
Selamat membaca!
Hingga sore hari, tangisan Zoya masih terdengar dari dalam kamar. Tangisannya begitu lirih dan penuh luka. Lucas tidak hanya menampar wajahnya, tapi dia juga sampai membanting tubuh wanita hamil yang ringkih itu dan yang lebih parahnya lagi Lucas juga menikmati tubuh Zoya yang tak berdaya dengan paksa.
Perasaan Zoya kini semakin hancur. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa karena ada nyawa ibunya yang harus ia jaga. Wanita itu pun masih terlihat syok dengan apa yang terjadi satu jam lalu, di mana Lucas memaksanya agar bersedia melayaninya. Sebenarnya Zoya sudah coba berontak dengan sekuat tenaga, tapi ia gagal. Semua yang dilakukannya berakhir sia-sia karena Lucas menggunakan keselamatan ibunya sebagai senjata untuk melemahkannya. Membuat Zoya tidak berdaya dan harus pasrah membiarkan Lucas menikmati tubuh indahnya.
"Mah …." Beberapa kali suara serak Zoya memanggil sang ibu di tengah-tengah tangisannya. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir membasahi wajahnya yang terdapat beberapa luka lebam karena Lucas tidak hanya sekali menamparnya. Bahkan saat berhubungan pria itu mendaratkan beberapa tamparan ketika Zoya masih berusaha melakukan perlawanan.
"Mah, aku butuh Mama. Aku ingin memeluk Mama. Kapan ya, Mah, kita bertemu? Padahal seharusnya sore ini aku pergi untuk jenguk Mama di rumah sakit, tapi gara-gara kesalahanku Mama jadi dipindahkan ke rumah sakit lain dan kita jadi semakin jauh. Andai aku tau Mama ada di mana, aku pasti akan pergi menemuimu tanpa bertanya pada Lucas yang kejam itu dan aku akan membawa Mama pergi sejauh-jauhnya dari kota ini agar kita bisa terbebas dari Lucas. Tapi, aku enggak tau Mama sekarang ada di rumah sakit mana?" Di saat lidahnya terasa kelu, Zoya hanya bisa mengatakan semua itu di dalam hati sambil menatap langit-langit kamar yang tampak berbayang karena bulir-bulir bening yang menggenang di pelupuk matanya.
Di saat Zoya semakin tenggelam dalam kesedihan dan hampir putus asa, Lucas yang sudah melampiaskan amarah dan melepaskan hasratnya kini baru saja pergi meninggalkan apartemen. Pria itu tampak melangkah pergi dengan tergesa-gesa, ia langsung menuju lobi dan masuk ke mobil yang telah menunggunya di sana.
__ADS_1
"Akhirnya aku punya kesempatan juga untuk datang menemui wanita murahan itu!" ucap seseorang yang kini tampak menyeringai tipis. Lalu, ia pun segera keluar dari mobil yang sudah berjam-jam terparkir di seberang lobi apartemen. Bertahan untuk mencari waktu yang pas sampai Lucas pergi agar ia dapat berbicara empat mata dengan Zoya.
***
Tiba-tiba suara pintu diketuk oleh seseorang dari depan. Membuat Riana merasa heran karena seharusnya jika itu adalah Tuan Lucas atau Alden, mereka pasti langsung masuk tanpa menunggunya membukakan pintu karena keduanya memang memiliki akses card unit apartemen itu.
Kedua mata Riana seketika membulat sempurna. Baginya kedatangan wanita dengan wajah yang sudah dipenuhi amarah itu benar-benar di luar dugaannya.
Flora tersenyum tipisnya. Menatap Riana dengan sorot mata yang tajam. "Aku ingin bertemu dengan wanita itu. Di mana dia sekarang?"
"Maaf, Nona, tapi sebaiknya Anda pulang saja dan kembali besok di saat Tuan Lucas ada di sini." Di saat Riana hendak menutup pintu itu secara tiba-tiba, Flora dengan cepat mendorong pintu tersebut hingga Riana terjatuh.
__ADS_1
"Nona, tunggu!" Riana masih coba bangkit dari posisi jatuhnya di lantai. Benturan keras pada bagian bokongnya benar-benar membuat pandangannya jadi kabur saat menatap kepergian Flora yang semakin merangsek masuk ke dalam apartemen.
"Wanita murahan, di mana kamu? Cepat keluar, aku mau bicara sama kamu!" teriak Flora begitu keras dengan penuh amarah.
Zoya yang masih berada di dalam kamar segera bangkit dari atas ranjang saat mendengar suara dari wanita yang berteriak memanggilnya.
"Siapa yang datang itu? Dari suaranya, sepertinya dia sedang marah?" Zoya pun sibuk mengusap air mata di kedua pipinya. Lalu, ia mulai memunguti seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai dan buru-buru mengenakannya kembali.
Sambil melangkah menuju pintu kamar, ia pun coba mengenali suara yang terdengar semakin keras di telinganya hingga ia dapat memastikan jika yang datang ke rumahnya adalah Flora. Wanita yang ditemuinya di rumah orang tua Lucas.
"Untuk apa wanita tumbuhan itu datang? Kenapa juga dia bisa tau jika aku ada di sini? Sekarang bagaimana ini? Aku harus jawab apa kalau dia sampai bertanya kenapa wajahku bisa lebam-lebam seperti ini? Kalau sampai dia tau ini perbuatan Lucas, nanti dia pasti akan mengatakan ini pada Tante Belinda dan Lucas pasti akan marah lagi padaku," batin Zoya merasa bingung memutuskan, apa harus keluar menemuinya atau tetap di dalam kamar dan membiarkan Flora berteriak sesuka hatinya.
__ADS_1
Bersambung✍️