
Selamat membaca!
Selepas kepergian Lucas, Zoya hanya bisa menangis. Meratapi hidupnya yang terasa amat menyedihkan. Ia tak menyangka bahwa pria yang telah merenggut kesuciannya kembali datang dan membuat hidupnya berada seperti di dalam neraka. Walaupun tak bisa dipungkiri, kamar yang ditempatinya saat ini memang sangat mewah. Semua fasilitas kelas atas tersedia di sana, tapi apa itu cukup sementara kebahagian dan kebebasannya harus tergadaikan.
"Tuhan, kenapa jadi sesulit ini? Aku pikir setelah membawa mama lepas dari Jonathan, aku dan mama bisa bahagia, tapi ternyata aku salah. Sekarang hidupku malah semakin sulit." Zoya mulai meremas sprei yang terpasang pada ranjang. Melampiaskan rasa kesal yang sulit diredamnya sejak tadi.
Di saat pikirannya masih begitu kalut dengan semua yang terjadi dalam hidupnya, tiba-tiba suara ketukan pintu pun terdengar. Suara wanita tampak memanggilnya dari depan pintu. Wanita yang meminta izin terlebih dulu pada Zoya sebelum masuk, padahal dia yang memegang kunci kamar itu.
"Kira-kira siapa yang datang?" Zoya merasa heran sambil mengusap air mata yang sudah membuat wajahnya terlihat sangat basah.
Sekejap Zoya mulai berpikir bahwa ini adalah kesempatan untuknya. Kesempatan untuk bisa melarikan diri dan mencari ibunya. Ya, Zoya sejak tadi sudah berpikir dengan cukup keras tentang hal ini. Dia beranggapan jika sang ibu pasti berada di rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya. Jadi bukan hal yang terlalu sulit untuk bisa menemukannya.
"Masuk!" titah Zoya yang kini sudah bersiap untuk keluar dari kamar dengan bersembunyi di balik pintu. Setidaknya rencana itu yang ada dalam pikirannya.
Begitu pintu terbuka, seorang wanita paruh baya terlihat membawa nampan yang berisi makanan.
__ADS_1
"Nona, saya membawakan makanan untuk makan malam Anda." Pelayan itu mulai melangkah lebih ke dalam untuk meletakkan makanan yang dibawanya di atas nakas samping ranjang. Pandangannya masih melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Zoya yang memang tak dilihatnya sejak tadi.
Di saat pelayan itu baru beberapa langkah menjauh dari pintu, Zoya pun dengan diam-diam menyelinap keluar kamar. Namun sayang, wanita paruh baya itu dapat melihatnya. "Nona, jangan pergi!"
Panggilan itu begitu mengejutkannya. Zoya sama sekali tak ingin mundur. Ia mempercepat langkah kakinya di tengah kejaran wanita paruh baya yang coba menyusul beberapa langkah di belakangnya.
"Aku tidak boleh tertangkap." Zoya terus berlari. Menuruni anak tangga dengan hati-hati. Tujuannya adalah pintu depan Villa yang kini sudah terlihat oleh kedua matanya.
"Nona, jangan nekat!" Terdengar suara peringatan dari wanita yang mengejarnya itu. Namun, Zoya tetap pada pendiriannya. Baginya lebih baik mencoba untuk melarikan diri dari tempat itu yang bagaikan neraka, daripada hidup seperti seorang tawanan.
"Ya Tuhan, sebenarnya di mana aku?" tanyanya ketika hanya mendapati persawahan di sisi kirinya dan pepohonan yang besar di sebelah kanannya.
"Nona, masuklah kembali!" titah wanita paruh baya itu yang hampir mendekat.
"Jangan mendekat! Tolong kasihanilah saya! Biarkan saya pergi, Bu!"
__ADS_1
"Bukan saya tidak kasihan sama Nona. Tolong mengertilah, Non! Jika Nona sampai melarikan diri saya yang akan dipecat oleh Tuan Lucas. Ditambah lagi Nona juga tidak akan mungkin selamat jika pergi dari sini dengan berjalan kaki. Jalan menuju ke depan itu berjarak 10 kilometer. Saya khawatir Nona tidak akan selamat."
Sejenak Zoya terdiam. Berpikir keras penuh rasa iba. Di satu sisi keinginannya untuk pergi begitu kuat, tapi dia juga tengah mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi dengannya setelah mendengar peringatan dari wanita paruh baya yang kini hanya berjarak dua langkah darinya.
"Sekarang aku harus bagaimana?" Zoya kembali memperhatikan sekelilingnya. Situasi malam yang sangat gelap dan minim penerangan.
"Sudahlah, Nona. Masuklah! Saya janji akan membantu Anda, tapi tidak dengan cara melarikan diri seperti ini. Ada cara yang lebih pintar daripada kita harus mati sia-sia di hutan sana." Wanita paruh baya itu menunjuk ke jalan setapak yang memang membelah hutan di sisi kanan sana. Jalan satu-satunya yang bisa dilewati untuk menuju jalan raya.
"Bagaimana caranya pria itu datang dan pergi dari sini?" tanya Zoya sebelum mengiyakan permintaan dari pelayan itu.
"Tuan Lucas ke sini menggunakan mobil. Jalan itu memang bisa dilewati satu mobil, Non."
"Sial, sekarang aku tidak punya pilihan selain kembali masuk! Apa aku tetap harus nekat coba menelusuri hutan itu? Tapi aku takut," batin Zoya merasakan bulu kuduknya yang kini mulai meremang, menciutkan keberaniannya untuk pergi dari Villa itu.
Bersambung ✍️
__ADS_1