang hati kecilnya katakan. Tapi masih ragu juga, apakah ia bisa menemukan sebuah kebahagiaan dalam keputusannya?
"Mel, ayo balik ke kelas!" ajak Via.
"Kalian duluan aja, aku mau ke toilet dulu!"
"Ya udah, jangan lama-lama!"
Rere dan Via kembali ke kelas terlebih dahulu, sedangkan Melisa mampir ke toilet terlebih dahulu.
"Oke, apa salahnya aku coba buat nerima kehadiran orang baru lagi. Kalo emang nggak ada kecocokan, aku bakal bilang nanti!"
Ya. Melisa sudah mengambil keputusannya. Dia akan mencoba untuk menerima kehadiran Gibran. Menerima semua pesan masuk dari pria itu.
...****************...
"Mel, pulang bareng aku, ya?" ucap Via, tangan kanan gadis itu sudah merangkul bahu Melisa.
"Emmm, kamu sama Rere pulang duluan aja. Soalnya aku mau belanja dulu sebelum pulang ke rumah!"
"Nggak apa-apa, nanti aku temenin!" ucap Via.
"Nggak, Vi. Aku bisa sendiri. Kamu pulang aja, nggak apa-apa, kok!" Melisa mendorong Via agar gadis itu cepat masuk ke dalam mobilnya.
"Yakin mau pergi sendiri, Mel?" tanya Rere khawatir.
"Iya, Re. Jangan khawatirin aku, aku udah besar, bukan anak kecil lagi!"
"Ya udah, kita duluan ya!"
"Iya hati-hati di jalan!" Melisa membalas lambaian tangan Via sembari tersenyum. Lalu gadis itu mundur dan duduk di kursi tunggu. Menunggu Grab pesanannya datang.
Untuk menghindari rasa bosan. Melisa pun mengeluarkan Handphone-nya dan menyalakan data seluler. Ada banyak notifikasi baru dari Instragram. Salah satunya banyak pesan masuk dari akun Instagram Gibran.
@Gyuandr_ :
Maaf kalo ganggu waktu kamu.
Melisa?
Lagi nungguin siapa? Nungguin aku?🤣
^^^@Melisadwiprtw :^^^
^^^???^^^
@Gyuandr_ :
Sebelah kiri kamu. Mobil paling ujung!
Melisa menoleh ke arah barat. "Mobil paling ujung?"
Selang beberapa detik, seorang pria dengan setelan rapi keluar dari mobil hitam yang memang berada di ujung jalan. Pria itu berdiri menghadap Melisa.
Melisa langsung memalingkan wajahnya. "Kenapa dia ada di sini?"
@Gyuandr_ :
Boleh aku ke sana?
^^^@Melisadwiprtw :^^^
^^^Jangan!^^^
@Gyuandr_ :
Ya udah nggak apa-apa. Aku liatin dari sini aja, ya?🤣
^^^@Melisadwiprtw :^^^
^^^Ada urusan apa di sini?^^^
@Gyuandr_ :
Urusan ya?
__ADS_1
Jemput adikku sih, tapi niat dari hati buat ngeliatin kamu pulang sekolah setiap hari!
^^^@Melisadwiprtw :^^^
^^^Dihhh^^^
@Gyuandr_ :
Tumben nggak pulang bareng Via?
^^^@Melisadwiprtw :^^^
^^^Iya.^^^
^^^Adikmu Livi Yuandara?^^^
@Gyuandr_ :
Iya, kamu kenal?
Melisa berdiri, karena Grab pesanannya sudah datang. Gadis itu tidak membalas lagi pesan Gibran. Namun ia sempat menoleh ke arah Gibran sebelum masuk ke dalam mobil.
Mengetahui Melisa merespon chatnya lagi dan mau melihat ke arahnya membuat jantung Gibran berdetak lebih kencang. Saking senangnya, Gibran ingin loncat dan berteriak sekencang mungkin. Tapi karena dia masih sadar ini adalah tempat umum, Gibran pun menahan diri dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Itu artinya dia mau PDKT denganku?" tebak Gibran.
Livi masuk ke dalam mobil, dia memperhatikan raut wajah Gibran yang terlibat begitu senang. "Habis ketemu sama cewek yang Kak Gibran suka, ya?"
Gibran menoleh. Tapi tak memberikan jawaban apapun.
"Kapan nih, Livi dikenalin sama dia?"
"Bukannya kalian udah kenal?"
"Hah? Livi kenal sama dia? Siapa namanya?"
Gibran malah menunjukkan ekspresi bingung sekarang. Bukankah Melisa mengenal adiknya? Apa mungkin cuman Melisa mengenal Livi? Tapi Livi tidak mengenal Melisa? Bagaimana bisa?
"Siapa namanya, Kak?!"
"Melisa Dwi Pratiwi, kelas 12 IPS!"
"Melisa?" Livi tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Bahkan dia tidak mengenal satu orang pun yang bernama Melisa di sekolah ini.
"Kakak kelas 12 IPS ya? Gampang, nanti Livi cari tau!" gumam gadis itu.
"Boleh ceritain sedikit tentang dia?"
Gibran menyalakan mobil, lalu berdehem untuk memulai cerita. Gibran menceritakan awal pertemuannya dengan Melisa, tanpa menambahkan dan mengurangi sedikit pun.
"Aaaaa, pengen liat foto Kak Gibran sama Kak Melisa itu dong!" Rengek Livi sembari kepalanya menempel pada lengan Gibran.
"Sekali aja ya?"
Gibran menunjukan foto itu pada Livi. Namun hanya beberapa detik saja.
"Belum Kak, belum jelas!!"
"Kesempatan udah habis!" Gibran keluar dari mobil, disusul oleh Livi. Gadis itu berlari sambil terus merayu Gibran agar Gibran memperlihatkan foto itu sekali lagi.
"Sussst, jangan ribut, nanti Mama nanya-nanyain!"
"Makanya kasih liat lagi!"
"Iya-iya nanti Kak Gibran kirimin!"
"Sekarang!"
"Astaga nih anak!"
"Hehehehe." Livi cengengesan saat Gibran benar-benar mengirim foto itu padanya.
"Tenang aja, nanti Livi bantuin buat PDKT sama Kak Melisa!"
"Liviii!"
"UPS." Gadis itu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Gibran yang katanya ingin makan siang di bawah.
...****************...
Melisa meletakkan keresek belanjaan di atas meja makan. Lalu duduk di kursi untuk beristirahat sejenak sebelum menata semua barang yang ia beli tadi pada tempat masing masing.
"Berarti beberapa hari ini dia sering merhatiin aku dari jauh, ya?" gumam Melisa. "Tapi kok kebetulan sekali sih adiknya sekolah di sana juga?"
Melisa menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. "Nggak ada sebuah kebetulan, kecuali semua hal di atas muka bumi ini atas kehendak Tuhan."
Gadis itu tersenyum. Kembali membuka mata dan mengambil keresek belanjaan, menata rapi beberapa barang ke dalam kulkas dan meja dapur.
__ADS_1
"Aku nggak mau berharap banyak, cukup aku pernah ngerasain sakitnya dihancurin sama harapanku sendiri!"
...****************...