
Selamat membaca!
Selesai membahas masalah pernikahan Lucas dan Zoya, keduanya pun memutuskan untuk pulang. Dari pertemuan hari ini, tanggal pernikahan telah ditentukan oleh kedua calon pengantin dan Belinda bersedia untuk mengurus segala sesuatunya agar tidak merepotkan Zoya yang tengah mengandung cucu pertamanya. Sementara Edward hanya diam dan tak ikut andil dalam pembicaraan pernikahan mereka karena terlalu pusing memikirkan Flora. Tentu saja pria itu merasa tidak enak pada sahabatnya atas kegagalan pernikahan yang telah mereka rencanakan jauh-jauh hari.
Saat ini, Lucas dan Zoya melangkah bersamaan keluar dari rumah hingga keduanya berpisah ketika menaiki mobil masing-masing. Ya, Zoya diantar pulang ke apartemen menaiki mobil yang tadi mengantarnya ke rumah Lucas. Sementara Lucas tampak masuk ke dalam mobilnya dengan pintu yang sudah dibukakan oleh Jimmy, sopir pribadinya.
Terlihat sekali raut kesal penuh amarah di wajah Lucas. Pria itu merasa semua rencananya jadi berantakan karena Zoya telah menerima permintaan dari Belinda untuk tinggal bersamanya. Lucas benar-benar tidak tenang memikirkan hal itu. Bagaimana bisa ia hidup dengan bebas jika setelah menikah harus tinggal di rumah orang tuanya?
"Sial! Zoya benar-benar telah menggagalkan rencanaku. Sekarang semua yang sudah aku susun rapi harus hancur karena kebodohannya! Lihat saja kamu, Zoya! Aku akan memberikanmu pelajaran." Lucas mengatakan itu sesaat setelah duduk di kursi belakang. Kemarahan yang membuat Alden dan Jimmy menjadi begitu terkejut. Mereka bahkan sampai tidak berani bertanya hingga suasana di dalam mobil seketika hening setelah Lucas berhenti bicara.
"Kenapa diam saja? Cepat jalankan mobilnya!"
"Baik, Tuan." Dengan gugup Jimmy menjawabnya tanpa tau arah ke mana tujuan Lucas. Ya, Jimmy memang sering melakukan hal itu. Mengendarai tanpa tentu arah dan ia baru berani bertanya saat amarah Lucas sudah mereda. Namun, terkadang itu pun membutuhkan waktu lama karena pernah satu kali ia jadi terkena amarah Lucas karena bertanya ke mana akan pergi.
__ADS_1
"Aduh, punya majikan begini bisa mati muda nih," gerutu Jimmy di dalam hatinya yang memang masih berusia 21 tahun.
Setelah melewati perjalanan selama kurang dari 30 menit, mobil Lucas berhenti tepat di depan lobi apartemen. Pria itu pun keluar dengan tergesa tanpa menunggu Jimmy membukakan pintu mobilnya. Namun, sebelum keluar pria itu sempat memberi perintah pada Alden untuk menghandle pekerjaannya di kantor selama ia belum kembali.
"Pasti perempuan tadi itu tidak seperti yang direncanakannya. Makanya, Tuan Lucas bisa semarah ini," batin Alden sambil terus melihat Lucas yang kini mulai memasuki lobi apartemen dari dalam mobil.
Kembali pada Lucas yang sudah berada di dalam lift, pria itu benar-benar tak sanggup lagi menahan amarahnya. Ia merasa harus memberi peringatan keras pada Zoya agar tidak macam-macam dengannya.
Setibanya di unit apartemennya, kedua matanya langsung melihat sekeliling. Namun, ia hanya melihat keberadaan Riana di sana.
"Di kamarnya, Tuan."
Tanpa mengatakan apa-apa, Lucas pergi begitu saja menuju kamar Zoya yang terletak di sisi lain dari ruang tamu tempatnya berada.
__ADS_1
"Zoya!" teriak Lucas setelah membuka pintu kamar wanita itu dengan menendangnya.
Zoya yang tengah mengganti pakaiannya di walking closet terlonjak kaget mendengar suara teriakan Lucas. Ia buru-buru mengambil stelan pakaian dari dalam almari besar yang ada di hadapannya. "Kenapa pria menyebalkan itu berteriak sekeras itu saat memanggilku? Apa jangan-jangan dia akan memarahiku karena aku menyetujui untuk tinggal di rumah orang tuanya setelah menikah nanti?" Setelah mengenakan pakaian lengkap, Zoya pun melangkah keluar untuk menghampiri Lucas. Dilihatnya wajah Lucas yang murka dengan sorot mata tajam tengah menatapnya seolah ingin menerkam.
"Ada apa, Tuan?" tanya Zoya yang mulai merasakan hawa tidak enak di sekitarnya. Sepertinya kemarahan Lucas dapat membuat seisi ruangan yang tadinya sejuk berubah menjadi begitu panas, padahal pendingin ruangan masih terlihat menyala.
"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu? Ada apa denganmu? Apa yang kamu pikirkan sampai kamu berani sekali mengabaikan kode dariku untuk menolak tawaran Mommy? Kenapa, Zoya?" Suara Lucas meninggi. Naik satu oktaf dan itu langsung menggetarkan hati Zoya. Namun, wanita itu coba menutupi rasa takutnya dengan menantang Lucas lewat sorot matanya yang juga tak kalah tajam menatap Lucas.
"Memang aku sengaja melakukan itu agar kamu tidak bisa semena-mena memperlakukan aku."
Jawaban itu malah semakin membuat amarah Lucas membuncah. Tanpa berkata apa-apa, pria itu mencengkram pergelangan tangan Zoya, lalu menariknya dengan kasar.
"Lepaskan aku, Tuan!" Zoya meringis kesakitan. Namun, ia tidak bisa melawan karena tenaga Lucas jauh lebih kuat darinya.
__ADS_1
Bersambung ✍️