One Night Destiny

One Night Destiny
Kesepakatan


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah pergi jauh meninggalkan kerumunan, ponsel salah satu pria yang ada di dalam mobil itu berdering. Dengan cepat ia menjawab panggilan masuk tersebut. "Halo, Tuan. Saya sudah bersamanya dan sedang dalam perjalanan menuju ke sana." Pria itu menyampaikan informasi pada seseorang yang dipanggilnya dengan sebutan tuan. Itu artinya pria yang ada di seberang sana adalah majikan dan mereka berdua hanyalah anak buah yang menjalankan perintah dari tuannya.


"Bagus!" Setelah mengucapkan kata yang begitu singkat, pria itu pun segera memutuskan panggilannya dan tersenyum penuh kemenangan.


Zoya yang masih tak sadarkan diri rencananya akan dibawa ke sebuah villa oleh dua orang pria dengan pakaian serba hitam itu. Villa yang jauh dari kota dan keramaian. Di sana sudah ada seseorang yang menunggu kedatangannya dengan tidak sabar.


***


Setibanya di villa, Zoya segera dibawa ke sebuah kamar, di mana seorang pria tampak sedang menggenggam sebuah gelas mewah berbentuk kotak dengan wine yang hampir tandas tak tersisa.


Saat ini, Zoya masih dalam keadaan tak sadarkan diri ketika tubuhnya direbahkan di atas ranjang. Dia benar-benar syok mengetahui ibunya meninggal dunia akibat kebakaran yang terjadi.


"Sekarang kalian berdua pergilah!"


"Baik Tuan, kalau begitu kami berdua pamit dulu. Selamat sore."


Bersamaan dengan kepergian dua pria itu, Zoya mulai bergerak. Sebelah tangannya tampak memegangi dahinya yang masih terasa pusing. "Di mana ini?" Zoya bertanya sambil membuka mata dengan perlahan dan mulai melihat sekelilingnya.


Ruangan mewah dengan nuansa putih mendominasi penglihatannya. Segala furniture mulai dari layar LCD besar dan barang elektronik lainnya pun tersedia di sana. Sampai akhirnya, pandangan matanya terhenti di satu titik di mana seorang pria tengah duduk di samping ranjang yang ia tiduri.


"Siapa kamu?" Zoya dengan cepat bangkit. Membuka mata selebar-lebarnya untuk mengenali pria yang masih samar dilihatnya.

__ADS_1


Ada rasa takut yang membuncah hingga membuatnya gemetar. Terlebih saat kedua matanya dapat mengenali bahwa sosok pria yang ada bersamanya saat ini adalah pria yang sama yang telah merenggut kesuciannya. "Kamu? Kenapa bisa ada di sini? Kenapa aku bisa bersamamu? Katakan ada apa ini?"


Lucas tersenyum tipis. Pria itu pun bangkit dari posisi duduknya. "Kamu tidak perlu takut karena aku tidak akan menyakitimu." Sambil mengatakannya Lucas mulai berjalan mendekati Zoya.


"Jangan mendekat! Pergilah!" Zoya beringsut mundur hingga tak ada tempat untuk tubuhnya menjauh karena sandaran ranjang sudah tepat menempel pada punggungnya.


Di tengah kepanikannya, Zoya mulai mengingat pertemuannya dengan Alden. Kini pikirannya langsung menduga bahwa apa yang menimpanya adalah rencana dari pria yang masih menatapnya dengan tajam.


"Jangan-jangan pria ini yang membuat ibuku meninggal," batin Zoya dengan amarah yang seketika menguasai dirinya.


Seolah tak lagi takut menghadapi Lucas, Zoya berdiri sambil menatap pria itu dengan sorot mata penuh kebencian. "Katakan padaku! Apa yang kamu lakukan pada ibuku? Apa kamu sengaja membakar toko bunga dan rumahku hanya agar bisa menculikku ke tempat ini? Katakan!"


Pertanyaan itu terdengar lantang. Zoya sampai mengeluarkan nada yang cukup tinggi hingga membuat raut wajah Lucas seketika berubah tegas. Rahangnya mengeras dengan kedua alis saling bertaut dalam. Namun bukannya menjawab, pria itu malah tertawa. Suaranya sampai terdengar keras memenuhi seisi ruangan.


"Kenapa dia malah tertawa? Apa pria ini sudah gila?" batin Zoya yang tak bisa membohongi dirinya jika saat ini rasa takut kembali mengusiknya.


"Sakit, lepaskan aku!" pinta Zoya. Wajahnya tampak meringis, menahan rasa sakit karena kulit kepalanya terasa hampir lepas ditarik dengan sekuat tenaga oleh Lucas.


