One Night Destiny

One Night Destiny
Tidak Boleh Gagal


__ADS_3

Selamat membaca!


Setibanya kembali di apartemen, kehadiran Lucas dan Zoya langsung disambut oleh Alden dan seorang wanita yang memang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat siang, Tuan."


"Apa semua sudah siap Alden?" tanya Lucas pada asistennya itu.


"Sudah, Tuan. Segala sesuatunya sudah saya siapkan. Oh ya, perkenalkan dia adalah Riana. Wanita ini yang akan menjadi asisten Anda, Nona."


"Salam, Nona. Salam, Tuan." Riana tampak membungkuk hormat dengan senyum ramahnya.


Tanpa perlu bertanya apa-apa, Zoya kini sudah mengerti akan apa yang direncanakan oleh Lucas. "Jadi seperti ini rencanamu. Kenapa kamu mesti repot-repot melakukan semua ini hanya karena tidak ingin dijodohkan oleh wanita tumbuhan itu?"


Lucas hanya meliriknya tanpa ekspresi. "Alden tolong jelaskan pada wanita ini! Aku tidak ingin rencana yang sudah aku susun rapi sejak semalam jadi gagal atau sampai dicurigai oleh ayahku. Kamu hanya punya waktu satu jam untuk mempersiapkan semuanya sebelum kita berangkat ke rumah orang tuaku." Lucas pun melangkah pergi. Meninggalkan ketiganya begitu saja dan menyerahkan semua pada Alden untuk mengatur segala sesuatunya.


"Baiklah, Nona. Mari kita bicara di ruang tamu." Alden pun mempersilahkan Zoya untuk melangkah lebih dulu.

__ADS_1


Setelah ketiganya duduk di sofa, Alden mulai mengatakan semua rencana yang memang sudah diatur oleh Lucas. Rencana untuk menggagalkan perjodohannya dengan Flora, wanita yang memang hanya dianggapnya sebatas teman saja.


***


Satu jam kemudian, kini Zoya sudah tampil anggun dan terlihat sangat cantik mengenakan dress maroon seharga 35 juta. Sebuah kalung bermahkotakan berlian pun tersemat di leher jenjangnya. Membuat Zoya tampil begitu elegan. Selain itu, sepasang anting berlian tampak berkilau hingga membuat penampilannya semakin sempurna.


"Nona, Anda benar-benar terlihat sangat cantik," puji Riana yang memang sejak tadi sudah menemani Zoya dalam mempersiapkan penampilannya.


Zoya pun hanya menanggapinya tanpa ekspresi. Sejak tadi, ia tidak bisa tenang karena apa yang dikatakan oleh Alden benar-benar tidak masuk akal untuknya. Ya, Alden mengatakan bahwa jika rencana Lucas sampai gagal, maka Zoya akan kehilangan ibunya yang sampai sekarang masih dalam perawatan di rumah sakit. Hal itulah yang membuat Zoya mengurungkan niatnya untuk menjalankan rencananya. Tadinya, Zoya sempat berpikir bahwa saat bertemu dengan orang tua Lucas, ia bisa menceritakan semua yang terjadi padanya dan juga ibunya. Zoya berharap belas kasihan dari mereka agar Lucas mau membebaskannya. Namun, rencana itu harus pupus. Zoya saat ini hanya bisa pasrah. Mengikuti apa pun keinginan Lucas yang selalu saja bisa menggagalkan setiap rencananya.


Di tengah lamunannya, Riana kembali memanggil namanya. Memecahkan keheningan yang sempat membelenggu Zoya dalam keraguan.


"Nona, apa kamu mendengar apa yang aku katakan?" tanya Riana sambil mengguncangkan sedikit tubuh Zoya yang masih mematung diam di depan cermin.


"I-ya, Riana."


"Anda terlihat sangat cantik, Nona." Riana memujinya kembali dengan senyum yang merekah.

__ADS_1


"Apa menurutmu seperti itu?"


"Benar, Nona. Anda benar-benar cantik. Pasti Tuan Lucas akan semakin jatuh cinta dengan Nona." Salah satu perias yang tidak tau menahu dengan sandiwara yang dilakukannya pun ikut menimpali dengan sebuah pujian.


"Terima kasih ya. Ini berkat kalian." Zoya coba tersenyum, menahan getir di hatinya. Tentu saja aturan yang Alden katakan sudah jelas bahwa tidak boleh ada siapa pun yang tau tentang semua rencana itu termasuk dua perias yang memang Alden datangkan untuk merias Zoya hari ini.


"Sudah tugas kami, Nona. Baiklah kalau begitu kami permisi dulu ya. Semoga hari ini acara Anda berjalan dengan lancar, Nona."


"Iya, silahkan. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Zoya memaksakan senyum terulas dari kedua sudut bibirnya. Melepaskan kepergian dua wanita yang sejak setengah jam lalu sudah membantunya untuk tampil sempurna seperti saat ini.


Kedua perias itu pun pergi. Meninggalkan Zoya yang kembali melihat dirinya pada cermin. Tentu saja ia terkejut dengan penampilannya. Bagaimana tidak, dress dan semua perhiasan yang itu adalah barang mewah yang sama sekali tidak pernah dikenakannya, bahkan untuk membelinya saja Zoya merasa tidak sanggup karena memang harganya yang sangat mahal.


Baru saja dua perias itu pergi, suara ketukan pintu terdengar. "Nona, sudah saatnya kita berangkat. Tuan Lucas sudah menunggu Anda di bawah."


Zoya merasa sangat gugup. Ancaman yang dikatakan oleh Alden membuatnya tidak boleh salah dalam menjalankan sandiwara yang sudah direncanakan oleh Lucas. "Aku harus tunduk dengan semua rencananya atau aku akan kehilangan mama." Zoya menarik napas panjang. Mengembuskan dengan perlahan dan berharap ketenangan bisa ia rasakan saat ini.


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2