
Selamat membaca!
Sepanjang perjalanan Lucas hanya diam. Ia lebih memilih fokus dengan kemudinya. Mengabaikan Zoya yang sejak tadi duduk di samping kursi kemudi, walau sebenarnya beberapa kali pria itu sempat melirik untuk mencuri pandang melihat wanita yang duduk di sebelahnya. Tentu saja, Lucas masih tidak menyangka jika wanita yang dianggapnya kampungan bisa berubah cantik hingga membuat seorang Lucas merasa kagum.
"Kenapa kamu mengiyakan tawaran Mommy untuk dinner malam ini?" Setelah sekian lama diam, akhirnya Lucas mulai bersuara. Sejujurnya ia masih tak habis pikir, kenapa Zoya menyetujui rencana ibunya untuk dinner.
"Apa aku punya kuasa untuk menolaknya, Lucas? Kalau ada, aku pasti sudah menolaknya." Perkataan itu terdengar berani. Zoya mengatakan tanpa ada keraguan. Ya, begitulah Zoya. Sejak kepulangannya, wanita itu memang sama sekali tidak merasa takut pada Lucas. Bahkan sekarang ini, Zoya berani memanggil Lucas hanya dengan nama saja tak seperti biasanya.
"Entah apa yang membuatmu semakin berani padaku. Apa karena anak yang ada dalam kandunganmu itu? Makanya, kamu berani padaku."
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak perlu menjawab karena kamu sudah tahu apa alasannya. Sekarang, sebaiknya kita lakukan dinner ini seperti biasa saja." Suara Zoya terdengar ketus. Entah kenapa saat bersama Lucas yang ada dalam hatinya hanyalah kebencian. Bagaimana tidak, ia tidak akan pernah lupa tentang kebakaran yang membuatnya sampai kehilangan rumah dan toko bunga. Bahkan tak hanya itu, lewat Adrian, Zoya jadi tahu bahwa ibunya ternyata menjadi korban kebakaran yang direncanakan oleh Lucas.
"Kamu tidak perlu mengajariku!" Lucas membuang pandangannya. Ia merasa enggan melihat Zoya, terlebih karena sikap wanita itu begitu angkuh padanya.
"Entah kenapa kalau dia seperti ini aku jadi teringat dengan diriku sendiri. Kenapa sekembalinya ke rumah, dia jadi seberani ini padaku? Sebenarnya apa yang membuatnya bisa seperti ini?" batin Lucas mulai curiga dengan perubahan sikap Zoya yang menurutnya sangat berbeda dari sebelum ia pergi dari rumah.
"Selamat datang, Nona Zoya. Selamat datang, Tuan Lucas."
Sambutan itu terdengar ramah di telinga Zoya yang masih kesulitan melangkah dengan higheels 7 centi yang baru pertama kali ini ia kenakan. Namun, bukannya menuntun Zoya, Lucas malah mengabaikannya dengan berjalan lebih dulu memasuki lobi.
__ADS_1
"Walau dia berubah cantik, tetap saja, cara berjalannya terlihat kampungan. Kalau dia tidak terbiasa mengenakan higheels mewah itu, seharusnya dia pakai sandal jepit saja." Lucas meledek dalam hatinya sambil tersenyum sinis saat melihat Zoya masih berjalan dengan tertatih melewati kedua pelayan restoran yang tadi menyambut kedatangan mereka di ambang pintu.
Setelah berada di dalam, tiba-tiba Zoya seperti hilang keseimbangan. Namun, beberapa saat sebelum wanita itu terjatuh, sepasang tangan kekar melingkar pada tubuh Zoya. Ya, seorang pria dengan tuxedo putih berhasil menyelamatkan Zoya yang hampir saja terjatuh. Kejadian itu tak luput dari pandangan Lucas yang langsung menatap sinis pada pria itu. Pria yang seketika mengingatnya saat Zoya pergi dari rumahnya.
"Pria itu lagi. Kenapa kebetulan sekali dia ada di sini?" batin Lucas yang entah kenapa merasa tidak suka saat melihat Adrian menyentuh tubuh Zoya dengan begitu erat hingga membuat wajah keduanya menjadi sangat dekat. Bahkan mereka sempat terdiam dan hanya saling menatap satu sama lain. Sebelum akhirnya, Zoya terdengar mengucapkan terima kasih dan keduanya kini saling menegur sapa.
"Kenapa aku marah melihat pria itu menyentuh Zoya? Tidak, tidak, aku tidak mungkin cemburu." Lucas coba menampik pemikirannya karena merasa semua itu adalah sesuatu yang salah menurutnya.
Bersambung ✍️
__ADS_1