"Dengarkan aku baik-baik! Aku memang licik, tapi aku tidak jahat. Kamu harusnya bersyukur karena anak buahku sudah menyelamatkan ibumu. Kalau tidak, mungkin ibumu sudah mati terbakar bersama toko bungamu itu! Apa kamu tidak tahu jika ibumu memiliki gagal ginjal? Anak buahku menemukan dia pingsan di kamar mandi. Lalu, setelah anak buahku membawanya ke rumah sakit, ternyata dia mengalami gagal ginjal dan harus segera di operasi." Selesai mengatakan itu, Lucas melepas cengkraman tangannya dan menghempaskan tubuh Zoya ke atas ranjang.


"Jadi ibuku masih hidup." Air mata seketika luruh membasahi kedua pipi Zoya. Di satu sisi, ia senang karena ternyata ibunya masih hidup setelah ia sempat merasa kehilangannya. Namun di sisi lain, Zoya merasa benar-benar cemas karena selama ini sang ibu menyembunyikan penyakit yang dideritanya. Seketika Zoya pun jadi teringat apa yang disembunyikannya.


Lantas apa ini adalah balasan dari Tuhan untuknya? Saat ia menyembunyikan kehamilannya dari sang ibu, ibunya ternyata juga menyembunyikan penyakit gagal ginjalnya hingga ia sama sekali tak mengetahui.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini?" batin Zoya mengeluh masih berlinang air mata.


Zoya menatap tegas wajah Lucas. Menuntut agar pria itu mau menjawab apa yang akan ditanyakannya. "Terus di mana Ibuku sekarang? Aku harus menemuinya?"


"Justru itu yang ingin aku bicarakan denganmu! Sekarang Alden sudah ada di rumah sakit. Dia yang akan jadi penanggung jawab atas ibumu di sana. Sekarang aku ingin membuat kesepakatan denganmu."


"Kesepakatan apa? Apa itu sama dengan yang dikatakan oleh pria yang menemuiku tadi siang?"


"Iya betul. Aku ingin anakku yang ada dalam rahimmu itu. Setelah anak itu lahir, maka aku akan membebaskanmu. Bagaimana?"


Zoya terdiam. Ia berpikir keras dengan wajah yang masih basah oleh butiran air mata. "Terus kalau aku menolak, apa kamu akan tetap mengurungku di sini?"


Lucas tampak menarik sebelah sudut bibirnya. Senyum liciknya itu sungguh menyebalkan terlihat oleh Zoya.


"Pria ini seperti psikopat. Entah kenapa aku jadi takut jika ada di sini dengannya?" gumam Zoya masih menunggu jawaban dari Lucas dengan cemas.


"Iya, tak hanya tetap mengurungmu di sini sampai kamu melahirkan, tapi aku juga akan membiarkan Ibumu tanpa mendapatkan penanganan dari dokter. Tadinya jika kamu menyepakatinya aku ingin berbaik hati mencarikan ginjal yang cocok untuk Ibumu, tapi sayangnya jawabanmu malah tidak menyenangkan untukku!" Lucas pun melangkah pergi. Meninggalkan Zoya yang masih diam terpaku dengan pikirannya.


"Aku tidak punya pilihan lain. Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu harus menyelamatkan nenekmu agar bisa tetap hidup," batin Zoya memutuskan. Lalu, dengan cepat ia berlari dan menghadang langkah Lucas yang hampir membuka pintu kamar untuk pergi.


"Tuan, aku akan menerima tawaranmu. Tolong selamatkan ibuku! Aku mohon, Tuan!"


Lugas tersenyum tipis. Ia merasa puas karena rencananya berhasil. "Baiklah, aku akan menyelamatkan ibumu. Lagi pula kesepakatan ini akan sangat menguntungkanmu. Kamu mesti ingat! Melahirkan anak dari keluarga Dekawistara adalah sebuah kebanggaan dan itu mungkin sudah menjadi takdir hidupmu. Jadi kamu harus menjalani itu dengan senang hati!"

__ADS_1


Zoya hanya diam tak menjawabnya. Ia masih merasa bingung, apa pertukaran ini setimpal. Anak kandungnya, ditukar dengan nyawa ibunya. Dua pilihan yang siapa pun pasti akan sulit untuk memilih. Namun, ini adalah pilihannya. Pilihan yang entah seperti apa hidupnya setelah ini.


"Aku hanya bisa mengikuti keinginan pria ini. Sekarang hidupku, bukan sepenuhnya milikku, tapi miliknya," batin Zoya sambil terus melihat Lucas pergi dengan sebelah tangan di dalam saku celana dan sebelah tangan lagi membuka pintu kamar, lalu menutupnya dengan keras.


__ADS_2