
Selamat membaca!
Lucas mengabaikan permintaannya dan malah semakin keras menarik tangan Zoya.
"Lepaskan aku! Lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku!" Ancaman Zoya hanya ditanggapi dingin oleh Lucas yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya sambil menatap wajah Zoya dengan tajam.
"Apa kamu lupa jika apartemen ini adalah milikku? Orang boleh saja bodoh atau bahkan lupa, tapi jangan pernah jadi orang yang tidak tau diri! Kamu itu hanya menumpang tinggal di sini. Jangan mentang-mentang kamu sedang mengandung anakku kamu sampai berani padaku! Hari ini kamu sudah melanggar perintahku, bahkan sampai memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuan dariku. Jadi kamu harus menanggung akibatnya karena kamu sudah menggagalkan rencanaku!" bentak Lucas dengan penuh penekanan. Kini pria itu kembali menggenggam tangan Zoya, lalu menariknya dengan lebih kasar dari sebelumnya.
"Lucas sakit! Lepas!" Zoya masih terus berontak. Melepaskan diri dari cengkraman Lucas yang seolah tak memiliki perasaan dan seperti lupa bahwa ia sedang mengandung anaknya saat ini.
"Jangan harap aku akan melepaskanmu, Zoya! Wanita keras kepala sepertimu harus mendapatkan hukuman agar kamu tidak berani lagi membantahku. Asal kamu tau ya, cuma kamu satu-satunya wanita yang kurang ajar padaku, bahkan kamu berani mengabaikan aku di saat aku sudah memberi isyarat padamu! Kamu pikir kamu siapa sampai bisa memutuskan sesuatu yang menyangkut hidupku?"
Zoya tidak terima mendengar perkataan Lucas, ia pun terus memberontak hingga mencakar lengan pria itu agar mau melepaskannya.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu, Lucas! Jelas-jelas kamu yang sudah membuat hidupku jadi seperti ini. Gara-gara kamu—" Belum sempat Zoya menyelesaikan perkataannya, sebuah tamparan keras mendarat sempurna di wajahnya. Membuatnya langsung merintih kesakitan dengan kedua matanya yang mulai dipenuhi butiran air.
Zoya menelan salivanya dengan susah payah sambil mengusap pipinya yang terasa perih setelah ditampar oleh Lucas. Ia tak habis pikir ayah dari anak yang dikandungnya bisa setega itu memperlakukannya seolah tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Selama beberapa hari ini aku sudah berusaha untuk baik sama kamu! Aku sampai menahan emosi hanya karena kamu sedang mengandung anakku. Tapi setelah aku diam, ternyata kamu malah semakin berani dan keterlaluan. Maaf, aku tidak bisa membiarkanmu bersikap semena-mena padaku!" Lucas mengatakanya dengan suara yang terdengar tegas, lalu membanting tubuh Zoya ke atas ranjang.
Saat ini, Zoya tak ingin menangis, walau rasa sakit begitu terasa perih di hatinya. Ingin rasanya ia berlari pergi dari semuanya, tapi keberadaan sang ibu yang masih dalam kuasa Lucas sungguh membuatnya tak berkutik hingga dirinya harus terperangkap dalam kekejaman pria yang hanya bisa menyiksanya tanpa ada pengampunan.
Di tengah kebencian yang tengah dirasakan oleh Zoya, Lucas sama sekali tidak simpati. Pria itu malah mendekati Zoya dan mengungkung tubuh Zoya yang ada di bawah kendalinya saat ini. Ia menjadikan kedua siku lengannya untuk bertumpu di atas ranjang agar tidak sampai mengenai perut Zoya.
"Pokoknya aku tidak mau tau! Kamu harus pikirkan caranya untuk meminta pada ibuku agar membiarkan kita tidak tinggal bersamanya atau kamu akan semakin aku buat menderita setiap harinya!" ancam Lucas yang tidak terdengar main-main hingga membuat bulu kuduk Zoya jadi meremang saat mendengarnya.
Bibir Zoya pun bergetar hebat, lidahnya terasa kaku untuk digerakkan. Ia tidak mampu berkata-kata. Namun, kepalanya mengangguk untuk mengiyakan perkataan Lucas.
__ADS_1
"Dengar ya, Zoya! Jangan anggap aku main-main dengan perkataanku! Apa kamu tau apa akibatnya jika berani membantah perkataanku? Biar aku beri contoh, sekarang karena kamu sudah berani menggagalkan rencanaku. Maka aku akan memindahkan ibumu ke rumah sakit yang lebih jauh dari sini. Jadi semakin kamu berani padaku, aku akan semakin menjauhkan kalian!" ancam Lucas dengan penuh penekanan hingga membuat Zoya ketakutan hingga dahinya berkeringat.
Mendengar semua itu seketika melemahkan Zoya yang sedang berusaha menguatkan dirinya. Ia benar-benar kesal karena Lucas selalu menjadikan ibunya sebagai senjata untuk mengancamnya. Setelah lama menahan kepedihan dalam hatinya, wanita itu pun menangis. Terisak dan meratapi kesengsaraan yang sungguh menyakitkan.
"Tolong jangan sakiti ibuku!" Zoya terdengar memohon dengan berurai air mata.
"Ya, aku tidak akan menyakitinya asalkan kamu patuh. Kalau kamu berani menantangku dan menguji kesabaranku lagi, maka aku pastikan tidak akan ada lagi waktu untuk melihatnya hidup! Apa kamu mengerti?"
Zoya buru-buru menganggukkan kepala, kini seluruh tubuhnya gemetar ketakutan karena Lucas berada di atasnya dengan jarak yang cukup dekat. Pikiran Zoya buntu saat ini, ia tak dapat melakukan apa-apa ketika nyawa sang ibu yang jadi taruhannya.
"Mah, maafin aku. Maaf aku sudah membuat Mama sampai terlibat dalam masalah ini. Mama harus kuat ya, Mah! Demi aku, demi cucu Mama. Tolong bertahanlah sampai penderitaan ini berakhir dan aku akan segera membebaskanmu. Aku janji, Mah! Kita akan kembali hidup bersama seperti dulu, sebelum aku mengenal pria jahat ini. Sekarang aku akan patuh padanya demi Mama, aku enggak mau Mama sampai disakiti gara-gara aku." Zoya hanya mampu menjerit dalam hati. Berharap jeritannya terdengar oleh sang ibu yang saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati di sebuah rumah sakit. Zoya hanya dapat menguatkan ibunya lewat doa yang terucap bersamaan dengan rasa sakit yang kian menderanya.
Bersambung✍️
__ADS_1