
Selamat membaca!
Jawaban dari Lucas seketika membuat dunia Zoya seketika runtuh tepat di atas kepalanya. Rasa sesak mulai menusuk, menghujam jantungnya hingga terasa begitu menyakitkan. Sungguh ini adalah hal yang sama sekali tidak ingin didengarnya. Kehilangan seorang ibu yang sangat dirindukannya sejak kemarin.
"Tidak mungkin, Lucas. Kamu pasti bohong, kan?" Zoya coba menampik kabar dari Lucas. Suaranya terdengar lirih dan begitu lantang karena tercampur rasa sakit juga amarah.
"Saya sama sekali tidak bohong." Jawaban itu terdengar yakin terlontar dari mulut Lucas seolah tanpa perasaan. Lucas bahkan sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Zoya saat mendengar kabar yang disampaikannya. Kabar yang pastinya langsung membuat hati Zoya hancur sehancur-hancurnya.
Tak sanggup menahan diri, Zoya pun menangis terisak. Meluapkan rasa sedih yang seketika membuncah dalam dirinya. Melihat hal itu Belinda dengan cepat bangkit dari posisi duduknya, lalu melangkah mendekati Zoya dan menempatkan dirinya di samping wanita itu yang seketika langsung memeluknya dengan erat.
"Sabar ya, Zoya. Kamu harus kuat! Mommy akan selalu menemani kamu, menjadi pengganti untuk ibu kamu dan selalu menyayangi kamu."
__ADS_1
Walaupun terdengar manis. Namun, kata-kata itu tak mampu membuat tangisannya mereda. Zoya semakin gencar menangis. Tarikan napasnya yang begitu terisak, entah kenapa sampai membuat hati Lucas bergetar sesaat. Bayangan masa lalunya hadir seketika terlintas di pikirannya. Mengambil alih kebencian terhadap Zoya yang dianggapnya seperti seorang musuh.
"Kenapa tiba-tiba jika melihat air matanya, aku jadi teringat wajah Mommy saat menangis dulu?" batin Lucas yang dengan cepat membuang pikiran itu. Pikiran yang ia anggap adalah sebuah kesalahan.
Setelah meluapkan rasa sedihnya dalam pelukan Belinda, Jenny pun mendekat setelah mendapat perintah dari Belinda untuk membawakan Zoya segelas air putih. "Nona, ini minum dulu agar Anda bisa jauh lebih tenang!" Jenny menyodorkan segelas air dari tangannya kepada Zoya sambil melirik Belinda seolah tengah memberi sebuah kode bahwa ia telah melakukan sesuai yang diperintahkan padanya.
"Aku ingin ke rumah sakit. Aku ingin melihat wajah ibuku untuk yang terakhir kalinya." Sambil tersedu-sedu Zoya mengatakan itu setelah selesai meminum segelas air yang Jenny bawakan untuknya.
"Kamu tenang dulu ya! Kita pasti akan ke sana." Belinda coba menenangkan Zoya yang masih sangat terpukul atas kabar kematian ibunya.
"Kamu kenapa, Zoya?" tanya Belinda terdengar begitu cemas.
__ADS_1
"Enggak tahu, Tante." Pandangan Zoya mulai kabur. Kepalanya yang terasa berat semakin membuat kesadaran mulai hilang. "Tante ...." Zoya pun seketika tak sadarkan diri. Namun, sebelum kepala Zoya terbentur kerasnya meja makan, Belinda dengan cepat menangkapnya. Menopang tubuh Zoya ke dalam dekapannya.
"Lucas, kamu bantu Mommy. Tolong pindahkan Zoya ke kamarnya!"
Lucas pun tak bisa membantahnya, terlebih semua pelayan yang ada di ruangan ini adalah wanita dan hanya Lucas yang kuat menggendong tubuh Zoya. "Jadi apa dia tidak akan sadar sampai besok, Mom?"
"Iya, Mommy juga sudah meminta dokter pribadi kita untuk datang agar Zoya diberi infus karena kemungkinan besok dia baru akan sadar."
"Baiklah, aku akan membawanya kamar." Dengan mengerahkan tenaganya Lucas menggendong tubuh Zoya yang tak berdaya, lalu mulai melangkah meninggalkan ruang makan.
Di tengah perjalanan menuju kamar, Lucas terus memperhatikan wajah Zoya dengan seksama. Saat itulah, ada sebuah getaran yang kembali terulang dan itu sama seperti sebelumnya. Getaran aneh yang dengan cepat ia tampik hingga pria itu berdecih kesal.
__ADS_1
"Padahal dia pingsan, tetapi masih saja merepotkanku," gerutu Lucas dengan wajah setengah bete.
Bersambung ✍️