One Night Destiny

One Night Destiny
Kabar Buruk


__ADS_3

Selamat membaca!


Merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk bisa menghindari Lucas, Zoya memilih menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut dan mengeratkan genggaman tangannya untuk menjaga selimut itu agar melindunginya dari Lucas. Namun, tiba-tiba ia penasaran karena tak ada hal apa pun yang dilakukan oleh pria itu sejak ia bersembunyi.


"Kenapa dia malah tidak lagi mendekatiku? Sebenarnya apa yang terjadi?" Zoya berniat mengintip dengan sedikit mengeluarkan kepalanya. Ketika pandangan matanya mulai dapat melihat keadaan di luar, ia pun dibuat terkejut karena Lucas tiba-tiba sudah tidak ada di kamarnya.


"Ke mana dia? Apa dia pergi dan hanya bermaksud menakutiku saja?" gerutu Zoya masih dengan hati-hati keluar dari tempat persembunyiannya.


Merasa aneh dengan sikap Lucas, Zoya pun langsung beranjak ke kamar mandi. Ia merasa lega karena pria itu sudah pergi dan tak mengganggunya sama sekali.


"Aneh, kenapa dia datang dan tidak melakukan apa pun? Tetapi sudahlah, aku tidak mau memikirkannya. Ya, mungkin saja dia tidak berani menyakitiku selama aku tinggal di rumah ini karena takut dengan ibunya."


***

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Zoya pun sudah berada di ruang makan di mana Belinda dan beberapa pelayan sudah menunggunya di sana.


"Tante, maaf ya kalau aku lama," ucap Zoya sesaat setelah menempati salah satu kursi yang tepat berada di seberang Belinda.


"Tidak apa-apa, Sayang. Sudah ayo kita sarapan dulu!"


Di tengah sarapan pagi mereka, tiba-tiba Lucas datang dan memilih duduk di samping Zoya. Membuat wanita itu mulai merasa tidak nyaman. Hal itu dapat dilihat oleh Belinda yang langsung meminta Lucas untuk pindah.


"Lucas, duduklah di sebelah sini! Biarkan Zoya makan dengan tenang. Pokoknya Mommy tidak mau kamu mengganggunya, apalagi menyakitinya lagi seperti kemarin."


"Enggak apa-apa, Tante. Lagi pula dia tidak akan lagi berani menyakitiku seperti kemarin karena sekarang aku sudah tinggal bersama Tante, benar begitu, kan, Lucas?" Dengan berani Zoya mengatakan itu. Bahkan ia tak lagi memanggil Lucas dengan panggilan tuan seperti sebelumnya.


"Wanita ini mulai berani sekali mentang-mentang Mommy membelanya. Mungkin jika di sini aku tidak bisa memberimu pelajaran, tetapi jika di luar aku akan membuatmu tak lagi berani bersikap kurang ajar denganku. Ya, setelah menikah nanti aku akan meminta izin pada Mommy untuk pergi bulan madu dan di sanalah aku akan memberimu pelajaran. Menjadikan bulan madu yang kita lewati nanti jadi sesuatu yang paling menyakitkan untukmu." Di dalam hati, Lucas tertawa puas tanpa ada rasa bersalah atau penyesalan atas apa yang sebelumnya pernah dilakukannya pada Zoya.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, dering ponsel Lucas mulai terdengar berbunyi. Pria itu pun langsung mengambil benda pipih miliknya dan mulai menjawab panggilan telepon itu.


"Apa dokter ... meninggal?"


Mendengar perkataan itu, Zoya yang sejak tadi enggan melihat Lucas pun seketika menoleh ke arahnya. Menatap sengit dan penuh tanda tanya tentang apa yang baru saja didengarnya. "Siapa yang meninggal, Lucas?"


Lucas tak menjawab. Masih dengan ponsel yang menempel di daun telinganya, pria itu melihat Zoya, lalu menatap Belinda secara bergantian. Membuat wanita paruh baya itu mulai bertanya akan maksud perkataan yang Lucas ucapkan.


"Kenapa, Lucas? Siapa yang meninggal?" tanya Belinda dengan wajah penasaran.


"Katakan Lucas? Siapa yang meninggal? Kenapa kamu malah diam?" Zoya kembali mengulang pertanyaannya. Kali ini suaranya terdengar lebih menuntut dari sebelumnya.


"Ibumu ...."

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2