Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 01 : Bioskop


__ADS_3

Sejak sampai di Mall Melisa terus berjalan di samping Gibran. Kadang Gibran sesekali menjahili dengan merangkul bahu dan mengajak rambut Melisa. Yang diacak rambut, tapi yang ketar-ketir malah hati! Dasar, Melisa!


Keduanya memasuki salah satu tokoh baju bagian pria. Katanya Gibran ingin membeli kemeja putih dan baju kaos. Melisa ikut membantu Gibran mencari baju kaos, sedangkan Gibran lebih fokus ke kemeja putihnya.


"Suka ini nggak?" Melisa menunjukkan kaos hitam dengan gambar mobil berwarna putih di bagian depan, untuk ukuran sepertinya pas dipakai oleh Gibran.


"Kamu suka?" Gibran balik bertanya.


"Iya, suka."


"Ya udah, itu satu, pilih lagi yang banyak!"


"Mau yang warna apa aja?"


"Intinya, yang kamu suka!"


Melisa mendengus, jika disuruh memilih mana yang dia suka, tentu saja Melisa akan memilih seisi toko! Melisa suka semuanya!


"Bentar ya, aku mau cobain ini dulu!" ucap Gibran sambil menunjukan kemeja putih lengan panjang yang ia pegang.


"Iya!"


Gibran masuk ke dalam ruang ganti, ia lebih suka mencoba langsung tanpa ada baju kaos lagi di dalam, agar Gibran tau, kulitnya nyaman atau tidak menggunakan kemeja itu.


Tidak sampai 3 menit, pria itu pun keluar tanpa mengancing 3 bagian teratas kemejanya. Dengan senyum cengir ala kuda, ia mendekati Melisa. "Tolong pasangin kancingnya!"


"Gak mau!" Melisa membuang muka. Yang benar saja ya Gibran ini! Ada aja tingkahnya!


"Ayo, please!"


"Tetep nggak!"


"Sekali aja, Melisa yang cantik, manis dan baik hati, please!"


Hups. Gadis itu mendekat, tangannya dengan telaten mengancing kemeja Gibran lalu yang terakhir merapikan kerah kemeja.


"Melisa?"


"Iya?"


"Nikah yuk!"


Melisa refleks memukul dada Gibran. "Ngajak nikah, udah kayak ngajakin beli kacang aja!"


"Hahaha, tapi kamu mau kan?" Gibran mengikuti langkah Melisa, berdiri di depan kaca, memperhatikan penampilannya. Bayangkan pria tampan menggunakan celana hitam selutut lalu kemeja putih lengan panjang. Jangan banyangkan lengannya di lipat sampai siku, ya! Ini tidak dilipat! Full kancing! Bukankah itu terkesan sangat aneh dan lucu?


"Pede banget ya!"


"Jadi kamu nggak mau nih?" goda Gibran.


"Nggak tertarik! Udah sana, ganti pakek baju kaos lagi, aneh banget kalo kayak gini!" Melisa mendorong tubuh Gibran agar masuk lagi ke ruang ganti.


"Melisa?" panggil Gibran dari dalam sana.


"Iya, kenapa?"


"Aku gantengkan pakek kemeja ini?!"


"Iya-iya, ganteng!"


Gibran senyum-senyum sendiri di dalam sana. Setelah selesai memasang baju kaosnya, Gibran pun kembali keluar dan sekarang mengikuti langkah Melisa yang masih memilih baju kaos untuknya.


"Belum cukup segini?" tanya Melisa, sudah ada 5 baju di lengan Melisa.


"Udah, kalo kamu milihinnya segitu aja?"


"Emmm, iya. Ini aja udah banyak loh!"


"Ya udah sini dulu!" Gibran menarik tangan Melisa, membawa Melisa menuju toko baju bagian wanita. "Nah sekarang giliran aku yang milihin kamu!"


"Eh, tapi aku nggak mau beli baju!"


"Aku yang mau beli!" ketus Gibran.


"Untuk Livi?" Melisa malah bertanya.


"Untukmu, Manis! Untuk Livi, lain kali saja!"


Dengan cepat tangan Gibran mengambil semua baju yang ia kira bakal cocok jika dipakai oleh Melisa!


