One Night Destiny

One Night Destiny
Tak Punya Pilihan


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah berhasil keluar dari jendela kamar, Zoya dibuat terkejut saat kedua matanya menatap ke sekeliling di mana ia berada saat ini.


"Di mana ini? Kenapa aku ada di sini?" Hamparan hutan dengan suara deburan ombak terdengar jelas di telinganya. Membuat Zoya sadar bahwa tak ada cara untuk bisa pergi dari tempat ini. Tempat yang sangat ingin dijauhinya


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku benar-benar tidak ingin menikah dengan Lucas." Zoya tak kuasa menahan air mata agar tak menetes dari kedua matanya. Wanita itu pun menangis dengan terisak. Meratapi hidupnya yang seolah sulit dikatakan hidup. Ia seperti benda mati yang hidupnya berada dalam kendali Lucas tanpa bisa melakukan apa yang diinginkannya.


Tiba-tiba langkah seorang pria terdengar dari arah belakang. Zoya pun mulai memutar tubuhnya. Melihat sosok Lucas yang kini semakin mendekatinya.


"Jangan berpikir untuk kabur karena kamu tidak akan bisa."


"Katakan di mana ini? Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Zoya penuh amarah.

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Apa aku perlu izinmu dulu? Aku rasa tidak." Tanpa memedulikan Zoya, Lucas kembali melangkah pergi. Meninggalkan Zoya yang masih tak menyangka dengan keberadaannya saat ini. "Kalau kamu ingin mati di luar sana, silakan saja pergi! Tidak ada perahu atau apa pun yang bisa membuatmu pergi dari pulau ini."


"Lucas, kenapa kamu selalu saja memaksakan apa yang tidak ingin orang lakukan? Apa orang sepertimu tidak pernah bisa menghargai keinginan orang lain?" Zoya coba berteriak agar Lucas mendengar ucapannya. Namun nyatanya, pria itu sama sekali tak peduli dengan perkataannya.


Berbeda dengan Zoya, Lucas yang sudah masuk kembali ke dalam rumah, tampak mengulas senyum penuh kemenangan. Baginya, bukan hal mudah untuk membawa Zoya ke salah satu rumah milik keluarganya yang berada di gugusan pulau seribu. "Dasar wanita bodoh! Mau mencari cara apa pun, kamu tidak akan pernah bisa pergi dari pulau ini."


Setelah menutup pintu, Lucas duduk di sebuah sofa yang ada di ruang tamu. Sebuah ruangan super mewah dengan layar tv besar berada di tengahnya.


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lia begitu tiba di hadapan Lucas.


"Siapkan kamar untuk orang tuaku ya. Mereka sebentar lagi akan datang."


"Baik, Tuan. Ada lagi yang harus saya lakukan?"

__ADS_1


"Sebelum itu, kamu lihat ke depan rumah. Apa wanita yang bernama Zoya itu masih ada di sana? Kalau ada suruh dia masuk!" titah Lucas sambil menyalakan televisi dengan remote kecil di tangannya.


"Baik, Tuan. Saya akan lihat ke depan rumah." Setelah mengiyakan perintah dari Lucas, pelayan bernama Lia itu pun mulai melangkah menuju pintu rumah. Namun, baru saja ia membuka pintu, Zoya tampak berdiri di depan rumah seolah ragu untuk kembali masuk.


"Nona, ayo masuk! Tuan Lucas mencari Anda."


Lucas yang bisa melihat kedatangan Zoya dari tempatnya duduk tampak menyeringai sambil menatap wanita itu dengan sorot mata yang tajam.


"Masuklah! Tidak perlu kabur-kaburan lagi. Anggap ini rumahmu juga karena besok, kamu akan jadi istri dari seorang Lucas Dekawistara. Dan, harusnya kamu senang karena tidak semua wanita bisa berada di posisi kamu saat ini."


"Aku harus memikirkan rencana untuk bisa membalas apa yang Lucas lakukan padaku. Mau bagaimanapun, aku tidak akan pernah membiarkan hidupnya tenang. Lihat saja, Lucas! Tunggu saatnya di mana kamu akan bertekuk lutut karena terlalu mencintaiku dan setelah itu, aku akan pergi dengan membawa anak ini darimu." Merasa tak bisa kabur dari Lucas, akhirnya Zoya pun mulai berencana untuk pura-pura mencintai Lucas demi mendapatkan hatinya. Dengan begitu, akan dengan mudah baginya untuk pergi jauh dari Lucas. Setidaknya satu hal yang akan dilakukannya lebih dulu, yaitu meminta Lucas agar tidak tinggal di pulau ini. Pulau yang menyulitkannya untuk pergi.


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2