
Selamat membaca!
Setelah kepergian Lucas, Zoya kini sudah berada di dalam mobil bersama seorang pria yang baru dilihatnya saat ini. Pria asing yang telah menyelamatkannya dari Lucas. Walaupun ada rasa takut dalam diri Zoya ketika harus pergi bersama pria itu, tetapi setidaknya ia bisa lolos dari Lucas. Pria yang hanya bisa menyiksanya, bahkan sampai menyebabkan Zoya kehilangan ibunya. Ya, hingga detik ini kecurigaan itu masih ada dan tak pernah hilang, walau logikanya sulit menemukan bukti bahwa Lucas memang pelakunya, tetapi Zoya masih yakin jika kematian ibunya pasti ada hubungannya dengan apa yang dilakukan oleh Lucas terhadapnya.
"Kenapa pria itu bisa bersikap kasar padamu?" Setelah memberi waktu pada Zoya untuk bisa lebih tenang, akhirnya pria itu mulai bertanya membuka percakapan.
Zoya yang sejak tadi hanya termangu sambil menatap ke luar jendela mobil pun kembali melihat pria itu. "Dia adalah pria yang telah menghamiliku."
"Lantas kenapa dia bisa bersikap begitu kasar padamu?" tanya pria itu masih penasaran atas apa yang sebenarnya terjadi pada Zoya.
"Karena aku tidak ingin ikut kembali ke rumahnya." Zoya menjawab dengan singkat. Lalu, kembali membuang pandangannya, melihat ke luar jendela dan diam tanpa suara.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang katakan! Ke mana aku harus mengantarmu pulang?"
"Nanti turunkan aku saja setelah agak jauh dari tempat tadi. Soalnya aku tidak mau jika pria tadi kembali menemukanku," jawab Zoya tanpa melihat pria itu.
"Apa kamu tidak punya tempat tinggal? Terus ke mana kamu akan pergi?" tanya pria itu merasa simpati pada Zoya. Dengan kondisinya yang hamil dan wajahnya yang sendu, tentu saja tak ada satu manusia pun yang tidak menaruh rasa iba jika melihat kondisi Zoya saat ini.
"Bukan urusanmu! Lagi pula aku merasa tidak perlu menjawab pertanyaanmu. Ya, walau kamu telah menolongku, tetapi aku tidak tahu apa niatmu yang sebenarnya."
Mendengar jawaban Zoya yang ketus, pria bernama Adrian itu pun terkekeh karena ia merasa lucu akan perkataan Zoya yang seakan menuduhnya tanpa ada bukti.
Zoya pun mulai berpikir. Logikanya seketika membenarkan perkataan Adrian bahwa apa yang dikatakannya memang benar adanya. Sampai akhirnya, Zoya merasa sangat bersalah karena telah menuduh pria yang sebenarnya sudah mau berbaik hati menolongnya. "Maafkan aku ya. Aku hanya sulit mempercayai orang lain saat ini. Terlalu banyak orang jahat yang ternyata pura-pura baik di depanku."
__ADS_1
"Tidak masalah, aku bisa mengerti. Sepertinya kamu memang baru saja mengalami hal yang sangat berat. Sekarang bagaimana jika kamu tinggal di apartemenku saja?"
"Tidak, aku tidak mau. Sekarang hentikan mobilnya di depan sana."
"Maaf, Nona. Anda jangan salah paham dulu! Maksud saya itu baik, kamu bisa tinggal di apartemen saya yang tidak terpakai dan kebetulan tidak jauh dari sini. Ya, itu pun kalau kamu mau." Adrian coba hati-hati menawarkan Zoya karena sebenarnya ia tidak tega jika sampai membiarkan wanita hamil itu hidup di tengah kota tanpa memiliki tempat tinggal. Terlebih lagi kondisi Zoya yang berbadan dua dan sepertinya tidak memiliki cukup banyak uang untuk bertahan hidup.
Mendengar tawaran dari Adrian, Zoya pun mulai memikirkannya matang-matang. Tentu saja ia merasa bodoh kalau sampai menolaknya, sementara uang yang ia miliki saat ini bahkan tidak akan cukup untuk menyewa sebuah kontrakan sekalipun itu hanya berukuran sepetak di tengah kota Jakarta ini.
"Baiklah aku akan tinggal sementara waktu di apartemenmu sampai aku mendapatkan pekerjaan." Zoya pun memutuskan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan keras.
"Ya, kamu tenang saja! Pokoknya kamu bisa tinggal selama apa pun di sana. Setidaknya sampai kamu berhasil mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk kamu dan calon anak kamu tempati."
__ADS_1
Zoya tersenyum. Ia merasa terharu saat mendengar jawaban dari pria itu. Pria yang ternyata baik dan Zoya merasa bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukan Adrian padanya. "Aku pasti bisa bertahan hidup sampai melahirkan anak ini, lalu membesarkannya sendiri," batin Zoya penuh tekad. Ia tidak ingin hidup dalam kemewahan yang sebenarnya hanya menjadi belenggu yang menyiksa dirinya.
Bersambung ✍️