One Night Destiny

One Night Destiny
Keputusan Terbaik


__ADS_3

Selamat membaca!


Satu bulan setelah kematian ibunya, Zoya kini sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tadinya ia lebih banyak mengurung diri di kamar. Meratapi penyesalannya karena tidak bisa melihat dan memeluk tubuh ibunya untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan.


Selama berada dalam fase terpuruknya, ada sosok Belinda yang senantiasa menemaninya. Memberikan support yang tiada henti hingga Zoya mulai terbiasa dengan kehadirannya.


Hari ini adalah hari di mana Belinda mengajaknya keluar rumah. Tujuannya adalah mempersiapkan hari pernikahan yang sempat diundur oleh Belinda hingga menunggu suasana hati Zoya membaik.


"Zoya, apa kamu sudah bangun?" Wanita paruh baya itu bertanya sesaat setelah masuk kamar Zoya yang memang tidak pernah terkunci sejak beberapa hari belakangan ini. Namun, Belinda memerintahkan dua orang pelayan untuk berjaga di depan kamar selama 24 jam agar memudahkan Zoya jika kapan saja ia membutuhkan sesuatu.


Pandangan Belinda terus mencari calon menantunya itu yang ternyata sudah tak ada di kamarnya. "Apa dia sedang ada di kamar mandi ya?" Belinda mengarahkan langkah kakinya menuju sisi kiri ranjang di mana letak kamar mandi berada.

__ADS_1


"Zoya, apa kamu sedang mandi?" Belinda kembali bertanya setelah lagi dan lagi calon menantunya itu tak memberi jawaban atas pertanyaannya.


Merasa ada yang aneh, Belinda mempercepat langkah kakinya. Ia pun langsung memanggil Jenny yang tadi ikut bersamanya dan menunggu di depan kamar Zoya. "Jenny!" Sambil berteriak Belinda mengatakannya hingga membuat wanita paruh baya yang baru saja ia panggil dengan cepat masuk kamar dan menghampirinya.


"Jenny, Zoya tidak ada. Coba kamu tanya dua pelayan yang berjaga di depan, apa mereka meninggalkan kamar ini sampai Zoya bisa keluar tanpa mereka tahu?" Belinda mulai merasa khawatir, terlebih saat ia tak menemukan keberadaan Zoya di dalam kamar mandi.


Tak dapat dipungkiri, wajah paniknya terlihat sangat jelas hingga membuat Jenny ikut merasa cemas dan berlari menghampiri dua pelayan di depan kamar.


***


Di luar rumah kediaman Dekawistara, Zoya tampak sedang melangkah dengan terburu-buru keluar dari taman belakang rumah mewah itu. Ya, Zoya memutuskan pergi karena ia merasa aneh atas kematian ibunya yang terkesan seperti sebuah manipulasi dari keluarga Dekawistara. Bahkan Zoya juga menaruh curiga jika Belinda pun ikut ambil bagian dalam rencana yang dijalankan Lucas untuk menipunya. Maka itulah, tanpa pikir panjang Zoya memutuskan pergi dan berharap keputusan ini adalah jalan terbaik yang bisa diambilnya.

__ADS_1


"Tidak percuma aku memperhatikan kebiasaan pelayan-pelayan yang menjaga kamarku." Zoya terus mempercepat langkah kakinya. Tentu saja kesempatan ini sangat langka dan sesuatu yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi lagi. Lolos dari keluarga Dekawistara adalah keinginannya sejak sebulan lalu, terutama saat ia sudah tak lagi memiliki alasan untuk bertahan di rumah mewah itu dan hidup bersama Lucas.


"Aku akan hidup berdua dengan anak ini jauh dari Jakarta. Aku tidak akan membiarkan Lucas sampai mengambil anak ini karena selamanya dia tidak akan pernah bisa menganggapku sebagai istrinya saat kami menikah nanti. Aku tidak sudi menjalani hidup bersama pria jahat yang tak punya hati itu." Zoya sama sekali tidak mengurangi kecepatan larinya hingga tiba di depan gerbang paling akhir yang harus dilewatinya.


"Setelah melewati gerbang itu aku akan bebas untuk selama-lamanya." Sambil memperhatikan situasi sekitarnya, Zoya terus mengendap-ngendap. Untungnya sang penjaga gerbang sedang sibuk memeriksa seorang kurir yang ingin mengirim barang untuk keluarga Dekawistara.


Kesempatan itu pun tak disia-siakan oleh Zoya. Wanita itu berhasil keluar dengan berlindung pada mobil ekspedisi tanpa diketahui sang penjaga yang tidak lama kemudian mendapat perintah dari Belinda untuk lebih memperketat pengawasan di gerbang terakhir.


"Akhirnya aku bisa lolos dari rumah ini. Pokoknya aku akan pergi sejauh-jauhnya dengan membawa anak ini bersamaku. Aku yakin, aku bisa menghidupi anak ini, walau sekarang aku hanya punya sedikit uang," batin Zoya yang mulai menyebrangi jalan begitu keluar dari kediaman Dekawistara yang super mewah dan luas. Namun, karena tidak hati-hati dan beberapa kali menoleh ke belakang, sebuah mobil melaju cepat ke arahnya dan Zoya hanya bisa diam tanpa suara. Detak jantungnya semakin tak beraturan hingga membuat kedua kaki wanita itu seketika menjadi lemah tak berdaya.


"Ya Tuhan, apa mobil itu akan menabrakku?" batin Zoya masih terpaku tak bergerak di tempatnya. Semua kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga Zoya sulit menghindarinya.

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2