One Night Destiny

One Night Destiny
Harapan Tak Nyata


__ADS_3

Selamat membaca!


Sinar matahari kini mulai menelusup masuk lewat jendela yang tirainya sengaja dibuka oleh Lucas sebelum meninggalkan kamar. Kebetulan jendela itu memang mengarah langsung pada ranjang tidur di mana Zoya saat ini mulai terjaga setelah wajahnya diterpa oleh sinar matahari.


"Siapa sih yang sudah membuka jendela pagi-pagi begini? Apa Lucas yang sengaja melakukannya agar aku bangun?" Walau masih sangat mengantuk, Zoya pun akhirnya membuka matanya.


"Jam 10." Setelah melihat waktu pada jam dinding, Zoya pun mulai mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling di mana ia sudah tak lagi menemukan keberadaan Lucas di kamarnya. Seketika ia langsung teringat dengan apa yang dikatakan oleh pria itu semalam jika Lucas memang ada jadwal meeting pagi ini.


"Ternyata aku bangun siang banget. Ini semua gara-gara Lucas. Kenapa dia tidur sampai memelukku dengan begitu kuat? Apa dia menganggap aku adalah guling?" Zoya terdengar menggerutu karena merasa kesal saat ingatannya semalam kembali bertahta dalam pikirannya. Bagaimana tidak, butuh waktu hampir satu jam lamanya wanita itu melepaskan diri dari dekapan Lucas. Bahkan Zoya sempat merasa curiga bahwa sebenarnya Lucas hanya berpura-pura tidur untuk mengerjainya dengan memeluk tubuhnya hingga sulit bernapas.

__ADS_1


Di saat ia masih merentangkan kedua tangannya dan hendak bangun, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari depan kamar.


"Selamat pagi, Nona. Apa Anda sudah bangun? Anda sudah ditunggu Nyonya Belinda di ruang makan." Jenny terdengar bertanya. Ia tak berani masuk sebelum mendapatkan izin dari Zoya yang masih belum menjawabnya.


"Iya saya sudah bangun. Sebentar lagi saya akan ke sana."


"Baiklah, Nona. Saya akan menunggu Anda di sini."


"Walau awalnya aku ragu, tapi semalam aku berhasil membantu Adrian untuk menyadap ponsel Lucas. Dengan begini, hanya tinggal menunggu waktu Lucas pasti akan segera ditangkap atas semua kejahatan yang telah dilakukannya," batin Zoya, baru saja masuk kamar mandi setelah membuka seluruh pakaiannya.

__ADS_1


***


Sebelum pergi ke ruang makan, Zoya menerima sambungan telepon dari Adrian terlebih dulu. Pria itu mengatakan pada Zoya untuk bertahan tinggal di rumah Dekawistara paling tidak dua Minggu lagi sampai dirinya berhasil mengumpulkan bukti-bukti yang cukup agar dapat menjerat Lucas hingga tak bisa berkelit dari hukuman. Ya, Adrian menawarkan sejumlah uang dan sebuah rumah pada Zoya sebagai imbalan atas bantuan yang dilakukannya. Tentu saja saat itu Zoya merasa sangat terkejut karena Adrian tiba-tiba saja mengatakan hal demikian selang dua hari ia tinggal di apartemen milik pria itu.


"Dua Minggu ... setidaknya bukan selamanya aku tinggal bersama Lucas. Selama dua Minggu itu, aku masih punya waktu untuk membalas apa yang pernah dia lakukan padaku. Ini bukan hanya untukku, tapi juga untuk mama," batin Zoya menatap cermin yang ada di meja rias sambil menyisir rambutnya dengan perlahan.


Setelah selesai merias diri seperlunya, Zoya pun melangkah keluar dan Jenny masih menunggunya di depan kamar.


"Silakan, Nona!" Dengan ramah, Jenny mempersilakan Zoya untuk berjalan lebih dulu di depannya agar ia bisa mengikuti tepat di belakangnya. Hal yang hanya di rumah ini saja, Zoya bisa selalu diperlakukan layaknya seorang ratu.

__ADS_1


"Sayangnya semua ini bukanlah milikku. Kebahagiaan, perlakuan istimewa, maupun kasih sayang dari Tante Belinda bukan tertuju padaku, tapi mereka hanya menginginkan anak yang ada dalam kandunganku ini." Zoya terus melangkah sambil memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya. Seandainya Lucas mencintainya dengan tulus dan tidak menjadi penyebab meninggalnya sang ibu, mungkin ia akan merasa sangat bahagia karena mendapatkan pria yang bukan hanya tampan dan kaya seperti Lucas, tetapi ia juga ayah dari anak dalam kandungannya.


Bersambung ✍️


__ADS_2