
Selamat membaca!
Suasana canggung mulai terasa antara Zoya dan Lucas yang sudah berada di satu ranjang yang sama. Ya, sudah setengah jam sejak Lucas datang ke kamar Zoya, keduanya sama sekali tak saling bicara. Bahkan mereka terlihat menjaga jarak dengan tidur saling menjauh. Namun, seberapa jauh keduanya berbaring, mereka tetap berada di satu selimut yang sama.
"Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa mengakses ponselnya untuk bisa disadap oleh Adrian," batin Zoya masih menunggu Lucas tertidur sebelum menjalankan rencananya.
"Untuk apa kamu memintaku tidur di sini? Apa kamu sudah tidak lagi takut padaku?" Lucas akhirnya bertanya lebih dulu setelah sejak tadi hanya menunggu Zoya bicara.
Zoya masih terdiam beberapa saat. Berpikir keras sebelum akhirnya mulai menjawab apa yang ditanyakan oleh Lucas, walau sebenarnya ia merasa enggan untuk bicara pada pria itu. Selama ini, setiap Zoya meminta sesuatu dengan alasan ngidam pada Lucas hanyalah untuk mengerjai pria itu saja. Ya, Zoya ingin memberi pelajaran setelah semua hal buruk yang pernah dilakukan Lucas padanya.
__ADS_1
"Aku sudah tidak lagi takut sama kamu. Jadi, jangan berpikir kamu bisa menyakitiku seperti saat pertama kali kita bertemu. Lagi pula ini bukan keinginanku, tapi anak yang ada dalam kandunganku. Malam ini aku hanya ingin tidur nyenyak dan tidak memikirkanmu terus seperti semalam."
Lucas yang merasa aneh dengan jawaban Zoya pun masih mencerna apa yang didengarnya. Tentu saja ia masih sulit percaya bahwa seorang wanita hamil sampai mengalami ngidam yang harus dituruti dan itu terbilang menyusahkan baginya.
"Untung saja aku mandul. Jadi, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi di kemudian hari. Benar-benar merepotkan."
Zoya tampak tidak setuju dengan pendapat Lucas. Setelah sejak tadi hanya memunggungi pria itu, kini Zoya berbalik. Menghadap Lucas sebelum mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Perkataan Zoya membuat Lucas terhenyak. Ia pun kembali mengingat setiap momen sulit yang pernah dilewati sepanjang hidupnya. Salah satunya adalah momen di mana Edward pernah menyakiti Belinda, ibunya. Saat itu, Lucas benar-benar hancur. Ia merasa sendiri dan tak ada tempat untuk bertukar pikiran atau membagi kesedihannya karena tidak ingin membebani sang ibu yang sedang terpuruk karena begitu terluka. Selama ini, Lucas memang selalu bergantung pada ibunya sebagai tempat untuk berkeluh kesah. Ya, begitulah Lucas, ia lebih dekat dengan sang ibu daripada ayahnya, apalagi sejak kejadian itu.
__ADS_1
"Sudahlah, aku mau tidur. Lebih baik kamu tidur dan jangan berisik! Malam ini tolong jangan meminta yang aneh-aneh seperti kemarin-kemarin ya karena aku ada meeting penting besok pagi." Lucas memilih untuk tidak menanggapi perkataan Zoya, walau sebenarnya ia merasa apa yang dikatakan wanita itu memang benar terjadi dalam hidupnya. Ia merasa sendiri dan kesepian karena tidak memiliki saudara di keluarganya.
Beberapa menit berlalu dengan begitu cepat, tak ada suara lagi yang terdengar dari Lucas. Zoya pun mulai bangkit dengan perlahan dan duduk di atas ranjang tanpa membuka selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya. Tujuannya adalah sebuah nakas yang ada di sisi kiri Lucas atau di seberang dari tempatnya berada. Ya, Zoya ingin mengambil ponsel milik Lucas sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Adrian.
Setelah memastikan Lucas memang sudah tertidur, Zoya mulai bergerak, mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel milik Lucas yang ada di atas nakas. Namun, di saat Zoya hendak melewati tubuh Lucas, tiba-tiba pria itu bergerak dan langsung membuat tubuh Zoya jatuh tepat berada dalam pelukannya.
"Ya Tuhan, kenapa dia malah memelukku?" Zoya tercekat. Menatap wajah tampan Lucas yang seketika membuatnya terkesima. Entah perasaan apa yang tiba-tiba hadir dalam hatinya, tetapi karena Zoya menganggap itu salah, dengan cepat ia pun membuangnya jauh-jauh.
"Ingat, Zoya! Pria ini adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ibumu. Jadi, tidak boleh ada perasaan apa pun untuknya." Setelah bicara pada dirinya sendiri, Zoya pun mulai beralih untuk mengajak bicara anak yang ada dalam kandungannya.
__ADS_1
"Dek, pokoknya Mama enggak mau kamu sampai sayang sama Papa kamu. Dia itu laki-laki jahat, Dek. Pokoknya Mama enggak mau di saat kamu lahir nanti, kamu sampai melihat pria jahat ini. Mama akan pastikan sebelum Mama melahirkan kamu nanti, Mama sudah pergi dari rumah ini." Zoya bicara dengan suaranya yang pelan sambil mengusap bagian perutnya yang sudah membuncit. Saat ini, ia masih sulit melepaskan diri dalam pelukan Lucas yang entah kenapa begitu erat mendekapnya.
Bersambung ✍️