One Night Destiny

One Night Destiny
Tak Menyangka


__ADS_3

Selamat membaca!


Sepanjang perjalanan Lucas hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. Pria itu tampak dingin, walau sesekali sempat melirik Zoya yang sejak tadi hanya memandang ke luar jendela.


"Ternyata di dunia ini ada satu wanita yang tidak tergila-gila denganku. Apa mungkin dia penyuka sesama jenis?" batin Lucas masih sulit percaya jika ada wanita yang ternyata tidak tertarik dengannya. Padahal pria bertubuh kekar dengan wajah tampan itu selalu berhasil menyihir lawan jenisnya hingga membuat para wanita bisa melakukan apa saja untuknya, salah satunya adalah Flora.


Berbeda dengan Lucas yang terlihat santai, Zoya kini masih berkutat dengan rasa cemasnya karena memikirkan sang ibu. Wanita itu merasa tidak tenang, walau saat berada di dalam lift apartemen Lucas sudah menghubungi pihak rumah sakit dan mengatakan padanya bahwa kondisi ibunya sudah lebih baik dari kemarin.


"Setidaknya aku harus melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kondisi Mama memang baik-baik saja. Sampai itu terjadi mungkin aku baru bisa tenang." Zoya menghela napas beratnya. Menitikkan air mata yang entah sejak kapan sudah menetes membasahi kedua pipinya.


"Apa kamu bisa semudah itu menangis?" celetuk Lucas bertanya saat tiba-tiba melihat butiran air mata di wajah Zoya.


Zoya pun berpaling, melihat Lucas sambil mengusap air matanya. "Memangnya di mobil ini ada larangan tidak boleh menangis? Lagi pula aku sama sekali tidak merepotkanmu, 'kan?" tanyanya sembari mengangkat sebelah alis dengan sorot mata yang sinis.

__ADS_1


Mendengar jawaban Zoya, Lucas pun terkekeh. Menutupi rasa canggung yang mulai membuatnya malu. Entah kenapa pria itu merasa tidak suka melihat Zoya menangis. Perasaan yang mulai ia rasakan dan itu terkesan aneh baginya. "Suara tangisanmu itu berisik dan sangat menggangguku."


"Tuan Lucas yang terhormat, aku hanya meneteskan air mata tanpa mengeluarkan suara apa pun. Aku rasa pikiranmu sedang tidak berada di dalam mobil sampai kamu bisa salah mendengar."


Di tengah perdebatan keduanya, mobil yang dikendarai oleh Jimmy kini tepat berhenti di pelataran lobi mal. "Maaf, Tuan. Kita sudah sampai."


"Sudahlah, lupakan apa yang aku katakan tadi! Sekarang cepat hapus air matamu!" Tanpa menunggu jawaban Zoya, Lucas keluar dari mobil.


Sementara Zoya tampak sibuk mengusap air matanya sebelum beranjak keluar. "Pria itu memang benar-benar menyebalkan. Apa dia tidak pernah menangis karena memikirkan ibunya? Semoga saja suatu saat aku bisa melihat pria itu menangis. Kalau sampai itu terjadi, aku pasti akan menertawakannya dengan sangat keras tepat di depan wajahnya."


"Memangnya kapan aku memintamu untuk menungguku!" Zoya terlihat begitu kesal saat menjawab perkataan Lucas.


"Terus kalau aku tidak menunggumu, apa kamu bisa tau outlet mana yang ingin aku datangi?"

__ADS_1


Pertanyaan itu seketika sulit untuk dijawab oleh Zoya. Hal yang wajar karena dia baru pertama kali datang ke mal tersebut. Mal yang terbilang cukup elite di pusat kota Jakarta.


"Baiklah. Silahkan jalan! Aku akan mengikutimu."


Lucas mulai melangkah lebih dulu masuk ke dalam mal. Membiarkan Zoya tetap di belakang seolah tak ingin jika wanita itu jalan berdampingan dengannya.


"Kalau tidak demi membatalkan pernikahanku dengan Flora, aku pasti tidak akan sudi mengajak wanita ini ke mal," batin Lucas berdecih kesal dengan situasi yang tak disukainya saat ini. Situasi di mana ia harus merubah penampilan Zoya sebelum bertemu kedua orang tuanya agar terlihat pantas mendampinginya.


Sama halnya dengan Lucas yang tengah menggerutu di dalam hatinya, Zoya pun ternyata melakukan hal yang sama. Wanita itu benar-benar merasa kesal karena harus menuruti keinginan Lucas. Pria yang menurutnya sangat menyebalkan karena selalu saja memaksa kehendaknya.


"Aku tidak boleh hanya menjadi boneka yang selalu bisa diatur sesuka hatinya." Zoya berpikir keras. Memutar otaknya untuk menemukan sebuah cara agar ia dapat lolos dari Lucas. Namun, Zoya sadar bahwa melarikan diri hanya akan membuat dirinya berada dalam masalah dan itu sangat membahayakan nyawa ibunya.


Setelah berpikir cukup lama, Zoya pun mulai memikirkan sebuah ide yang mungkin saja bisa meloloskannya dari Lucas. "Semoga caraku ini berhasil. Lihat saja nanti! Aku akan membuatmu menyesal karena telah menganggapku seperti para wanita lain yang bisa sesuka hati kau jadikan bonekamu."

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2