
HAPPY READING!!🥰
PENCET TOMBOL LIKE, COMMENT DAN VOTENYA YA, gratis kok🥺
......................
“Alvenzo?” Ujar Mita lirih tapi terdengar.
“Mm iya?” Balas Digo sopan.
“Apakah itu nama marga keluargamu?” Tanya Mita lagi.
Digo mengangguk “Iya Bu, nama ayah saya Bobby Alvenzo”
DEG
Mita seperti tersambar petir, hal yang berhasil dia lupa dulu tiba-tiba datang lagi di hadapannya. Dia sudah mencoba membawa Alexa pergi jauh dari bayang-bayang kelam itu tapi nyatanya takdir membawanya sedekat sekarang?
Digo akhirnya pamit dari ruangan rawat Alexa karena mendapat telpon dari pasien.
Kini Mita dan Alexa hanya berdua diruangan itu.
“Kalian sudah lama berpacaran?” Tanya Mita.
“Emm.. baru seminggu Buk” balas Alexa.
“Kamu pernah ketemu sama orang tuanya?” Tanya Mita lagi.
“Belum buk, aku sibuk syuting” balas Alexa
“Syukurlah.. Ibu boleh minta sesuatu?” Ujar Mita sambil memegang tangan putrinya itu.
Alexa mengangguk.
Tapi Mita termenung lagi, dia tidak ingin menghalangi jalan bahagia putrinya, dia tidak ingin melihat putrinya menderita sepertinya dulu. Tapi jika bukan dirinya yang membatasi hubungan itu dia takut jika orang tua Digo lah yang akan menyakiti perasaan Alexa nantinya.
Dia takut dengan kenyataan Putrinya jatuh cinta sendirian.
Alexa mengelus wajah Ibunya “Ibu mau minta sesuatu apa?”
“Jangan pacaran ya Nak.. Ibu takut..” ujar Mita lirih.
“Digo orang baik Buk.. lagipula Alexa bisa jaga diri baik-baik” balas Alexa paham dengan perasaan Ibunya itu.
“Ibu hanya takut kamu merasa kecewa Nak” batin Mita sedih melihat senyum manis Alexa.
Mita lebih baik menunda memberitahukan kebenaran itu kepada Alexa.
Ketika Alexa sudah tertidur, Mita ingin pergi menemui Digo untuk menceritakan semuanya sebelum hubungan semuanya menjadi lebih serius.
Mita masuk keruangan Digo dengan mengetuk pintu 2 kali.
Digo mempersilahkan masuk seseorang itu, saat itu Taniara sudah pulang dari prakteknya.
“Selamat malam Dok” ujar Mita melangkahkan kakinya masuk.
Digo langsung berdiri saat mengetahui Ibu Alexa yang datang menemuinya.
“Ibu.. silahkan duduk” ujar Digo menarik kursi dan mempersilahkan Mita duduk
__ADS_1
Mita pun duduk berhadapan dengan Digo.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Digo sopan.
Mita mengangguk “Ada yang ingin saya tanyakan padamu..”
“Apakah kamu benar-benar mencintai Alexa?” Ujar Mita lagi.
Digo agak canggung dengan pertanyaan itu tapi dia tidak bisa memungkiri perasaannya juga.
“Saya serius dan mencintainya Bu” balas Digo.
“Kamu sudah tau latar belakangnya?” Tanya Mita lagi.
“Latar belakang?” Tanya Digo balik.
“Latar belakang mu sangatlah berbeda dengan latar belakang kami, kamu mungkin bisa menerimanya dengan tulus tapi bagaimana dengan keluargamu.. apakah kamu sudah memikirkan hal itu?” Ujar Mita panjang.
Digo mengangguk dan mengerti “tidak ada yang sempurna kan Bu? Lagipula latar belakangku juga tidak sesempurna itu”
“Alexa tidak mempunyai Ayah, sejak dalam kandungan dia tidak mempunyai status, nama marga, kasih sayang dari sosok ayah, dia hanya mendapatkan cibiran dari orang lain..” ujar Mita.