"Udah, ih. Aku nggak mau!" Melisa menarik lengan Gibran, agar pria itu tidak memilih baju untuknya lagi! Sungguh Melisa tidak suka jika seperti ini!

__ADS_1


"Iya, iya. Sekarang kamu pilih dulu yang ada di tanganku! Minimal ambil tiga!"


"Satu!"


"Tiga! No debat!"


Melisa memejamkan matanya menarik napas pelan, berdebat dengan Gibran tak akan ada habisnya!


Pada akhirnya Melisa memilih tiga koas dengan warna biru tua, hitam dan abu di tangan Gibran.


"Melisa, sepatu itu lucu, cocok untukmu!"


"Nggak!" Melisa kembali menyerat lengan Gibran, jika biasanya cowok yang menyerat cewek agar berhenti belanja. Maka Melisa dan Gibran adalah kebalikannya!


"Ini pertama dan terakhir ya kamu kayak gini!" ucap Melisa setelah Gibran membayar semua tagihan belanjaan mereka.


"Hahaha, nggak janji!"


"Kalo gitu, aku nggak mau nemenin kamu lagi!"


"Eh, ya udah iya, janji deh. Terakhir aku maksain kamu! Oke, aku janji Melisa!" Gibran kembali merangkul bahu Melisa dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa belanjaan.


Melisa melirik ke arah tangan Gibran yang masih bertengger di bahunya, ingin menepis tapi rasanya ia juga ingin agar tangan itu terus di sana!


"Kamu tunggu dulu ya, aku mau taruh ini dulu di mobil, setelah itu kita masuk ke studio!"


Melisa mengangguk, sembari menunggu Gibran, Melisa duduk di salah satu kursi sambil memainkan Handphone.


"Melisaku?" sapa seorang pria yang begitu Melisa kenal dan tau siapa pemilik suara itu! Saat Melisa menoleh, benar saja, Fais dan dua orang temannya sudah berdiri di depan Melisa.


"Via sama Rere mana?" tanya Fais sembari menoleh ke kanan dan kiri.


"Emmm, aku nggak sama mereka!"


"Terus? Kamu sendiri? Ngapain? Kenapa nggak ngajakin aku? Kan aku bisa nemenin kamu, Sayang!" Fais duduk di sebelah Melisa, kedua teman Fais dengan cepat sedikit menjauh dari mereka.


"Kamu mau nonton juga ya?" selidik Fais. Pasalnya ia juga mau nonton dengan kedua temannya tadi, tapi bedanya Fais akan menonton film action.


"Iya, mau nonton horor!"


"Aku temenin mau? Nanti aku beli tiketnya, kamu nonton film apa?"


"MELISAKU? Hei!" Fais mengikuti arah tatapan Melisa, dan sial! Pria itu lagi! Kenapa dia ada di sini!


"Maaf aku membuatmu menunggu lama!" Gibran mengulurkan tangannya, tak peduli dengan kehadiran Fais.


"Emm, Gibran, ini Fais temen sekolah aku. Fais, ini Gibran!"


Kedua pria itu saling beradu tatap. Tidak mau menjabat tangan satu sama lain! Melihat hal itu pun Melisa tambah canggung, dan bingung harus melakukan apa lagi!


"Fais kalo gitu aku duluan ya?" ucap Melisa, sebenarnya ia sangat merasa tidak enak sekarang pada Fais. Tapi Melisa juga takut Gibran tidak nyaman dengan kehadiran Fais!


"Iya, hati-hati, Sayang!"


Gibran menatap Fais sekali lagi, dengan tatapan permusuhan! Bisa-bisanya bocah itu muncul di sini!


"Ayo!" Gibran kembali merangkul bahu Melisa, yang mana tinggi Melisa sendiri hanya sedada Gibran! Mereka terlihat begitu manis kan saat jalan bersamaan?


"Kenapa Melisa nggak nyingkirin tangan itu? Seperti dia selalu nyingkirin tanganku!" gumam Fais, ia mengepalkan tangannya meninju udara lalu melangkah menghampiri teman-temannya!


"Gagal lagi!"


