One Night Destiny

One Night Destiny
Perasaan Yang Salah


__ADS_3

Selamat membaca!


Malam semakin larut. Namun, Zoya masih sulit memejamkan mata. Entah apa yang membuatnya sulit sekali tertidur. Ia merasa gelisah sejak memutuskan masuk kamar 4 jam yang lalu.


"Duh, kenapa sih aku ini?" Di tengah kegelisahannya, suara ketukan pintu terdengar dari depan kamar. Zoya pun bangkit dari posisi tidurnya.


"Siapa?" tanya wanita itu setelah duduk di tepi ranjang.


"Nona, ini saya, Lia. Maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat Nona, tapi saya mau ngasih tahu kalau Tuan Lucas sakit, Nona."


"Lucas sakit?"


"Iya, Nona. Tadi Tuan Lucas manggil saya lewat telepon. Kata Tuan, Nona disuruh datang ke kamarnya."

__ADS_1


Zoya tak langsung menjawabnya. Ia sejenak diam. Memikirkan keadaan Lucas dan mulai menyadari kegelisahan yang telah membuatnya sulit memejamkan kedua mata.


"Apa mungkin anak yang ada dalam kandunganku ini bisa merasakannya ya? Makanya, sejak tadi aku jadi sulit sekali tidur," batin Zoya masih memikirkan semua itu.


"Nona, bagaimana? Apa Nona bisa melihat kondisi Tuan Lucas?"


"Iya, sebentar aku keluar." Zoya pun akhirnya beranjak dari posisi duduknya sambil mengusap bagian perutnya yang sudah membesar. "De, ternyata kamu dari tadi itu gelisah karena mikiran ayah kamu yang lagi sakit ya. Pantas saja sejak tadi kamu uring-uringan sampai Mama enggak bisa tidur."


"Ternyata benar dia sakit."


"Non, apa yang bisa saya lakukan? Sepertinya Tuan Lucas sakitnya parah deh, itu wajahnya saja pucat, Non." Lia yang ikut masuk kamar tampak mengkhawatirkan kondisi majikannya karena mau bagaimanapun, Belinda sebelum pulang sempat menitipkan Lucas dan Zoya padanya.


"Sepertinya Lucas harus dikompres karena demamnya tinggi sekali. Tolong ambilkan air hangat ya, Lia!" pinta Zoya setelah menyentuh dahi Lucas begitu duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Baik, Nona. Sebentar saya ambilkan." Lia pun keluar dari kamar dengan terburu-buru untuk menyiapkan apa yang Zoya butuhkan.


"Kenapa kamu bisa sakit seperti ini, Lucas?" Zoya masih melihat wajah pucat pria itu yang terlihat memerah.


"Sebenarnya omeletnya enak." Perkataan itu terdengar samar di telinga Zoya. Bahkan wanita itu sampai mendekatkan telinganya agar suara Lucas bisa terdengar dengan jelas agar ia tahu apa yang dikatakan oleh pria itu. "Tadi dia bilang apa ya? Omelet siapa yang enak? Apa omelet yang tadi aku buat sebenarnya enak?" Zoya terus memperhatikan Lucas. Menatap penuh selidik kedua mata pria itu yang masih terpejam. "Padahal dia tidur, tapi kenapa dia masih bisa bicara? Pasti dia mengigau. Kalau enggak salah, dulu kata Mama, waktu aku demam juga aku pernah mengigau seperti ini."


Seketika ingatan Zoya kembali tertarik ke belakang. Entah kenapa perasaan itu datang lagi, perasaan di mana ia merasa bersalah karena telah menikah dengan pria yang sudah menyebabkan kematian ibunya. "Aku sudah janji sama Mama Belinda kalau aku akan coba memaafkan Lucas. Aku enggak boleh terus mengingat semua itu." Zoya coba menepikan semua pikiran yang mengusiknya. Rasanya sulit sebenarnya. Namun, setidaknya ia harus menepati janji pada Belinda.


Di saat pikirannya masih terusik rasa bersalah yang memang sering datang saat ia teringat ibunya, tiba-tiba lengan kekar Lucas mengalung di tubuhnya dan Zoya pun jatuh ke atas ranjang tepat di sebelah Lucas. "Ih, lepasin." Seketika pandangan mata Zoya melihat begitu dekat wajah tampan Lucas yang masih terpejam. Di saat itulah, ada debaran yang terasa nyata di dadanya. Entah apa itu, tetapi detak jantung Zoya berdegup tak beraturan saat pelukan itu benar-benar erat hingga membuat wajahnya semakin dekat dengan Lucas.


"Tidak, Zoya, jangan bilang kamu jatuh cinta sama pria ini! Harusnya kamu yang buat Lucas jatuh cinta sama kamu, bukan dia yang malah berhasil buat kamu jatuh cinta padanya." Zoya berulang kali menggelengkan kepala. Coba menghilangkan pikiran yang salah menurutnya. Namun, semua terasa begitu sulit. Apakah semua ini juga karena anak yang ada dalam kandungannya? Anak yang mungkin saja di dalam sana ingin melihat kedua orang tuanya bersama saat ia dilahirkan.


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2