One Night Destiny

One Night Destiny
Penyelamat


__ADS_3

Selamat membaca!


Beberapa detik sebelum Zoya nyaris tertabrak, seorang pria menangkap tubuh wanita itu sambil berlari dengan sangat cepat hingga keduanya jatuh membentur kerasnya aspal. Beruntung pria itu menggunakan tubuhnya sebagai alas agar kandungan Zoya terlindungi.


"Ya Tuhan, siapa yang sudah menolongku?" Kedua mata Zoya masih terpejam. Detak jantungnya masih tak berirama karena ia benar-benar merasa takut akan peristiwa yang hampir saja merenggut bukan hanya nyawanya, tetapi juga anak yang dikandungnya.


"Kenapa diam saja? Cepat bangun!" Suara itu terdengar lantang hingga membuat Zoya tahu betul siapa pria yang saat ini masih ada di bawah tubuhnya.


"Lucas." Zoya membuka mata dengan cepat. Menatap pria yang saat ini tengah melihatnya dengan penuh amarah.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Zoya berdiri. Lalu, ia langsung melangkah cepat untuk berlari menjauhi Lucas. "Aku harus cepat kabur. Aku tidak boleh tertangkap lagi." Baru saja Zoya hendak berlari dengan mempercepat langkahnya, cengkraman Lucas menggenggam pergelangan tangannya Zoya dengan sangat erat.


"Jadi, kamu pikir kamu bisa lari dariku! Jangan pernah bermimpi, Zoya! Selama anak itu masih ada di perutmu, kamu harus tetap bersamaku. Aku butuh anak itu sebagai penerus keturunan Dekawistara."


Zoya tak tinggal diam. Ia dengan sekuat tenaga coba melepaskan tangan Lucas. Namun sayangnya, tenaga pria itu jauh lebih kuat darinya. "Lepaskan aku! Aku enggak mau kembali ke rumahmu! Lepaskan aku!" Zoya berteriak. Memohon pada Lucas di pinggir jalan yang saat itu memang tampak sepi dari lalu lalang kendaraan hingga tak ada siapa pun yang bisa menolongnya. Lagi pula tempat kejadian itu masih tidak jauh dari rumah Lucas yang notabene tidak berada di tengah kota. Di daerah sana hanya terdapat beberapa perumahan elite. Namun, rata-rata memiliki luas bangunan yang bisa dibilang sangat luas. Bahkan rumah Lucas saja luasnya seperti lapangan golf karena jarak dari gerbang ke rumah utama cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Biasanya tamu-tamu yang datang tanpa membawa kendaraan akan menaiki buggy car sebagai transportasi hingga bisa tiba di pelataran rumah.


"Jangan pernah bermimpi aku akan melepaskanmu! Sekarang ayo cepat ikut aku kembali pulang!" Lucas pun mulai menarik paksa tubuh Zoya untuk ikut bersamanya. Namun, Zoya terus menahan langkahnya hingga membuat Lucas kesulitan membawa wanita itu masuk ke mobilnya yang tadi sempat ia parkir dengan terburu-buru di seberang jalan guna menyelamatkan Zoya.


"Lepaskan dia!"

__ADS_1


Lucas melihat pria itu. Menatap dengan tajam dan berdiri tepat di depan Zoya yang terlihat begitu ketakutan. Bahkan saat ini wanita itu mulai terdengar menangis dan terus memohon pertolongan dari pria yang memiliki postur tubuh kekar dan terlihat lebih tinggi dari Zoya. "Tolong aku, Tuan!"


"Apa kamu mengenal dia?" Pria itu bertanya pada Zoya yang saat ini tengah berlindung di belakang tubuhnya.


"Jangan ikut campur! Apa kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?" Lucas mengancam. Menunjukkan kekuatannya sebagai penguasa di daerahnya. Namun, entah kenapa pria tampan yang berdiri di depannya itu tidak merasa takut atau gentar mendengar ancaman itu.


"Kita sama-sama manusia. Jadi, aku tidak perlu takut denganmu. Saat ini, aku merasa perlu menyelamatkannya. Jadi, pergilah sebelum aku memanggil polisi karena kamu telah memaksa wanita ini untuk ikut bersamamu." Dengan tegas pria itu mengatakan hal yang seketika membuat Lucas semakin geram. Ancaman itu terdengar bukan main-main dan Lucas merasa seperti pernah bertemu dengan pria itu. Pria yang wajahnya masih familiar dalam ingatannya.


"Sekarang aku ingat, pria ini sempat aku lihat di konferensi internasional lima hari lalu. Jadi, sebaiknya aku melepas Zoya dulu saat ini. Nanti aku akan pikirkan lagi bagaimana caranya agar aku bisa membawa Zoya kembali padaku," batin Lucas yang akhirnya memilih pergi dari hadapan pria itu.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2