"Udah aku bilang kan, sekeras apapun kamu berjuang, tapi kalo kamu bukan orang yang dia mau, ya percuma aja!" ucap salah satu teman Fais. Namun Fais tak menggubris ia malah melangkah duluan menuju studio.


...****************...


Sejak lampu bioskop mati dan film mulai di putar, pandangan Melisa terus terfokus pada layar, bahkan di saat ada adegan seram pun gadis itu tidak mengalihkan pandangannya. Tetap terlihat tenang dan sangat menikmati tontonan.


"Kamu nggak takut?" bisik Gibran. Gibran sebenarnya agak sedikit gimana gitu, bulu kuduknya sudah beberapa kali ini naik, tapi nggak mungkin kan dia bilang kalo dia sebenarnya sedikit tegang?


"Nggak." jawab Melisa. Masih dengan tatapan yang tak teralihkan. "Kamu takut?" Gadis itu balik bertanya.


"Nggak!" Elak Gibran. Ya kali takut! Hihihi, sedikit sih!


Gibran melirik ke arah tangan Melisa yang memang sebotol air mineral, tadi Gibran sudah menawarkan untuk membeli popcorn. Tapi karena Melisa kurang suka jagung, jadi dia menolak dan hanya ingin air putih saja.


"Melisa, pinjem tanganmu sebentar!" bisik Gibran lagi.


"Tanganku?" Melisa mengulurkan tangannya, gadis itu menoleh saat merasakan tangan kekar Gibran menggenggam tangannya, telapak tangan Gibran terasa sedikit dingin, apakah pria ini benar-benar ketakutan?


"Diamin begini, ya?!" Gibran menyandarkan kepalanya, mencoba untuk ikut menikmati film yang baru mencapai durasi 60 menit itu. Masih tinggal 46 menit lagi.

__ADS_1


Melisa tersenyum sesaat, bisa-bisanya pria yang mengajaknya nonton horor malah ketakutan seperti ini?! Eh mungkin bukan takut, cuman agak sedikit takut, ya mungkin lebih tepatnya begitu!


Persetanan dengan setan boongan!


Gibran menghembuskan napas lega begitu lampu bioskop kembali menyala, tangannya yang tadinya dingin sekarang menjadi keringatan, dan satu hal penting lagi, Gibran ingin ke toilet sekarang!


"Gimana, kapok?" tanya Melisa saat mereka berjalan keluar menuju toilet.


Gibran tersenyum sembari menggeleng, ia ingin cepat-cepat sampai toilet!


"Ya udah sana, aku mau ke toilet juga!" ucap Melisa, gadis itu melangkah memasuki toilet wanita, di depan kaca ia tak bisa lagi menahan tawanya setelah melihat ekspresi Gibran! Wajahnya yang tegang di beberapa adegan membuat Melisa ingin tertawa sekeras-kerasnya, tapi Melisa mencoba menahan dan tetap fokus sampai film selesai!


"Ternyata lucu juga ya ngeliat dia kayak tadi!" Gadis itu beralih menatap telapak tangannya. "Tangannya yang biasanya hangat berubah jadi dingin, genggaman tangannya yang semakin erat saat ketakutan, aku bisa ngerasain semuanya dengan jelas!"


Sementara itu di toilet pria. Gibran tertunduk lemas di depan kaca, bisa di hitung berapa kali Gibran menonton film horor dalam hidupnya, kalau pun nonton pasti ramai-ramai! Tapi entah mengapa, saat Gibran tau Melisa menyukai genre horor ia langsung kepikiran untuk menonton bersama gadis itu, tak perduli dengan dirinya sendiri, yang penting Melisa suka! Udah, itu aja!


"Huh, udah, filmnya udah selesai!" gumam Gibran, iya membasahi tanganya lalu mengusap wajahnya sekali lagi. Gibran sekarang merasa jiwa prianya entah hanyut di mana!


Tarik napas, hembuskan, tarik lagi, hembuskan lagi, begitu terus sampai Gibran menemukan titik percaya dirinya dan berani menampakkan diri di hadapan Melisa.


