
Selamat membaca!
Melihat keberadaan Lucas, Flora pun hanya tersenyum. Mengurungkan niatnya untuk bicara, walau sebenarnya rahasia yang selama ini ia simpan sudah nyaris terucap dari mulutnya. "Enggak ada apa-apa. Aku tuh cuma mau bilang sama Zoya kalau dia sangat beruntung bisa menikah sama kamu, Lucas. Benar, kan, Zo?"
Perkataan Flora seketika membuat Zoya terdiam. Sejujurnya ia masih ingin mendengar apa yang tadi ingin dikatakan oleh Flora. Tetapi nyatanya, ia tidak bisa bertanya karena Lucas datang di saat yang tidak tepat.
"Zo?" Flora kembali mengulang pertanyaan di tengah sorot mata Lucas yang mulai curiga.
"Iya benar. Maaf ya, aku jadi melamun. Tadi itu Flora bilang kalau aku sangat beruntung bisa jadi istri dari putra semata wayang keluarga Dekawistara."
"Tentu saja kamu beruntung karena dari sekian banyak wanita akhirnya kamu yang aku pilih. Kalau saja kamu tidak mengandung anakku, mungkin aku tidak akan menikah denganmu." Raut wajah Lucas tampak menyebalkan di mata Zoya saat mengatakan itu.
"Dasar sombong! Memangnya kamu pikir aku mau nikah sama kamu. Amit, amit, semoga anak yang aku kandung ini enggak mirip sama bapaknya." Tentu saja Zoya hanya berani mengatakan itu dalam hati.
"Ya sudah, silakan lanjutkan obrolan kalian." Lucas kembali pergi. Melangkah bersama seorang kerabatnya yang tiba-tiba datang merangkul.
__ADS_1
"Oke, Zo. Semoga kamu bahagia ya." Ucapan itu layaknya sebuah keraguan yang terdengar di telinga Zoya.
"Tunggu, Nona!" Masih penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Flora, Zoya berhasil meraih lengan wanita itu hingga menahan langkah Flora untuk pergi. "Tolong lanjutkan apa yang tadi ingin kamu katakan!" pinta Zoya dengan sorot mata menuntut.
"Tidak ada apa-apa. Nanti jika waktunya tiba, kamu pasti akan tahu." Setelah melepas genggaman Zoya, Flora pun pergi menghampiri Alden yang ada di sisi kirinya. Meninggalkan Zoya yang hanya menatap kepergiannya dengan rasa penasaran.
"Kalau tidak ingin mengatakannya, kenapa dia harus membuatku penasaran? Sebenarnya apa yang dia sembunyikan?" Sambil menghela napas, Zoya memperhatikan keadaan sekitar di mana setiap orang tampak bahagia. Namun, kebahagiaan itu seakan jauh darinya. Menikah dengan Lucas adalah mimpi buruk untuknya. Walaupun pria itu adalah ayah dari anak yang dikandungnya. Namun, ia merasa amat bersalah karena pria yang akan disebutnya suami adalah orang yang telah membuat ibunya tiada.
"Maafkan aku, Mah ...." Di saat bulir bening mulai menganak di pelupuk matanya, tiba-tiba Belinda datang dari belakang tubuh Zoya.
"Enggak apa-apa, aku hanya ...."
"Ayo ceritakan sama Mama!"
"Mama ...."
__ADS_1
Mendengar kata itu terucap dari mulut Belinda, Zoya seketika menatap wanita itu dengan heran.
"Iya, Mama. Sekarang kamu harus panggil Tante, Mama ya! Kamu itu kan sudah menikah sama Lucas. Jadi, mulai hari ini, kamu adalah anak Mama juga."
"Tapi ...." Zoya masih meragu. Sulit rasanya mengatakan bahwa ia baik-baik saja di tengah rasa bersalahnya terhadap sang ibu.
"Mama tahu kesalahan Lucas, tapi kamu harus tahu, kalau Lucas pernah punya maksud untuk membuat ibu kamu sampai meninggal." Seolah bisa membaca apa yang Zoya pikirkan, perkataan Belinda sukses membuatnya tertegun. Wanita cantik itu pun menatap dalam wajah Belinda dengan air mata yang kembali menghujani kedua pipinya.
"Atas nama Lucas, Mama minta maaf sama kamu. Mama janji! Mama akan selalu menyayangimu agar kamu tidak pernah kekurangan kasih sayang dari seorang ibu."
Zoya yang memang butuh sebuah dekapan, tanpa ragu langsung memeluk tubuh Belinda. Keduanya pun kini saling berpelukan. Tanpa memedulikan beberapa pasang mata yang tengah memperhatikan mereka, termasuk Lucas yang juga melihat kejadian itu.
"Apa aku harus memaafkannya dan coba menerima takdirku menjadi istri Lucas Dekawistara?" gumam Zoya coba bertanya pada dirinya sendiri di tengah perasaan ragu yang kian membuatnya bingung.
Bersambung ✍️
__ADS_1