One Night Destiny

One Night Destiny
Pilihan Sulit


__ADS_3

Selamat membaca!


Sepanjang perjalanan Zoya memilih diam sambil melihat ke luar jendela. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada ibunya yang kondisinya sudah lebih baik setelah berhasil melewati fase kritis. Setidaknya itu yang didengar oleh Zoya dari mulut Lucas. Tak ada pilihan selain mempercayainya, paling tidak sampai besok saat di mana Zoya akan menemui ibunya dan Lucas pun sudah mengizinkannya.


"Maafkan aku, Mah. Ini semua karena kesalahanku. Seandainya aku tidak pergi ke Club waktu itu, mungkin aku tidak akan bertemu dengan pria ini," batin Zoya menahan air mata agar tak jatuh membasahi kedua pipinya. Kesedihan yang ternyata dapat terbaca oleh Bu Ayu yang duduk di sebelahnya.


"Non, yang sabar ya," bisik wanita paruh baya itu yang sudah menganggap Zoya seperti anaknya sendiri.


Zoya pun menoleh. Menatap wajah keriput Bu Ayu dengan sorot mata yang begitu teduh. Sorot mata yang nyaris mirip seperti milik ibunya. "Terima kasih ya Bu karena sudah membantuku."


Tak ada tanggapan dari Lucas. Pria itu memilih pura-pura terpejam, padahal dia mendengar apa yang dikatakan kedua wanita di belakang kursinya itu.

__ADS_1


"Jadi karena wanita tua itu, dia jadi berani padaku. Pantas saja dia sampai meminta wanita itu ikut tinggal bersamanya," geram Lucas dalam hatinya.


Sesaat kemudian pria itu tampak menarik sebelah sudut bibirnya, membentuk senyuman licik dengan rencana yang mulai timbul dalam pikirannya. "Lihat saja! Aku pasti akan menyingkirkan wanita tua itu dulu," gumam Lucas penuh rencana.


***


Setelah mengantar Zoya sampai ke apartemen, Lucas pun sudah kembali duduk di kursi belakang seperti biasanya. Raut wajahnya tampak tak bersahabat hingga sopir pribadinya yang bernama Erik tidak berani untuk menanyakan ke mana tujuan mereka saat ini. Terlebih setelah mendengar suara tuannya saat menghubungi Alden beberapa menit lalu. Saat itu, suaranya terdengar lantang seperti percikan api yang siap membakar siapa pun yang berani mengusiknya.


"Tuan, maaf mengganggu waktumu. Jadi ke mana kita akan pergi?" Akhirnya Erik bertanya saat sudah terlalu lama ia berputar-putar di simpang susun Semanggi. Sebuah jalan yang cukup ikonik menjadi simbol Jakarta karena arsitektur yang sungguh memukau, apalagi jika dilihat dari ketinggian.


__ADS_1


"Pulang saja! Aku sudah lelah. Lagi pula besok jam 9 aku ada meeting penting."


"Baiklah, Tuan."


Baru saja mobil yang dikendarai oleh Erik hendak berbelok ke arah rumah Lucas, tiba-tiba ponsel milik Lucas kembali berdering. Kali ini bukan Alden yang menghubunginya, melainkan seorang wanita yang dalam waktu dekat akan dinikahinya.


"Untuk apa dia menghubungiku?" Lucas pun melempar ponsel miliknya ke samping kursi mobil yang tak berpenghuni. Membiarkan benda pipih itu terus berdering hingga akhirnya mati begitu saja. "Aku sedang tidak ingin diganggu." Sambil menyadarkan tubuhnya, pria itu mengembuskan napasnya dengan kasar sambil mengusap wajahnya berkali-kali. Ia semakin kesal dengan kenyataan yang kini menimpa hidupnya. Selain kondisi kemandulannya yang membuatnya frustasi, Lucas juga harus menerima kenyataan bahwa dalam waktu dekat pernikahan yang tak diinginkannya dengan Flora harus terjadi. Ya, walaupun pria itu bersikeras menolak, tapi mau bagaimanapun ia tak punya kuasa melawan kehendak dari ayahnya karena perjanjian yang satu bulan lalu telah mereka sepakati.


"Tunggu dulu." Tiba-tiba secercah harapan timbul dalam pikirannya. Namun, pikiran itu dengan cepat ia buang sejauh-jauhnya. "Tidak, tidak. Mana mungkin aku sampai punya pikiran bodoh seperti itu."


Lucas kembali diam tanpa ekspresi. Ia sekuat tenaga menolak apa yang sedang menari-nari di kepalanya saat ini. Ia pun mulai berpikir keras, menemukan adakah cara yang lebih baik untuk menggagalkan pernikahannya dengan Flora. "Sepertinya tidak ada cara lain selain itu. Daddy pernah mengatakan jika aku bisa membawa seorang wanita dalam bulan ini untuk menjadi istriku, maka aku boleh menikah dengan wanita itu dan otomatis dia tidak akan lagi memaksaku untuk menikah dengan Flora," batin Lucas mulai kehabisan cara dan hampir pasti melakukan sesuatu yang sebenarnya tak ingin dilakukannya. Namun, ia berpikir kembali. Baginya, lebih baik menikah dengan wanita yang bisa diatur dan bisa ia campakkan dengan mudah daripada menikah dengan Flora yang sederajat dengannya dan bisa mengatur hidupnya.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2