One Night Destiny

One Night Destiny
Siapa Kalian?


__ADS_3

Selamat membaca!


Kembali ke hari di mana Lucas ditangkap, kini pria itu sudah berada di kantor polisi dan tengah menjawab beberapa pertanyaan dari bagian penyidik yang menangani kasusnya.


Pertanyaan demi pertanyaan yang selalu dijawab dengan bantahan oleh Lucas.


"Saya benar-benar tidak mengerti dengan tuduhan ini. Kalian menangkap saya tanpa ada bukti apa pun. Jangan sampai saya menuntut balik kalian semua karena sudah menangkap saya!" protes Lucas dengan suara yang terdengar lantang.


"Anda harus bersikap sopan di kantor polisi! Sebaiknya Anda tidak perlu mengelak lagi karena Anda sendiri yang sudah mengakui semuanya."


"Mengakui? Apa maksudnya?"


"Anda sudah mengakui bahwa Anda-lah orang yang sudah membunuh wanita bernama Flora. Sekarang, silakan Anda lihat sendiri video pengakuan yang Anda buat beberapa hari lalu!" Sambil menghadapkan layar laptop yang ada di atas meja agar dapat dilihat Lucas, penyidik polisi itu mulai memutar video di mana Lucas tampak bicara di depan sebuah kamera.

__ADS_1


"Video ini ... bukannya saat itu aku sedang berada di hotel karena Zoya memintaku menemaninya menginap di sana selama satu malam karena dia ngidam." Lucas sejenak berpikir. Mengingat apa yang terjadi saat itu. "Kurang ajar! Ternyata dia sudah berani menjebakku, berarti red wine yang aku minum saat di sana sudah dicampur sesuatu hingga membuatku mengatakan semuanya," batin Lucas terus melihat layar pada laptop yang menampilkan dirinya terlihat menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan oleh seorang wanita yang tidak lain adalah Zoya.


"Sebaiknya Anda mengakui semuanya agar Anda bisa mendapatkan pengurangan masa tahanan."


Di saat Lucas semakin terdesak, suara Alden terdengar dari belakang tubuh pria itu. Ya, sang asisten datang bersama seorang wanita dan itu membuat kedua mata Lucas membeliak saat melihatnya.


"Bagaimana mungkin ...?" Lucas hanya menatap tanpa bergeming sedikit pun. Tentu saja ia tidak percaya atas apa yang dilihatnya hingga membuat bola matanya membulat sempurna.


***


Di saat ia baru saja beranjak dari posisi duduknya untuk keluar kamar, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan terdengar. Zoya pun mulai mengambil benda pipih itu dari tas kecil yang sudah melingkar pada pundaknya.


"Adrian." Dilihatnya nama itu tertera sebagai pengirim pesan yang baru saja akan dibacanya.

__ADS_1


Adrian: Aku sudah transfer uang yang aku janjikan. Terima kasih atas bantuanmu. Apa kamu benar-benar yakin untuk menolak tawaranku?


Zoya sejenak diam. Pikirannya langsung tertuju akan perkataan yang beberapa hari lalu sempat dikatakan oleh Adrian. Perkataan di mana pria itu siap menjadi ayah dari calon bayi yang kini sedang dikandungnya. Namun, saat itu Zoya langsung menolak tanpa mengatakan apa alasannya. Ya, setidaknya ia merasa keputusan itu sudah benar untuk diambilnya. Terlebih Zoya belum terlalu lama mengenal Adrian dan bukan tidak mungkin, pria dengan harta melimpah sepertinya bisa bersikap sama seperti Lucas, walau ia sendiri tidak terlalu yakin dengan pemikirannya.


"Aku harus cepat pergi sebelum Tante Belinda pulang ke rumah." Tak ingin membuang waktu, Zoya pun menepikan segala ingatan yang sempat muncul dalam pikirannya. Tentu saja ia tidak ingin membuang kesempatan untuk bisa pergi dari rumah yang seakan memenjarakannya seperti dalam sangkar emas. Ya, walau hidup dengan bergelimangan harta di rumah Dekawistara, tetapi Zoya merasa tidak bahagia karena terus dihantui rasa bersalah pada sang ibu. Bagaimana mungkin, ia bisa hidup bahagia bersama seorang pria yang sudah membuat ibunya meninggal.


***


Sudah satu jam lamanya Zoya berada di dalam taksi. Selama di dalam perjalanan entah kenapa ia jadi teringat dengan perkataan Lucas saat berada dalam pengaruh obat yang diberikan oleh Adrian. Saat itu, Lucas mengatakan bahwa ia sama sekali tidak pernah memerintahkan anak buahnya untuk membunuh ibunya. Lucas hanya berencana membakar toko bunga dan rumah milik Zoya agar ia tak lagi memiliki tempat tinggal dan bisa bergantung hidup dengan pria itu. Namun, walau begitu, tetap saja Zoya merasa seharusnya sang ibu tidak akan mati seandainya Lucas tidak memiliki rencana jahat seperti itu.


"Walaupun kamu sudah meminta maaf padaku, tetap saja, rasa benciku tidak akan pernah hilang. Aku tetap menganggapmu sebagai pembunuh ibuku," batin Zoya yang sangat tidak suka saat bayangan Lucas tiba-tiba hadir dalam pikirannya.


"Mbak, kita sudah sampai stasiun." Bersamaan dengan ucapan dari sang pengemudi, laju taksi pun tepat berhenti di area pelataran stasiun Namun, saat Zoya hendak keluar setelah membayar sejumlah tarif perjalanannya, tiba-tiba dua orang pria masuk secara bersamaan ke dalam taksi. Dua orang yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan perawakan wajah yang terlihat tegas dan tubuh yang kekar.

__ADS_1


"Siapa kalian?" Seorang pria berhasil membuat Zoya tak sadarkan diri dalam sekejap dengan menggunakan sapu tangan putih yang sudah dicampur obat bius. Sementara pria lainnya yang duduk di samping kursi kemudi sudah mengarahkan pistol yang ada dalam genggamannya pada sopir taksi agar segera melajukan mobilnya tanpa menimbulkan kecurigaan dari petugas keamanan yang berjaga di pintu keluar stasiun.


Bersambung✍️


__ADS_2