One Night Destiny

One Night Destiny
35 Juta


__ADS_3

Selamat membaca!


Langkah Lucas terhenti di sebuah outlet pakaian yang cukup besar. Kedatangannya langsung disambut oleh dua orang pegawai outlet dengan sangat ramah. Lucas memang sering berbelanja di sana. Jadi beberapa pegawai di outlet tersebut sudah familiar dengannya. Namun, ada yang berbeda dengan kedatangannya kali ini. Ya, Lucas datang bersama Zoya, wanita yang jika dilihat dari cara mereka berjalan tidak berdampingan, pasti orang sudah dapat menebak jika keduanya tidak ada hubungan apa pun. Mereka lebih terlihat seperti majikan dan pengawal karena berjalan dengan jarak, Lucas di depan dan Zoya dua langkah di belakangnya.


"Selamat datang di outlet kami, Tuan dan Nona. Mari silakan masuk!" Sambutan hangat yang begitu ramah dan penuh rasa hormat. Membuat jantung Zoya berdebar-debar karena ini adalah kali pertama ia datang ke outlet pakaian di sebuah mal terbesar di kota Jakarta.


"Cepat pilih baju yang menurutmu pantas kamu kenakan untuk bertemu orang tuaku! Jangan lama-lama! Aku akan menunggu di sini!" titah Lucas yang sejak tadi menampilkan ekspresi dingin.


"Jadi bukan kamu yang memilihkannya untukku?" tanya Zoya yang dengan raut kecewa, karena sebenarnya dia bukan wanita pemilih.


"Itu tidak mungkin! Jadi pilihlah sendiri!" timpalnya dengan raut tak bersahabat.


"Kalau begitu seharusnya kita tidak ke mal ini. Aku lebih sering membeli baju di ITC Depok, seharusnya kita ke sana." Zoya masih enggan melangkah.


"Jangan terlalu banyak tawar menawar denganku! Cepat masuk dan pilih baju yang bagus!" titah Lucas sekali lagi yang kini mulai menampilkan sorot mata penuh ketidaksukaan. Dia adalah pria yang tidak suka mengulangi perkataannya, tapi Zoya sengaja memancingnya untuk mengulangi perintahnya berkali-kali.


"Oke, aku akan pilih sendiri, tapi Tuan harus menilai apakah pilihanku nanti bagus atau tidak, takutnya malah tidak sesuai dengan seleramu." Tanpa menunggu Lucas menjawab, Zoya pun kembali melanjutkan langkah kakinya dan mulai memilih pakaian yang cocok untuknya, ditemani oleh salah satu pegawai outlet yang siap melayaninya.


Setelah sempat bingung dengan dua dress yang menurutnya bagus, akhirnya pilihan Zoya jatuh pada dress berwarna maroon yang terpampang di sebuah patung.

__ADS_1


"Mba, kalau dress yang ini ada ukurannya tidak?" tanya Zoya sembari menyentuh bahan dress tersebut yang terasa selembut sutra dan cukup tebal.


"Untuk dress yang itu ukurannya all size, Nona, dan tinggal satu-satunya. Kalau Nona yang pakai pasti cocok dan ukurannya pas. Apa Nona mau mencobanya dulu?" tawar karyawan itu dengan ramah setelah menjawab pertanyaan Zoya.


"Oh tinggal satu ya, apakah dress ini limited edition?" tanya Zoya yang masih menimang-nimang sebelum memutuskan.


"Betul Nona, baru kemarin ada dua potong dress yang datang, satu sudah dibeli oleh langganan kami dan hanya tersisa satu lagi."


Zoya yang penasaran pun segera mencari label yang biasanya menggantung di setiap pakaian. Dia merasa perlu mengetahui harga dress tersebut setelah mendengar jika dress yang dia inginkan adalah edisi terbatas, tapi memang jika dirasakan dari bahannya, dress itu memang memiliki tekstur yang sangat lembut juga tebal.


Setelah menemukan label yang dia cari, Zoya pun langsung melihat harga dress tersebut yang seketika membuat kedua matanya melotot. Bahkan jantung wanita itu terasa hampir copot dibuatnya.


"Mba, sebentar ya. Saya tanya pria itu dulu. Pria yang datang bersama saya di sana." Zoya pun bergegas pergi setelah selesai berbicara. Dia mempercepat langkah kakinya menuju Lucas yang tengah duduk santai di sofa khusus untuk pelanggan yang menunggu.


Melihat kedatangan Zoya membuat Lucas menoleh ke arahnya, lalu kedua alisnya saling bertaut saat melihat tangan wanita itu kosong tanpa membawa pakaian apa pun.


"Apa kamu sudah menentukan baju mana yang kamu pilih?" tanya pria itu menatap dengan sorot mata tajam.


Zoya pun memutuskan untuk duduk di sebelah Lucas. Lalu, mendekatkan mulutnya ke arah telinga Lucas dan mulai membisikkan sesuatu pada pria itu. "Kamu membawaku ke tempat yang salah, Tuan. Lebih baik cepat kita pergi dari sini dan cari baju di tempat lain saja!" bisik Zoya sepelan mungkin agar tidak dapat didengar oleh siapa pun.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Lucas mulai penasaran dengan alasan yang dikatakan oleh wanita itu.


"Tadi sebenarnya aku sudah menemukan dress yang bagus, tapi begitu lihat harganya, kamu tau berapa?"


"Berapa?" tanya Lucas dengan heran. Ada rasa penasaran yang sampai membuat kedua alisnya saling bertaut dalam.


"35 juta! Makanya aku memutuskan untuk tidak membelinya. Sudah lebih baik cari di outlet lain saja atau kita ke ITC Depok saja, di sana harganya lebih murah. 35 juta aku bisa dapat satu lemari penuh pasti." Zoya membayangkan berapa banyak pakaian yang bisa ia beli dengan uang sebanyak itu.


"Memangnya ada yang salah jika dress yang kamu bilang bagus itu harganya 35 juta?"


"Jelas salah dong, aku yakin outlet ini mencari banyak keuntungan dan dia menjual pakaian dengan harga di luar nalar manusia."


"Stop! Hentikan semua omong kosong ini, Zoya! Jangan membuatku malu, apalagi kalau sampai ada yang mendengar perkataanmu ini."


"Kenapa? Semua yang aku katakan itu benar kok."


"Kamu itu benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh sih? Apa kamu tidak tau jika outlet yang kita datangi saat ini adalah outlet yang sudah punya nama? Jadi harga 35 juta untuk sebuah dress itu wajar dan menurutku cukup murah. Lalu, kenapa kamu mempermasalahkannya? Lagi pula ini di mana? Kita bukan ada di mal pinggiran kota. Ini mal terbesar di kota ini. Sudah tidak usah dibahas! Sekarang cepat coba dress yang kamu bilang bagus itu dan perlihatkan padaku! Masalah harga kamu tidak usah pikirkan karena aku yang akan membayar baju itu dan bukan kamu!" Lucas tampak kesal karena sejak tadi Zoya hanya membuang-buang waktunya saja.


Zoya pun akhirnya hanya dapat mengangguk. Ia pun menyayangkan jika harus membeli dress mahal itu, padahal dengan uang 35 juta ia bisa mendapatkan lebih dari satu pakaian jika berbelanja di tempat langganannya yang berada di mal berbeda dari mal yang sekarang didatanginya. "Sebenarnya yang bodoh aku atau dia ya. Harusnya dia bersyukur karena aku bisa menghemat uangnya dengan tidak membeli dress mahal itu. Dasar pria aneh!" gerutu Zoya merasa kesal dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2