One Night Destiny

One Night Destiny
Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Selamat membaca!


"Bangun! Kenapa kamu tidur di sini?" Suara itu perlahan mulai membangunkan Zoya yang tengah tertidur dengan kedua tangan di atas ranjang yang menjadi tumpuan kepalanya.


"Sudah pagi ya?" tanya Zoya setelah membuka kedua matanya.


"Iya."


Kini wanita itu terlihat mengangkat kepalanya sambil menatap wajah Lucas yang sudah duduk di tepi ranjang. Wajah pria itu tampak berbeda dari terakhir kali Zoya lihat semalam. Lucas lebih segar dan tak ada tanda-tanda bahwa pria itu sedang sakit.


"Kamu udah sembuh ya?" tanya Zoya yang sesekali masih mengusap kedua matanya.


"Sekarang cepat bangun, kita sarapan sama-sama di bawah!" Tanpa menunggu Zoya menjawab, Lucas melangkah menuju pintu kamar, lalu pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang.


"Sarapan sama-sama?" Zoya yang masih mengantuk karena semalam menjaga Lucas, hanya menatap pria itu dengan raut wajah bingung tanpa sempat mengatakan apa-apa. "Pasti dia merasa berutang budi padaku karena semalam aku sudah merawatnya." Baru selesai mengatakannya, terdengar suara gemuruh dari perut Zoya yang menandakan bahwa wanita itu juga merasa lapar.


Setibanya di meja makan, Zoya cukup kaget saat melihat banyak makanan yang tersaji di sana. Bahkan yang lebih mencengangkan di matanya adalah saat Lucas baru saja meletakkan seporsi steak daging di atas meja dan masih mengenakan celemek pada tubuhnya.


"Ada apa ini? Apa ada pesta atau ada tamu yang datang ke sini?" tanya Zoya masih bingung sambil terus melihat Lucas.

__ADS_1


"Duduklah!"


Lucas hanya memberi perintah tanpa menjawab apa yang Zoya tanyakan.


"Apa ini kamu yang masak semuanya? Atau Lia?" Pertanyaan berikut terucap dari mulut Zoya. Tentu saja ia merasa aneh, apalagi saat teringat kejadian kemarin ketika Lucas memasak omelet dan hasilnya gosong.


"Iya, Nona. Semua masakan ini Tuan Lucas yang masak. Saya hanya membantu menyiapkan bahan-bahannya saja."


Jawaban Lia yang baru saja datang sambil membawa sebuah teko berisi lemon tea di tangannya seketika mengejutkan Zoya.


"Tapi, kemarin kamu kan masak omelet malah gosong."


"Terus apa tujuanmu memasak makanan ini untukku?" Zoya kembali bertanya karena mau bagaimanapun, ia merasa aneh dengan sikap Lucas yang bisa berubah jadi sebaik ini padanya.


"Anggaplah ini sebagai ucapan terima kasihku karena kamu sudah merawatku. Lia sudah cerita apa yang telah kamu lakukan semalam."


"Apa ini waktu yang tepat untuk meminta Lucas agar mengajakku kembali tinggal di Jakarta?" batin Zoya masih terlihat ragu.


"Sudah, ayo kita makan!" Setelah melepas celemek yang ia kenakan dan memberikannya pada Lia, Lucas mulai menyantap seporsi steak yang terlihat begitu menggiurkan di mata Zoya. Steak yang tampak lezat karena memiliki tingkat kematangan yang benar-benar sempurna.

__ADS_1


"Ternyata dia bisa masak makanan seenak ini." Baru dari mencium aroma dan memotong steak yang ada di hadapannya saja, ia sudah tahu bagaimana rasa dari steak tersebut.


Di saat keduanya masih asyik menikmati sarapan pagi mereka, tiba-tiba dering ponsel milik Lucas berbunyi. Terlihat nama Belinda tertera pada layar ponsel itu.


"Mommy."


Tanpa berlama-lama, Lucas langsung menjawab panggilan telepon itu setelah meletakkan garpu dan pisau kecil yang sebelumnya ia genggam.


"Halo, Mom."


"Lucas, kamu harus segera pulang ke rumah. Ini ada seorang wanita yang datang dan mengaku hamil anak kamu."


Perkataan itu sontak saja membuat Lucas tertawa. Bagaimana mungkin, ia bisa menghamili wanita lain di saat dirinya di-vonis mandul oleh dokter beberapa bulan lalu.


"Mom, jangan dengarkan wanita itu! Dia pasti sudah bergurau. Mana mungkin aku bisa menghamili wanita lain. Apa Mommy lupa aku ini mandul?"


Apa yang Lucas katakan membuat ingatan Zoya langsung tertarik ke saat di mana Flora hampir mengatakan sesuatu padanya. Namu sayang, beberapa detik sebelum Flora mengungkapkan, Lucas datang dan membuat wanita itu mengurungkan diri untuk bicara dengannya.


"Apa sebenarnya Lucas tidak mandul ya?" batin Zoya masih mengingat ucapan Flora yang mengatakan bahwa nantinya ia akan tahu sendiri apa yang sebenarnya ingin dikatakan padanya.

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2