Om Gibran?

Om Gibran?
Bagian 02 : Memulai Lagi


__ADS_3

Melisa menggeliat merentangkan tangan selebar-lebarnya. Ujian semester awal sudah berakhir, sekarang waktunya menikmati ketenangan setelah hampir sebulan lebih Melisa menguras tenaga dan pikiran untuk belajar persiapan ujian.


"Huh, kurang dari enam bulan lagi!" gumam Melisa karena tahun ini adalah tahun terakhir Melisa di bangku SMA.


Setelah puas bermalas-malasan di atas kasur, Melisa pun beranjak ke kamar mandi. Dia ada janji dengan Via dan Rere hari ini!


Usai mandi dan siap-siap, Melisa mencari Ayah dan Mamanya untuk izin keluar.


"Ma?" panggil Melisa sembari melangkah mendekati Tania yang sedang sibuk dengan tumbukan kertas di atas meja.


"Iya, Sayang. Kenapa?" jawab Tania, ia menoleh, melepas semua kertas yang tadi ia pegang.


"Melisa mau keluar sama Via dan Rere."


"Mau kemana?"


"Ke Pante, Ma."


Tania berpikir sejenak, lalu tersenyum.


"Berangkat sama Pak Tio, ya! Nanti terserah kamu mau ikut mobil Rere atau Via, tapi Pak Tio tetap ikut sama kalian!"


"Iya, Ma."


"Hati-hati di jalan. Kalo ada apa-apa langsung telpon Mama atau Ayah!"


Tania mengecup kening Melisa di balas kecupan lembut di pipi oleh Melisa.


"Hati-hati bawa mobilnya, Pak!" pesan Tania pada Pak Tio.


"Baik, Nyonya."


Melisa melambaikan tangannya saat mobil mulai melaju keluar dari halaman utama.


"Mama..." gumam Melisa sembari menyentuh keningnya, hangat kecupan yang Mama berikan masih terasa di sana.


Semenjak Melisa tinggal lagi di rumah utama, banyak perubahan hebat dalam hidup Melisa, salah satunya Melisa bisa merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya lengkap dari Arkan dan Erlan juga!


Sampai kadang Melisa lupa kalo dia pernah hidup dalam kesepian sebelumnya!


"Akhirnya dateng juga!" Via berhampur memeluk Melisa yang baru turun dari mobil.


"Huh lepas, Vi! Gerah!"


Melisa mendorong Via sampai terbebas dari pelukan maut gadis itu!


"Hehehehe, ya udah yuk jalan! Rere udah nungguin tuh!"


Mereka memutuskan untuk pergi menggunakan mobil Rere, yang disupiri oleh Pak Tomi!


"Nah, akhirnya Tuan Putri kita dateng juga!" Giliran Rere yang menempel memeluk Melisa!


"Ih... Kalian pada kenapa sih!"


Melisa mendorong kepala Rere jauh jauh dari bahunya!


"Nggak ada, kangen aja!"


"Dasar! Padahal baru dua hari nggak ketemu!"


Rere tidak perduli, ia masih saja bergelayut manja memeluk Melisa.


"Mel?"


"Iya?"


"Besok aku mau pergi liburan ke Jepang!" ucap Via.


"Asik tuh, pergi sama siapa?"


"Biasalah." Maksud Via keluarga nya.


"Enak ya. Kalo kamu, Re? Mau liburan ke mana?"


"Aku nggak kemana-mana sih, cuman kayaknya bakal ke tempat nenek, soalnya Mama lagi kangen suasana desa!"


"Yah, aku sendirian dong di sini?!" lirik Melisa.


"Kamu ikut aku aja, Mel!" seru Via.


"Enak aja! Kamu kira Jepang itu di depan hidung apa?!"


"Hehehehe, gimana? Mau ya?"


"Nggak bisalah, Vi. Ayah aku nggak bakal ngizinin!"


"Oh, iya. Aku lupa!"


"Hmmm, nggak seru liburan kali ini!"


"Non Melisa?" panggil Pak Tomi.


"Iya?"


"Non Melisa nggak ada rencana gitu buat nyebrang pulau lagi?"


"Sama siapa, Pak? Rere sama Via kan nggak bisa nemenin!"


"Ya sama sepupu Non? Sama pacar juga bisa!"


"Huh nggak bisalah Pak!"


"Sama Pak Tomi aja, mau?"

__ADS_1


"Nggak!"


