
Selamat membaca!
Lucas memilih duduk di sebuah sofa yang ada di kamar itu. Tatapan matanya masih tertuju pada wanita yang kini sedang menantangnya. Tak ada rasa takut yang dapat dilihatnya dari wajah Zoya. Wajahnya terbilang cukup tenang kali ini, sangat berbeda dengan waktu pertama kali mereka bertemu.
Tanpa ada rasa takut, Zoya mulai merinci satu persatu permintaan yang harus dituruti oleh Lucas hingga membuat pria itu berdecih kesal.
"Aku tidak akan menuruti keinginanmu!" Kalimat penolakan itu terdengar cukup lantang karena salah satu syarat yang dikatakan oleh Zoya adalah keinginannya untuk bebas dan tak ingin dikurung dalam villa itu.
__ADS_1
"Kalau tidak bisa menuruti permintaan pertamaku, maka kamu akan tau sendiri apa akibatnya!" Ancaman Zoya terdengar bukan main-main. Saat ini, ia masih menggenggam pisau di sebelah tangannya dan bisa kapan saja menusukkan pisau itu pada perutnya.
"Baiklah! Tapi aku harus tau ke mana kamu pergi dan kamu juga harus izin lebih dulu padaku! Apa kamu mengerti?" Lucas mengucapkan setiap kata demi kata dengan penuh penekanan. Ia sebenarnya tidak ingin mengabulkan permintaan konyol itu, tapi sekali lagi, ia terpaksa menurutinya demi kelangsungan hidup anak dalam kandungan Zoya.
"Itu tidak masalah asalkan kamu tidak mengurungku di Villa ini, bahkan jika kamu ingin menyadap ponselku juga tidak apa-apa. Jadi bagaimana? Apa kita sepakat?" Tanpa ada rasa takut, Zoya mulai berjalan dengan perlahan menghampiri Lucas.
"Terima kasih, Bu Ayu. Semua ini berkat saran darimu. Aku benar-benar tidak menyangka jika ternyata pria ini mau mengabulkan permintaanku. Sekarang aku hanya tinggal memikirkan rencana selanjutnya," batin Zoya sambil mengingat perkataan yang diucapkan oleh Bu Ayu sebelum kedatangan Lucas.
__ADS_1
Berbeda dengan Zoya yang merasa tenang karena rencananya berhasil, Lucas saat ini tampak sangat geram karena ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolak kesepakatan dengan Zoya. Ini bukan hanya menyangkut soal dirinya, tapi juga masa depan keluarga Dekawistara dan juga ibunya yang begitu tertekan saat mengetahui kondisi kemandulannya.
"Seandainya aku tidak mandul, pasti ini semua tidak akan terjadi. Sekarang aku akan diam dan mengikuti setiap permainanmu, tapi nanti aku pasti akan membuatmu menangis begitu pedih karena telah berani menantangku." Lucas yang sudah melepaskan jabatan tangannya tampak berjalan keluar kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun hingga saat melewati pintu pria itu kembali menghentikan langkah kakinya, lalu memutar tubuhnya dan melihat Zoya dengan begitu tajam. "Kenapa masih berdiri di sana? Ayo pergi! Malam ini aku akan membawamu ke salah satu apartemen milikku di Jakarta yang dekat dengan tempat tinggalku. Jadi itu bisa memudahkanku saat kamu memintaku untuk datang," ucap Lucas tanpa ekspresi, lalu kembali melangkah keluar dari kamar tanpa menunggu Zoya. Ya, salah satu dari persyaratan Zoya lainnya adalah Lucas harus bersedia datang jika sewaktu-waktu ia ingin ditemani oleh pria itu. Zoya menjadikan alasan ngidam sebagai senjata agar Lucas mau menuruti keinginannya.
Zoya yang hanya diam mematung pun akhirnya mulai melangkahkan kakinya, mengikuti Lucas yang sudah tak lagi terlihat oleh pandangan matanya. "Semoga saja dia juga mengabulkan permintaan ketigaku. Sebenarnya aku tidak yakin bisa membuatnya jatuh cinta padaku, tapi benar kata Bu Ayu, kalau aku tidak ingin berpisah dengan anak yang aku kandung ini, aku harus membuat pria itu jatuh cinta padaku sampai aku menemukan cara untuk pergi darinya."
Tak ada pilihan lain, satu-satunya yang bisa membantunya saat ini adalah seorang wanita bernama Ayu. Salah satu dari dua orang pelayan di villa itu. Wanita paruh baya yang akan dibawa Zoya untuk menemaninya di apartemen sebagai syarat ketiga yang telah disepakati Lucas.
__ADS_1
Bersambung ✍️