
Selamat membaca!
Tepat pada pukul 7 malam Lucas baru saja melangkah memasuki lobi Keraton at The Plaza Apartemen yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Pria itu datang untuk memenuhi undangan dari Flora. Lebih tepatnya agar Flora memberitahu tentang apa yang diketahuinya. Ya, pria itu datang seorang diri sesuai permintaan Flora tanpa mengajak Alden yang merupakan asistennya. Lucas terlihat sangat tampan dengan stelan jas mahal yang dikenakannya.
Begitu tiba di depan unit apartemen Flora langkahnya terhenti seketika, ia pun menekan bel beberapa kali dengan perasaannya yang kesal. Bagaimana tidak, jika bukan karena ancaman Flora pasti pria itu tidak akan mau datang memenuhi undangannya.
Tak lama kemudian pintu pun dibuka oleh Flora yang langsung menyambutnya dengan senyuman.
"Lucas, kamu terlihat sangat tampan malam ini," puji wanita itu, lalu menarik tangan Lucas untuk masuk ke apartemennya.
Lucas pun hanya tersenyum singkat mendengar pujian yang terlontar dari bibir Flora. Tanpa mengatakan apa-apa wanita itu langsung membawanya menuju sebuah ruangan khusus yang telah didekor untuk makan malam bersama Lucas. Tentu saja Lucas masih ingat betul ancaman dari Flora. Ancaman yang membuatnya harus bersikap baik pada wanita itu agar rahasianya tetap aman dari Zoya.
"Aku sudah menyiapkan ini semua untuk kita berdua, semoga kamu suka ya," ucap Flora berbicara tepat di dekat telinga Lucas sambil memeluk lengan pria itu dengan erat.
"Tentu aku suka. Kamu memang selalu bisa mengerti seleraku. Terima kasih ya sudah menyiapkan semua ini." Lucas menatap lekat wajah Flora yang berdiri di sampingnya. Mengulas senyuman yang menyiratkan sesuatu. Ada keterpaksaan dari senyuman itu. Hal yang sebenarnya enggan untuk dilakukannya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu menyadari itu dari dulu dan jangan mencari wanita lain untuk kamu nikahi karena aku siap menjadi istrimu."
Dengan gerakan perlahan, Lucas melepaskan lengannya yang masih dipeluk oleh Flora, lalu ia berdiri tepat di hadapan wanita itu sambil menangkup kedua sisi wajah Flora yang tampak bahagia karena Lucas bersikap baik padanya malam ini.
"Maaf jika keputusanku ini membuatmu terluka dan kecewa, tapi kamu tau sendiri jika aku mandul gara-gara kecelakaan waktu itu. Dokter sudah memvonis aku tidak akan pernah bisa memiliki keturunan, sementara orang tuaku sangat menginginkan seorang cucu untuk menjadi penerus keluarga Dekawistara dan kebetulan aku tau kalau Zoya sedang mengandung anakku. Apa kamu ingat wanita yang kita temui di rumah sakit?"
"Jadi wanita itu Zoya?" tanya Flora yang memang hanya sekilas melihat wajah Zoya saat itu karena wanita itu malah pergi begitu Lucas bertanya padanya.
"Iya betul. Dia adalah Zoya dan hanya dia satu-satunya harapan yang bisa memberiku keturunan. Jadi tidak ada pilihan lain untukku selain menikahnya." Lucas coba menjelaskan sambil melepaskan kedua tangannya dari wajah Flora. Ia sangat berharap jika Flora tak lagi terobsesi untuk menikah dengannya.
"Flora, apa kamu mendengarku?" tanya Lucas ketika melihat jika Flora malah melamun diam tanpa menjawab perkataannya.
"Iya, aku sedang berpikir. Bagaimana jika ternyata anak yang ada dalam kandungan Zoya bukan anakmu, tapi anak pria lain?" Flora coba menghasut. Berharap agar Lucas terpengaruh dengan pertanyaannya.
"Tentu saja itu anakku, Flo. Aku sangat yakin karena aku adalah pria pertama yang tidur dengannya dan merenggut kesuciannya pada malam itu."
__ADS_1
"Tapi bisa saja setelah tidur denganmu, dia tidur dengan pria lain?"
Sejenak Lucas berpikir. Kali ini sepertinya perkataan Flora benar-benar mampu merusak keyakinan pria itu hingga mulai berpikir untuk melakukan test DNA guna memastikan anak dalam kandungan Zoya adalah anaknya. Namun, Lucas menutupi keraguan itu di depan Flora. Ia tidak ingin berurusan dengan wanita yang hanya membuat hidupnya jadi serumit ini. Ya, perjodohan dengan Flora benar-benar membuat Lucas harus berurusan dengan Zoya.
"Bagaimana, Luc? Apa kamu mulai ragu sekarang?" tanya Flora kembali saat mendapati Lucas hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
"Aku yakin dia anakku karena Zoya memang mengakuinya. Aku rasa wanita polos seperti dia tidak akan pernah berbohong."
"Tapi apakah kamu mencintainya?" tanya Flora lagi dengan bibir bergetar.
Lucas terdiam, lalu sejenak mengalihkan pandangannya saat mendengar pertanyaan sulit itu. Ia tidak mungkin mengatakan tidak mencintai Zoya karena itu hanya akan membuat Flora semakin punya kendali atas dirinya. Sebisa mungkin hari ini, Lucas harus bisa meyakinkan Flora jika cintanya hanyalah untuk Zoya dan menghentikan segala obsesi Flora.
"Kalau kamu tau aku tidak mencintainya, kamu pasti akan terus-menerus mendekatiku," batin Lucas yang kembali menatap wajah Flora sebelum mulai menjawabnya.
Bersambung ✍️
__ADS_1