One Night Destiny

One Night Destiny
Menjadi Gugup


__ADS_3

Selamat membaca!


Sepanjang perjalanan Zoya benar-benar dibuat tak percaya jika ia harus menaiki sebuah mobil mewah dengan ditemani oleh seorang sopir dan Riana. Ya, Lucas berhasil membuat Zoya benar-benar menjadi wanita kelas atas yang kecantikannya tak kalah dari Flora. Bahkan bisa dibilang jika wanita itu satu tingkat lebih baik dari Flora saat ini, terlebih Lucas nantinya akan memperkenalkan Zoya sebagai pimpinan Royal City Group yang bergerak di bidang properti.


Setibanya di pelataran rumah yang begitu luas, seorang penjaga keamanan yang berdiri di depan pintu segera berlari menuruni anak tangga dan membukakan pintu mobil. Lalu, ia mempersilahkan Zoya dan Riana untuk turun.


Begitu keduanya keluar dari mobil, penjaga keamanan itu segera membungkuk hormat. "Selamat datang, Nona muda."


Zoya refleks hampir membungkuk untuk menunjukkan rasa hormatnya pada penjaga keamanan yang rambutnya hampir memutih, Zoya memang diajarkan untuk bersikap hormat pada orang yang lebih tua. Akan tetapi, Riana langsung menahannya, menatap wajahnya sembari tersenyum kaku.


Riana memberikan isyarat agar Zoya diam dan tak mengatakan apa pun. Sementara Zoya hanya membalas lewat senyuman dan berusaha untuk menahan diri agar bisa menjadi wanita karir berkelas di hadapan keluarga Lucas.


"Ya ampun, hampir saja aku kelepasan. Kendalikan dirimu, Zo. Jangan sampai sandiwara ini ketahuan dan itu hanya akan membahayakan Mama! Tapi tadi dia memanggilku Nona muda, apa maksudnya ya? Apa Lucas memang sudah mengatakan pada mereka bahwa aku adalah calon istrinya?" batin Zoya sembari mengelus dadanya singkat dengan pertanyaan yang berkutat di pikirannya.


Kemudian Riana mengajak Zoya untuk melangkah dan menemui orang tuanya sesuai perintah Lucas. Keduanya pun menaiki anak tangga yang berbaris menuju pintu masuk. Begitu tiba di anak tangga paling atas, ternyata ada dua orang pelayan lagi yang menyambut kedatangannya di depan pintu. Mereka pun tersenyum dan kemudian membungkuk hormat.


"Eh, ternyata di depan pintu masuk juga ada dua pelayan yang menyambutku. Wah, sepertinya keluarga Lucas benar-benar sangat kaya," batin Zoya yang kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya memasuki rumah megah tersebut.


Begitu tiba di aula rumah yang begitu luas, mata Zoya langsung dimanjakan dengan kemewahan yang bertaburan di sekelilingnya. Pajangan mewah, lantai marmer yang mahal, dan furniture-furniture impor dari luar negeri tampak mengisi setiap sudut ruangan.

__ADS_1


Di sana juga ada dua pelayan yang menyambut kedatangan Zoya. Setelah membungkuk hormat, keduanya segera mendekat ke arah Zoya dan Riana, mengambil tas mereka dengan sopan untuk mereka bawakan.


Zoya hampir dibuat terkejut saat tasnya akan diambil dan Riana buru-buru mengedipkan mata agar wanita itu tidak perlu ragu menyerahkan tasnya pada pelayan tersebut.


"Mari silakan masuk, Nona muda. Tuan dan nyonya besar sudah menunggu di ruang pertemuan." Perkataan itu terlontar dari salah satu pelayan yang terlihat cukup berumur dari beberapa pelayan sebelumnya. Wanita itu bernama Jenny, ia adalah ketua pelayan di rumah tersebut yang telah bekerja selama 20 tahun bersama orang tua Lucas.


Lagi-lagi Zoya tidak menjawab karena dilarang oleh Riana. Kini keduanya mengikuti Jenny pergi membawa mereka menuju ruang pertemuan. Saat melewati lorong yang bertabur lukisan mahal, Zoya melihat beberapa orang pelayan membungkuk ketika berpapasan dengannya. Sungguh ini adalah pengalaman pertama baginya, datang ke rumah yang luasnya seperti lapangan golf dan memiliki banyak pelayan yang di setiap langkahnya selalu menyambutnya dengan ramah.


"Gila! Keluarga macam apa yang sebenarnya menempati rumah ini. Kenapa ada begitu banyak pelayan di mana-mana dan semuanya membungkuk hormat di hadapanku? Apakah mereka semua memperlakukan tamu seperti ini? Aku jadi penasaran berapa orang yang tinggal di rumah ini sampai harus mempekerjakan banyak pelayan." Zoya hanya mampu berdecak kagum di dalam hati, andai saja saat ini ia datang sebagai jati dirinya sendiri mungkin wanita itu akan menghormati mereka semua yang membungkuk hormat di hadapannya.