Pak Tomi tertawa sambil melirik kaca spion, pria itu menggeleng pelan, senang saja menggoda ketiga gadis itu untuk memecahkan suasana.


******


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam setengah. Akhirnya Melisa sampai di pantai yang mereka tuju.


Mulai turun dari mobil Melisa sudah sibuk memotret pemandangan sekitar, hembusan angin pantai menerbang rambutnya hingga beberapa kali menutupi wajah.


"Mel! Sini!" Via sudah berlari menuju pantai, sepatunya sudah berpindah di tangan, begitu pula dengan Rere!


Melisa mengambil karet hitam kecil di saku celananya, mengikat rambutnya asal.


"Tunggu!" Teriak Melisa menyusul keduanya!


"Naik perahu yuk!" ajak Via sambil menunjuk ke arah sebuah perahu yang baru menepi membawa penumpang.


"Yuk!" Ketiga melangkah mendekati perahu yang di cat dengan warna biru dan putih itu.


Namun langkah Melisa terhenti saat melihat penumpang yang baru turun dari perahu.


Livi?


"Awas pelan-pelan."


Suara itu!


Melisa mundur, menarik lengan Via.


"Tunggu, nanti dulu!" Melisa akhirnya memutar tubuhnya membelakangi perahu.


"Mau naik, Neng?" tanya sang pemilik perahu. Dua penumpang tadi sudah pergi, duduk di salah satu warung pedagang.


"Sini, Mel!" Rere mengulurkan tangannya membantu Melisa naik. Perahu itu membawa mereka berkeliling, menikmati pemandangan sekitar pantai.


"Kamu liat kan tadi, Vi?" bisik Melisa.


"Siapa?"


"Gibran sama Livi!"


"Iya, orang mereka senyum dan nyapa kita!" tegas Via.


"Serius?"


"He'em. Iya kan, Re?"


"Iya!"


"Kalian saksi, ya, kalo kita nggak sengaja ketemu sama dia di sini!" ucap Melisa yang takut kalo Ayahnya sampai tau dia dan Gibran bertemu lagi! Walaupun Melisa tidak melihat wajah Gibran, hanya melihat punggung dan mendengar suaranya!


"Iya-iya, nanti kalo Ayah kamu nanyain aku yang bakal jelasin!" tegas Via.


"Namanya juga jodoh, Re! Mau dipisahin sejauh apapun bakal ketemu lagi, iya kan, Mel?!"


"Nggak tau!" Melisa mengeluarkan Handphone-nya. Mengambil beberapa potret pemandangan bukit-bukit hijau memanjakan mata.


"Jangan gitu lagi, Vi! Kasian Melisa!" bisik Rere sambil menyikut perut Via.


Setelah puas berkeliling menggunakan perahu, mereka pun memutuskan untuk bersantai sambil memesan makanan di pinggir pantai!


"Kak Via!" teriak seorang remaja memangil Via!


Remaja yang bersama dua temannya itu pun berjalan mendekati Via.


"Kalian ke sini juga?"


"Iya, Kak. Kebetulan ketemu Kakak-kakak cantik di sini!" jawab Reno, adik kelas yang masih duduk di kelas 10.


"Emm, kita boleh join?"


Via menoleh pada Melisa dan Rere. "Silahkan!"


Ke tiga remaja itu pun ikut duduk di gubuk bambu, ikut memesan makanan juga.


Via sekilas melirik ke arah Hito, gebetannya. Eh bukan, pacar rahasia deh lebih tepatnya! Keduanya hanya mencuri-curi pandang sejak tadi.


"Eh tadi kita juga ketemu sama Livi di sana, Kak Rere tau kan, Livi Yuandara?" ucap Bisma.


"Iya, tau kok."


"Dia sama siapa ya tadi?" gumam Reno.


"Kakaknya!" Sahut Melisa yang kebetulan duduk di sebelah Reno.


"Oh itu Kakaknya?" Kini Bisma yang menyahut.


"Nggak jadi patah hati deh, huh."


Remaja itu mengelus dada, hampir saja dia galau karena mengira pria yang bersama Livi tadi adalah pacar gadis itu!


"Suka ya?" goda Via.


"Dia suka dari awal semester, cuman nggak berani ngungkapin takut di tolak!" akhirnya Hito mengeluarkan suara juga!


"Ih, ungkapin aja kali, biar lega!" Rere memberi masukan.


"Takut, Kak. Banyak saingannya!"


