
Selamat membaca!
Keesokan harinya, Zoya sudah terbangun dari tidurnya. Ya, walau tidak terlalu lelap karena cemas memikirkan sang ibu, tapi setidaknya ia masih bisa terpejam setelah bergelut dengan kesedihan yang masih merantai hatinya. Namun, ia tak melihat sosok wanita paruh baya yang semalam ikut datang bersamanya.
"Ke mana Bu Ayu ya? Kenapa dia tidak ada?" Zoya benar-benar merasa bingung. Sekalipun ia sudah mencari ke setiap ruangan, tetap saja sosok wanita paruh baya itu tak berhasil ditemukannya.
Saat itu, waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Waktu yang masih terlalu pagi untuk ke rumah sakit karena biasanya pasien baru bisa dibesuk sekitar pukul 9 pagi. Zoya pun mulai bergerak kembali ke kamar setelah ia menyerah mencari keberadaan Bu Ayu di lantai bawah.
"Apa jangan-jangan Bu Ayu sedang pergi ke pasar ya?" tanyanya masih merasa heran. Padahal semalam itu sebelum ia tertidur, Bu Ayu masih sempat datang ke kamarnya menanyakan apa kondisinya baik-baik saja atau tidak.
Setelah langkahnya baru saja menaiki anak tangga, tiba-tiba suara pintu terbuka. Zoya pun terkejut karena seseorang ingin masuk tanpa izin padanya yang merupakan penghuni apartemen itu. "Siapa kira-kira yang datang?" Zoya memutar tubuhnya. Melangkah dengan perlahan menuju ke arah pintu depan.
Sampai akhirnya, ia melihat sosok Lucas muncul dan langsung mengejutkannya.
"Tuan, kenapa kamu tidak menekan bel dulu agar aku bisa membukakan pintu untukmu?"
Lucas hanya menatap Zoya dengan sorot matanya yang tajam. Membuat wanita itu langsung tak peduli atas jawaban yang sebenarnya masih sangat ingin didengarnya.
"Ya, bodohnya aku. Lagi pula ini adalah apartemenmu. Jadi aku tidak punya hak untuk mengaturmu. Sekarang terserah apa yang ingin kamu lakukan di sini, tapi yang jelas, tolong jangan pernah berpikir untuk masuk ke dalam kamarku!" Zoya pun mengalihkan pandangan matanya, lalu berbalik seolah bersikap acuh pada pria yang saat ini masih diam melihatnya.
__ADS_1
"Jangan pergi!" Tangan Lucas menahan lengan Zoya. Membuat langkah kaki wanita itu terhenti seketika. Zoya hanya bergeming. Kembali menatap Lucas dengan menampilkan raut wajah yang kesal.
"Lepaskan aku!" pinta Zoya. Membuat Lucas terkekeh dengan seringai tipis dari sebelah sudut bibirnya.
Melihat ekspresi licik itu Zoya pun bergedik ngeri. Ia khawatir bila Lucas memiliki rencana yang tak bisa dilawannya. Rencana yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Sebuah rencana yang terbukti bisa membuat jantung Zoya seakan melompat dari tempatnya semula saat pria itu mengatakannya.
"Apa? Menikah?" Kedua mata Zoya tiba-tiba membeliak dengan wajah yang penuh keterkejutan. Tentu saja ia sangat terkejut karena sejak pertama kali mereka bertemu, Lucas sama sekali tidak pernah membahas pernikahan dengannya.
"Ya, kamu harus menikah denganku."
"Bagaimana kalau aku menolaknya?" tanya Zoya bersikeras menolaknya.
"Tadinya rencana ini tidak ada dalam pikiranku. Aku hanya ingin membuatnya jatuh cinta padaku, tapi bukan berarti aku harus menikah dengannya," batin Zoya benar-benar terdesak dengan tawaran Lucas yang membuatnya mau tak mau harus menerimanya.
"Kamu tenang saja, aku sudah mengatur kontrak pernikahan untuk kita. Setidaknya kamu hanya akan menjadi istriku sampai anakku lahir dan setelah itu kita akan hidup masing-masing."
"Terus apa keuntungan yang bisa aku dapatkan?" tanya Zoya penasaran tentang kontrak yang baru saja dikatakan oleh Lucas.
"Semuanya sudah tertulis di kontrak itu. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Kamu bisa mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari apa yang pernah kamu miliki."
__ADS_1
Zoya mulai berpikir. Jemarinya tampak mengusap dagu runcingnya yang menandakan bahwa tidak mudah untuk memutuskan sekalipun pernikahan itu hanyalah sebuah pernikahan kontrak. Cukup menyedihkan saat Zoya kembali mengingat impiannya untuk menikah sebelum semua kejadian ini. Impian di mana ia ingin pernikahannya hanya terjadi satu kali seumur hidup, tentu saja dengan pria yang dicintainya.
"Aku tidak punya waktu untuk menunggumu berpikir, nanti siang kamu harus ikut denganku. Aku akan mempertemukanmu dengan kedua orang tuaku."
Zoya sejenak melupakan jawaban apa yang akan diambilnya, baginya ada hal yang lebih penting dari pertemuan itu, yaitu melihat dan menemani ibunya di rumah sakit. "Maaf aku tidak bisa. Apa kamu lupa jika hari ini aku akan pergi ke rumah sakit?" Zoya menolak yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan untuk mengingatkan pria itu tentang rencana yang telah disepakatinya semalam.
"Tunda saja dulu. Kamu bisa pergi ke rumah sakit setelah pertemuan itu. Lagi pula ini jauh lebih penting karena aku ingin segera membatalkan pernikahanku dengan Flora."
"Flora? Apa dia semacam tanaman dalam kata bahasa Inggris?" tanya Zoya dengan begitu polosnya.
"Pertanyaan itu tidak penting untuk aku jawab. Sekarang cepat kembali ke kamar dan bersiaplah! Kamu harus tampil cantik karena aku tidak ingin kamu sampai membuatku malu di depan orang tuaku."
"Siap-siap bagaimana, Tuan?" Apa kamu lupa semua pakaianku sudah terbakar habis bersama rumahku? Jadi hanya pakaian ini yang sejak kemarin aku kenakan."
Lucas baru sadar dengan semua itu. Ia pun merasa sedikit kesal akan situasi ini, tapi dia sadar, hanya Zoya satu-satunya yang bisa membuatnya terbebas dari perjodohan menyebalkan dengan Flora.
"Baiklah, pergilah mandi! Setelah itu kita akan ke mal yang ada di dekat sini untuk membeli pakaian untukmu."
Zoya pun hanya mengangguk patuh sambil memutar otaknya dengan keras. Mungkin ini adalah cara dari Tuhan agar rencana untuk membuat Lucas jatuh cinta dengannya jadi berhasil.
__ADS_1
"Aku akan mengikuti semua permainannya dulu sampai aku mendapatkan celah untuk pergi jauh dari hidupnya," batin Zoya sambil melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.