"Are you oke?" Melisa spontan memegang lengan Gibran, menatap wajah pria itu, sebenarnya dia merasa sedikit bersalah pada Gibran, seharusnya Gibran tidak memaksakan diri sendiri seperti ini, kan?!


"Iya, cuman sedikit kaget aja!" Gibran nyengir, bodoamet Melisa mau berpikir apa tentangnya!


"Aku juga awal nonton horor kayak gitu, tapi lama-kelamaan jadi biasa, tergantung filmnya juga sih, kan setiap film punya tingkat kehororannya masing-masing!" jelas Melisa. Gadis itu tersenyum, seolah memberikan semangat pada Gibran.


"Mau makan dulu nggak? Kali ini aku yang teraktir deh!" sambung Melisa.


"Oh tidak boleh seperti itu, yang bertanggungjawab atas kamu itu aku, bukan sebaliknya!" tolak Gibran.


"Ya anggep aja sebagai ucapan terimakasih karena udah nemenin aku hari ini! Please, mau ya!"


Huh, Gibran menghembuskan napas pelan, rasanya Gibran tidak bisa menolak permintaan Melisa!


"Baiklah, Nona. Mau makan di mana?"


"Di sini aja, ada restoran Shabu-shabu di lantai tiga!" ucap Melisa.


"Oke, sekarang kita mau cosplay jadi orang Jepang, gitu?!"


Melisa tertawa kecil mendengar ucapan Gibran. Dengan riang gadis itu berjalan menuju restoran yang sering ia kunjungi bersama kedua sahabatnya, bisa dibilang tempat ini cukup spesial bagi Melisa. Karena hanya orang-orang spesial yang mau Melisa ajak menghabiskan waktu di sini! Termasuk Gibran?


Gibran tak kunjung berhenti senyum-senyum sepanjang makan, melihat Melisa yang sudah mulai terbuka membuat Gibran ingin menghentikan waktu, cukup hanya ada hari ini, hari bersama Melisa!


"Awas, kecipratan kuah panas baru tau rasa!" sindir Melisa karena Gibran terus menatapnya sejak tadi!


"Nggak apa-apa, asal nanti diobatin sama Melisa!"


Melisa hanya menggeleng pelan. Benar-benar ya pria satu ini!


"Abis ini mau langsung pulang? atau mau mampir ngeliat sunset dulu?" tanya Gibran.


"Emmm, kayaknya next time aja ngeliat sunsetnya! Nggak enak juga sama kamu, pasti capek kan?"


"Sama sekali nggak capek, Melisa. Orang sumber tenaganya sedekat ini dari tadi!"


"Hahaha, bisa gitu ya! Tapi aku serius, loh. Kita langsung pulang ya abis ini?"


"Iya, Sayang, tenang aja, bakal dianterin pulang kok dengan aman, nyaman dan dijamin selamat sampe tujuan!"


Gibran memainkan alisnya saat ditatap oleh Melisa. Gadis itu tak mengatakan apapun lagi, mungkin capek juga ya dengerin omongan Gibran dari pagi sampai sore begini?


"Melisa?"


"Iya?"


"Terimakasih banyak ya buat hari ini, aku bahagia banget bisa ngabisin banyak waktu sama kamu!" ucap Gibran tulus.


"Iya, sama-sama. Terimakasih juga udah nemenin aku hari ini, dan terimakasih juga untuk ini-" Melisa mengangkat tas belanjaan yang berisi koas pemberian Gibran.


"Iya, sama-sama Manis! Kalo gitu, aku pulang dulu ya?!"


"Ya, hati-hati di jalan!" Melisa melambaikan tangan begitu mobil Gibran melaju dan hilang dari hadapannya.


Gadis itu mendongak, langit sore yang cerah sebentar lagi akan berubah menjadi senja, jika saya Melisa tidak menolak tawaran Gibran, mungkin mereka bisa menikmati suasana senja bersama!


"Aku nggak boleh egois, dia pasti cukup lelah hari ini, sama seperti yang aku rasain sekarang!" gumam Melisa.


Huh, hari yang cukup melelahkan tapi memberikan banyak kebahagiaan!


"Semangat, besok senin!" satu kalimat yang paling menyebalkan untuk didengar!

__ADS_1


__ADS_2