One Night Destiny

One Night Destiny
Mulai Mencair


__ADS_3

Selamat membaca!


Satu Minggu sudah berlalu sejak pernikahan yang berakhir dengan haru karena saat itu Zoya akhirnya memutuskan untuk menerima takdirnya dan memberi kesempatan pada Lucas dengan memaafkannya. Semua itu bisa terjadi setelah Belinda bicara padanya dari hati ke hati. Perkataan yang terdengar tulus di telinga Zoya hingga dapat meruntuhkan kebencian dalam diri wanita itu terhadap Lucas. Namun, meski begitu, Zoya masih sulit melupakan apa yang sudah pernah Lucas perbuat dalam hidupnya. Hal itulah yang membuat Zoya belum bisa sepenuhnya menjadi istri Lucas. Buktinya selama 7 hari, Zoya masih tidur di kamar berbeda dengan Lucas dan keduanya seperti orang asing, walau tinggal di satu atap yang sama.


"Aduh kok aku lapar lagi ya? Padahal tadi aku baru saja makan." Zoya mengeluh sambil memegangi bagian perutnya yang sudah membesar. Saat ini, usia kandungannya memasuki 5 bulan. Itu artinya, hanya tinggal 4 bulan lagi, Zoya akan terbebas dari Lucas seperti yang dijanjikan oleh pria itu. Namun, hal yang memberatkannya sampai saat ini adalah jika ia harus berpisah dengan anaknya. Apa Zoya bisa merelakan dan hidup terpisah dengan anak kandungnya?


Setibanya di lantai bawah, Zoya melihat Lucas yang sedang berada di meja makan. Ya, pria itu tampak menikmati sebuah omelet yang baru saja dibuatnya. Namun, ada yang aneh dari makanan itu. Omelet yang seharusnya terlihat lezat, malah berwarna kehitaman di mata Zoya.


"Itu kamu masak sendiri ya?"


"Kenapa kamu tanya-tanya?" Lucas terdengar ketus menjawab karena biasanya Zoya memang tak pernah menegurnya sekalipun mereka dekat.


"Ya, aneh saja. Itu kayanya kegosongan deh. Memangnya Lia ke mana?" tanya Zoya lagi.


"Lia sedang pergi membeli bahan makanan karena memang persediaan kita sudah habis."

__ADS_1


"Pantas saja kamu jadi masak sendiri. Memangnya enak rasa omelet itu?"


"Daripada aku lapar, ya, mau bagaimana lagi?"


Tiba-tiba Zoya mengambil piring yang ada di depan Lucas. Membuat pria itu terkejut karena heran apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Zoya saat ini.


"Biar aku buatkan omelet yang baru untuk kamu. Tunggulah sebentar!" Sambil meletakkan piring yang di atasnya terdapat omelet gosong dari jangkauan Lucas, Zoya mulai sibuk memasak.


Sementara itu, dari tempatnya duduk, Lucas hanya memperhatikan dengan heran karena ini adalah hal yang pertama kali dilakukan oleh Zoya sejak tinggal di rumah ini.


"Nanti kamu coba saja, baru komentar!" Entah apa yang membuat keduanya saling berinteraksi. Namun, tanpa mereka sadari, ini adalah kali pertama itu terjadi semenjak mereka menikah. Mungkin keduanya mulai merasakan kesepian atau rasa jenuh bisa saja membuat mereka lupa hingga saling bicara.


"Oke, aku berani bertaruh kalau masakanmu tidak akan jauh beda dari masakanku."


"Ya, kita lihat saja. Kalau seandainya kamu salah, apa aku boleh meminta apa saja?" tanya Zoya karena ia merasa yakin bahwa Lucas akan kalah darinya.

__ADS_1


"Tentu, aku akan melakukan apa pun yang kamu inginkan."


Zoya hanya tersenyum tanpa melihat Lucas. Baginya, ini adalah kesempatan untuk bisa mengajak Lucas pergi dari pulau ini dan kembali ke kota.


Setelah omelet yang dibuat Zoya matang dengan sempurna, tibalah bagi Lucas untuk mencicipinya. Pria itu tampak terkejut saat melihat omelet yang baru saja disajikan oleh Zoya tepat di hadapannya.


"Silakan makan!" Raut wajah Zoya menunjukkan keyakinan karena ia memang tidak pernah gagal memasak omelet saat masih bersama ibunya.


"Rasanya enggak enak!" Tiba-tiba Lucas bangkit dari posisi duduknya dan itu sangat mengejutkan Zoya.


"Masa? Enggak enak apa? Keasinan atau pahit? Perasaan enggak gosong seperti punya kamu deh." Zoya masih menatap wajah Lucas yang saat ini juga tengah melihatnya dengan tajam.


"Ngapain aku bohong. Makanan ini enggak layak untuk di makan! Jadi, lebih baik aku buang saja di depan rumah!" Lucas melangkah cepat tanpa menunggu jawaban Zoya sambil membawa piring dan sebuah sendok yang ada di atasnya.


"Aneh ... apa aku terlalu banyak kasih garam ya?" Zoya yang masih tak percaya dengan kenyataan yang ada hanya bisa melihat kepergian Lucas dengan rasa heran. "Sayang banget aku kalah, kalau saja aku menang, aku pasti bisa kembali ke kota dan tidak harus tinggal di pulau yang membosankan ini. Tapi ... kalau aku pikir-pikir, kenapa Lucas harus membuang omelet itu ke depan rumah ya? Bukannya di sini juga ada tempat sampah?"

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2