"Hedeh, ya udah kalo gitu, nikmatin aja tuh cinta dalam diam!"


Melisa hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


"Emmm, Kak Melisa?" panggil Reno.


"Iya?"


"Ulang tahun Kak Melisa kapan?"


"10 Januari. Kenapa?"


"Nggak apa-apa, tanyain aja."


"Kak Melisa tau nggak se----" Reno mendekap mulut Bisma.


"Nah ada apa nih?" goda Rere.


"Nggak ada, Kak. Nggak ada apa-apa!" tegas Reno dengan wajah panik!


Melisa menggeleng pelan melihat ekspresi Bisma setelah Reno melepasnya.


"Asin banget tangan Lu, Ren! Huek..." Bisma mengelap mulutnya menggunakan tisu?


"Khemmm, kalo mau ngobrol, ngobrol aja kali, nggak udah chatingan lagi!" ucap Rere karena melihat Via dan Hito sibuk dengan Handphone mereka!


Hito menggaruk tengkuknya, bagaimana pun dia canggung jika dihadapan orang banyak!


"Malu-malu si Via!" ucap Melisa. Gadis itu menyedot es kelapa mudanya sambil menatap hamparan pasir putih yang menyejukkan mata.


Kenapa aku deg-degan kan ya tadi pas denger suara Gibran?


Batin Melisa.


Padahal selama ini Melisa udah lumayan tidak kepikiran tentang Gibran lagi. Tapi untuk melihat wajah Gibran secara langsung, Melisa rasa dia tidak bisa! Tidak bisa menolak pesona Gibran maksudnya!


"Kok ngelamun, Mel?" tanya Rere.


"Nggak kok, cuman lagi mikirin kegiatan selama libur nanti!"


"Eeem, Kak Melisa mau ikut muncak nggak?" ajak Reno.


"Muncak? Aku nggak pernah sih, dan kayaknya seru! Tapi kayaknya nggak bisa deh!"


"Yah, kirain bisa!"


"Hahaha, mungkin lain kali aja!"


Bisma menepuk pundak Reno. "Sabar, sabar!"


Sementara itu, dua pasangan sejoli yang tadi malu-malu kucing sekarang sedang asik bermain di pinggir pantai!


Terlihat keduanya begitu bahagia! Tersenyum dan tertawa bersama.


"Iri deh!" gumam Rere.


"Bisma?" panggil Melisa.


"Iya, Kak?"


"Rere iri katanya sama Hito dan Via!"


"Kak Rere mau main air juga?" ucap Bisma yang peka dengan kode Melisa.


"Eng-enggak!"


"Yakin enggak?"


"Iya." Rere mengambil HP-nya, sibuk mengambil video Via dan Hito.


Huh, iri sih iri, tapi yakali aku mau kayak Via, naksir berondong! Aku kan mau jadi Sugar Baby kesayangan Sugar Daddy!


Batin Rere.


"Kak Melisa mau main air juga?" tanya Reno.


"Nggak, hehehehe, panas, aku di sini aja!" tolak Melisa. Akhirnya Reno pun diam menemani Melisa di sana, sedangkan Rere pergi mencari dagang permen karet, ditemani oleh Bisma!


*****


Livi mengikuti langkah Gibran menuju parkiran.


"Kak Gibran?"


Gibran menoleh. "Kenapa, Livi?"


"Tadi itu Kak Melisa kan?" tanya Livi tentang gadis yang berdiri di samping Via dan membelakangi mereka!


"Mungkin."


"Kenapa nggak Kak Gibran panggil?"


"Melisa aja menghindar masak iya mau dipanggil! Kan nanti menghindarnya jadi gagal!" ucap Gibran, pria itu mempersilahkan Livi masuk setelah membukakan pintu mobil.


"Kuat ya kalian saling menghindar kayak gini!"


"Hahaha, ya mau gimana lagi!"


Gibran menyalakan mesin mobil, ia sempat melihat sopir Melisa sedang memperhatikan pergerakan mobilnya!


Penjagaan yang sangat ketat, Tuan Felix!


Batin Gibran.


Livi melirik sekilas pada Gibran. Dia tau kalau Gibran belum sepenuhnya melupakan Melisa, hanya saja pria itu sedang menutupi perasaannya!


Huh, padahal dua-duanya saling suka. Tapi tetap aja nggak bisa sama-sama!

__ADS_1


Batin Livi.


__ADS_2