
Selamat membaca!
Setelah mengalami kejadian yang tak terduga, Lucas tak punya pilihan selain menuruti kemauan dari wanita yang saat ini mengaku telah hamil anaknya. Wanita yang tentu saja masih sangat diingatnya. Ya, malam itu, setelah cukup mabuk di sebuah bar yang terletak di daerah Senopati, Lucas langsung membawa seorang wanita yang ia temui di sana ke sebuah hotel dan melakukan cinta satu malam hingga wanita bernama Levina itu pun akhirnya hamil saat ini. Sesuatu yang sungguh di luar dugaannya karena tentu saja ia mengira bahwa dirinya mandul dan tak mungkin bisa memiliki anak.
"Kenapa kamu tadi ingin tetap mendengarkan semuanya?" Lucas bertanya pada Zoya setelah duduk di tepi ranjang.
"Aku hanya ingin tahu keputusanmu."
"Tapi, aku enggak punya pilihan selain mengiyakan permintaan wanita itu. Setidaknya sampai anak itu lahir dan aku bisa membuktikan sendiri bahwa anak yang dikandungnya bukanlah anakku."
"Kenapa harus menunggu anak itu lahir? Bukankah tes DNA bisa dilakukan saat anak masih ada dalam kandungan?"
"Wanita itu menolak. Katanya terlalu bahaya untuk janinnya. Jadi, dia tetap bersikeras melakukan tes DNA setelah anak itu lahir atau jika aku tetap memaksa dia akan membeberkan kehamilannya di depan media."
"Jadi, kamu akan menikahinya?"
"Iya, Zoya. 3 hari lagi pernikahan itu akan berlangsung di rumah ini."
Zoya cukup kaget mendengar apa yang Lucas katakan. Entah kenapa hatinya terasa sakit. Memang ia ingin sekali pergi dari Lucas, tetapi ia tak pernah membayangkan sebelum itu terjadi, dirinya harus dimadu oleh wanita lain. Hal yang tentu saja sangat miris karena terjadi beberapa hari setelah pernikahannya.
"Kalau begitu ceraikan aku! Anggap saja anak itu memang benar anak kamu. Jadi, kalau aku pergi, tidak masalah juga kan untuk kamu karena kamu akan mendapatkan pengganti dari anak yang ada di rahim wanita itu?"
__ADS_1
Lucas tercekat. Ia merasa kaget karena Zoya mengatakan hal itu.
"Apa ini sudah jadi keputusanmu?"
"Iya, aku sudah putuskan sejak ibumu benar-benar memintaku untuk kembali ke kamar dan tak memperbolehkan aku mendengar semuanya."
"Aku akan mengabulkan permintaanmu. Silakan pergi!"
Antara bahagia atau sedih, dua perasaan yang sulit ditebak dari raut wajah Zoya saat mendengar jawaban itu. Terlebih saat melihat Lucas bangkit dari posisi duduknya, lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawabannya.
"Apa semudah itu dia melepaskan aku?" batin Zoya hanya melihat kepergian Lucas yang tak lagi terlihat dari pandangannya saat pria itu melewati pintu kamar. "Harusnya aku bahagia, tapi kenapa aku malah sedih? Bukannya ini yang aku inginkan sejak lama. Pergi dari hidup Lucas dengan membawa anak ini ikut bersamaku."
Di saat bersamaan, Belinda pun masuk ke dalam kamar. Sorot matanya terus menatap menantunya yang kini terlihat sendu.
"Lucas, mengizinkan aku untuk pergi, Mom." Walau berat menjawab pertanyaan itu, Zoya tetap mengatakannya. Pandangannya masih tertunduk. Ia kelihatan bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Bukankah harusnya dia senang karena dengan begitu ia akan bebas dari Lucas. Lantas, kenapa hatinya merasa sedih dan sakit mendengar perkataan Lucas?
"Setelah Mommy pikir, mungkin ini memang satu-satunya keputusan yang terbaik untuk bisa kamu jalani. Selama ini, kami selalu mengekang hidupmu. Memaksa kamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan. Harusnya wanita baik sepertimu tidak layak diperlakukan seperti ini, Zoya. Kamu sepantasnya mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Lucas."
"Maksud, Mommy?"
"Ya, tadi sebelum ke sini, Lucas sudah cerita semua tentang perjanjian kontrak pernikahan kalian dan apa yang kamu lakukan saat Lucas sakit. Mommy sangat berterima kasih sama kamu. Meskipun Lucas sudah bersikap jahat sama kamu, tapi kamu malah tetap bersedia merawatnya."
__ADS_1
"Jadi, Mommy setuju aku pergi dari rumah ini?"
"Kalau itu bisa membuat kamu bahagia, Mommy dan Lucas rela, Sayang. Tapi, izinkan Mommy ngasih sesuatu sebelum kamu pergi."
Zoya hanya diam. Masih sulit mempercayai bahwa sebentar lagi hari kebebasannya tanpa Lucas akan tiba.
"Ini kunci rumah sebagai pengganti rumah yang sudah sempat Lucas bakar. Mommy minta maaf atas kejadian itu ya."
Zoya sebenarnya ingin menolak, tetapi ia tak punya pilihan karena ia memang bingung harus tinggal di mana setelah pergi dari rumah Lucas.
"Jangan menolak! Ambillah! Nanti sopir Mommy akan mengantar kamu ke sana. Dan selain rumah, nantinya Mommy juga akan memberikan kamu toko bunga tidak jauh dari rumah itu."
"Apa benar Mommy benar-benar mengizinkan aku pergi?" Lagi dan lagi Zoya menanyakan itu Dan, jawaban Belinda masih sama seperti sebelumnya.
"Selama itu memang membuat kamu bahagia, Mommy pasti mengizinkannya, Sayang. Dan, Mommy juga mau minta maaf karena sempat menyembunyikan kematian ibumu. Tapi Mommy yakin, Lucas tidak bermaksud untuk membuat ibumu sampai meninggal."
"Aku enggak yakin, Mom. Sudah jelas kebakaran itu adalah rencana Lucas. Jadi, pasti dia yang sudah menyebabkan ibuku meninggal."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi sebelumnya Lucas sudah memerintahkan pada anak buahnya untuk memastikan tidak ada satu orang pun di sana sebelum mereka membakar rumah dan toko bunga kamu. Dan, setelah Mommy menyelidiki kejadian saat itu, Mommy menemukan rekaman CCTV di jalan menuju rumah kamu dan Mommy curiga sama pria ini, apa kamu kenal?"
Zoya melihat sebuah foto yang dikeluarkan Belinda dari sebuah map yang sejak tadi dibawanya. Map berwarna cokelat tempat di mana Belinda juga mengambil kunci rumah yang tadi diberikannya pada Zoya.
__ADS_1
"Ini, Jonathan ... untuk apa dia ada di sana?"
Bersambung ✍️