Zoya tak habis pikir mengapa rumah yang ia datangi kali ini begitu luas hingga butuh waktu cukup lama menuju ruang pertemuan yang ketua pelayan katakan tadi. Namun, setelah melangkah jauh akhirnya Zoya dan Riana tiba di depan pintu berwarna putih yang terbuat dari kayu berkualitas. Kemudian Jenny langsung membuka pintu tersebut dan mempersilakan keduanya untuk masuk.


"Silakan masuk, Nona muda! Tuan dan nyonya sudah menunggu di dalam."


Ketua pelayan itu berusaha menahan keterkejutannya mendengar Zoya mengucapkan terima kasih pada salah satu pelayan di rumah mewah tersebut.


Sementara itu, Zoya mulai merasa gugup saat hendak melangkah masuk. Ia takut semua tidak berjalan sebaik yang dikatakan oleh Riana. Zoya khawatir kedua orang tua Lucas tidak yakin jika dirinya adalah seorang pengusaha sukses dan yang lebih menakutkan lagi adalah jika ia gagal membuat mereka terkesan dalam pertemuan ini.


Zoya pun berusaha menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya Riana mengajaknya masuk. Begitu tiba di ruang pertemuan yang begitu mewah, pandangan Zoya langsung tertuju pada enam orang pelayan yang berdiri di belakang dua orang yang saat ini tengah duduk santai di atas sofa berbusa tebal. Zoya yakin jika kedua orang itu adalah orang tua Lucas karena wajah mereka memang sangat mirip.

__ADS_1


"Kamu pasti bisa, Zo! Sekali-kali ngerasain jadi orang kaya enggak ada salahnya! Buktinya kamu berkesempatan datang ke rumah yang sebelumnya di bayanganmu nggak ada rumah semegah ini, kamu disambut dengan hormat dan kedatanganmu ditunggu oleh orang penting! Jadi hari ini kamu harus bisa jadi Zoya, si pengusaha muda yang sukses!" Zoya berusaha menyemangati dirinya sendiri di dalam hati sambil melangkah menghampiri orang tua Lucas.


Setibanya di hadapan pasangan yang tak lagi muda itu Zoya langsung membungkuk dan memberikan salam dengan hormat.


"Selamat siang, Om dan Tante. Perkenalkan nama saya Zoya."


"Oh, jadi kamu yang berhasil meluluhkan hati putra saya? Dari keluarga mana kamu berasal dan apa bisnis orang tuamu?" Edward yang tidak suka basa-basi pada orang asing yang baru ditemuinya pun langsung melontarkan pertanyaan itu di hadapan Zoya dan Riana yang saat ini masih berdiri.


Belinda yang mendengar suaminya bertanya dengan menggebu-gebu segera mengusap lengan Edward penuh kelembutan. "Dad, tanya-tanyanya nanti dulu ya. Persilakan dulu dia duduk!"


Edward terdiam tak menjawab. Ia memang tidak menyukai Zoya karena keberadaannya sampai menggagalkan perjodohan antara Lucas dan Flora yang sudah diaturnya.


"Zoya, mari silakan duduk!" Belinda dengan ramah mempersilakan wanita pilihan putranya untuk duduk.


"Terima kasih, Tante." Zoya tersenyum, lalu mulai melangkah bersama Riana untuk menempati salah satu sofa yang berada tepat di seberang orang tua Lucas.


Setelah mempersilahkan Zoya duduk, Belinda terlihat melambaikan tangan dan pelayan yang berdiri di belakangnya pun segera melangkah maju membawakan jamuan untuk dihidangkan di atas meja panjang.


Setelah duduk di hadapan kedua orang tua Lucas, Zoya merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Kini rasa gugup mulai menggerogoti ketenangannya, terlebih saat Edward menyambutnya dengan beberapa pertanyaan yang menohok. Ditambah sorot mata pria itu yang tampak dingin dan tajam, membuat rasa gugup itu kian menguasai dirinya.

__ADS_1


"Sepertinya bukan hal yang mudah untuk aku meyakinkan pria itu. Apakah aku harus tetap melanjutkan kebohongan ini atau lebih baik aku mengatakan yang sebenarnya jika aku adalah wanita yang telah diperkosa oleh putranya dan sekarang sedang mengandung cucunya? Tapi jika aku jujur pada mereka dan mereka tidak menerimaku bagaimana? Bagaimana nasib mama nantinya?" batin Zoya bertanya-tanya dalam hati saat keyakinan yang dibangun selama beberapa jam terakhir runtuh melihat sikap dari Edward yang begitu arogan padanya.


Bersambung ✍️


__ADS_2