One Night Destiny

One Night Destiny
Penyelamat Datang


__ADS_3

Selamat membaca!


Di dalam kamar yang gelap tak ada suara apa pun terdengar selain tangisan seorang wanita yang begitu piluh. Ya, sejak tadi Zoya hanya menangis. Meratapi hidupnya yang nestapa ditambah rasa sakit atas luka lebam di wajahnya. Entah bagaimana ia harus bertahan dalam kesendirian. Tak ada tempat untuknya mengadu atau sekadar menjadi pelampiasan kesedihannya saat luka kian menusuk hatinya.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar sangat merindukan mama. Bagaimana keadaannya sekarang?" Tangisan Zoya kian pecah saat rasa rindu itu semakin menyiksanya. Sungguh ini pertama kalinya Zoya begitu merindukan sang ibu yang sudah beberapa hari ini tidak dilihatnya.


Merasa begitu kesal karena harus terjebak dalam permainan Lucas, Zoya bahkan sampai berteriak keras meluapkan rasa sesak yang bergemuruh di dadanya. Namun, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar mengejutkannya.


"Apa itu Lucas?" Zoya seketika menahan isak tangisnya, walau masih terdengar tarikan napasnya yang terisak. Tentu saja seseorang itu tidak akan bisa masuk ke dalam kamarnya karena Zoya sengaja mengunci pintu.


Di saat rasa penasarannya masih belum terjawab, suara wanita yang ternyata bukan Riana terdengar memanggilnya.

__ADS_1


"Zoya, bukakan pintunya!" titah seorang wanita yang suaranya masih begitu akrab di telinganya karena memang Zoya baru bertemu dengan wanita itu tadi siang. Ya, wanita paruh baya itu memutuskan untuk langsung datang ke apartemen putranya dan melihat dengan mata kepala sendiri kebenaran apa yang telah disampaikan oleh orang suruhan suaminya.


"Tante Belinda, kenapa dia bisa tau jika aku tinggal di apartemen ini? Sekarang bagaimana, aku tidak bisa menutupi wajahku saat bertemu dengannya? Nanti dia pasti tau luka lebam di wajahku ini," batin Zoya menepikan kesedihannya. Kali ini ada yang lebih penting dari sekadar menangis dan hanya bersedih. Ia harus siap-siap bersandiwara di depan Belinda agar permainan Lucas tak diketahui oleh wanita itu.


Suara Belinda kian terdengar menuntut. Namun, masih begitu sopan karena wanita itu memang tidak ingin menakut-nakutiku Zoya, apalagi sampai berbuat jahat padanya.


"Sayang, ayo bukakan pintunya! Ada yang ingin Tante bicarakan sama kamu."


"Zoya, kamu kenapa?" Pertanyaan itu seketika terucap dari mulut Belinda saat melihat lebam di wajah wanita cantik itu.


"Tante ...." Zoya masih enggan menjawab. Namun, ia tidak mungkin jujur yang nantinya malah akan membuat Lucas marah jika sampai semua sandiwara yang mereka lakukan terbongkar.

__ADS_1


"Sudah kamu enggak usah takut! Sekarang kamu jawab saja pertanyaan Tante dengan jujur. Tante sudah tau semua kok tentang apa yang terjadi sama kamu. Mulai dari rumah dan toko bunga kamu yang terbakar. Sampai akhirnya, kamu dipaksa Lucas untuk berpura-pura menjadi calon istrinya. Benar begitu, kan?"


Zoya tertegun. Ia pun tak berkutik setelah semua dibeberkan oleh Belinda. Tak ada satu pun dari perkataannya yang salah hingga Zoya hanya bisa menatap nanar wanita paruh baya itu.


"Maafkan saya, Tante. Saya terpaksa melakukannya karena Lucas mengancam tidak akan membiayai mama saya yang saat ini sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit."


Wajah Belinda terlihat sekali penuh keterkejutan mendengar perkataan Zoya. Ia tidak menyangka jika putranya sampai tega membohongi Zoya dengan mengatakan bahwa ibunya masih hidup dan selamat dari peristiwa kebakaran itu hanya demi bisa memanfaatkan Zoya untuk menjadi bonekanya.


"Keterlaluan kamu Lucas," batin Belinda merasa begitu marah pada putranya karena melihat kondisi Zoya saat ini.


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2