“Dia tumbuh hanya bersama Ibunya, hidup bersembunyi selama bertahun-tahun, menghindari banyak hal. Dia kehilangan masa-masa indah kecilnya. Baru beberapa tahun ini saya melepaskannya dari naungan saya, dia memilih berkarir sebagai publik figur yang dimana orang-orang akan sangat mudah mengenalinya, saya sejujurnya takut.. dia akan bertemu dengan orang-orang yang akan membuatnya sakit hati lagi” tambah Mita panjang.
Digo mendengarkan ucapan Mita dengan seksama.
“Jika kamu mencintai Alexa, lepaskanlah dia.. saya mohon” ujar Mita lagi.
Digo terkejut, apakah Ibu Alexa tidak merestui hubungan mereka?
“Ma-ksud Ibu?” Tanya Digo memastikan.
“Tapi Ibu.. apakah hanya dengan alasan latar belakang itu? Bukankah orang lain mempunyai masa kelam nya sendiri? Menurut saya itu bukan alasan yang logis.. saya menolak perintah Ibu” ujar Digo tegas.
“Jika itu mau kamu, saya tidak akan merestuimu..” balas Mita.
“Bukankah kebahagiaan Alexa lebih penting? Sampai kapan Ibu akan membatasinya dan menerima lelaki pilihannya didalam hidupnya?” Ujar Digo lagi.
Perkataan Digo benar, sampai kapan Mita akan overprotektif kepada Alexa, karena sampai kapanpun cerita kelam itu tidak akan terganti, dirinya tidak akan bisa mengatur semuanya sesuai keinginannya.
......................
Sedangkan dilain tempat, beberapa hari ini Taniara sedang sibuk dengan aplikasi berkencan yang sedang hits, awalnya dia hanya mencoba-coba saja, dia menemukan banyak lelaki didalam aplikasi itu, tapi semuanya tidak masuk kriterianya.
TING
“HAI” sapa lelaki dengan username Anoname.
Taniara melihat sekilas notifikasi itu “Halahh.. namanya aja aneh.. skip aja lah”
“Bagaimana harimu hari ini?” Sapa Anoname lagi.
Taniara membaca chat itu dan melihat perbedaan gaya chat lelaki ini dengan lelaki lain yang biasanya langsung meminta video call atau foto PAP bahkan langsung mengajaknya berkencan.
“Baik, bagaimana denganmu?” Balas Taniara dengan username Dora dengan foto profil Dora juga.
Anoname membalas dengan cepat sekali “sangat baik, terimakasih sudah membalas.. salam kenal, namamu siapa?”
__ADS_1
“Aku Dora, kamu?” Balas Taniara iseng.
Tiba-tiba Anoname mengganti namanya menjadi Diego dan foto profil Diego juga.
“Aku Diego Hehehe” balas pengguna akun Diego itu.
“Ckk.. sekarang dia mengaku dirinya adalah Diego” batin Taniara tertawa melihat kelakuan kenalan barunya itu.
Mereka saling bertukar pesan tentang banyak hal dan Taniara menganggap Diego ini adalah lelaki yang asik dan tidak membosankan.
“Apakah aku boleh mendengar tawamu Dora?” balas Diego.
Taniara tanpa merasa canggung langsung merekam tawanya dan dikirimkan lah itu ke Diego.
“Tawamu sangat indah..
“Bagaimana jika kita bertemu Dora?” balas Diego lagi.
“Oh tidakk.. Diego ingin bertemu denganku sekarang.. ini pertama kalinya.. bagaimana jika Diego berbohong tentang umurnya.. bagaimana jika Diego sudah mempunyai istri.. HAHHHH TIDAK TIDAK!!” Tutur Taniara bimbang membalas pesan itu.
Tapi tangannya ingin melakukan hal yang lain, tangannya mengetikkan sesuatu “Ayo.. kapan?”
Pesan itu sudah terkirim, dia bahkan menyesal sudah mengetikkan hal itu.
Diego sangat cepat merespon pesannya “besok, di Own cafe jam 10 pagi, kamu setuju Dora?”
“Besok? Lagipula besok aku libur.. apa ini jalan tuhan agar aku bisa melupakan Digo?” Tutur Taniara semakin bimbang.
“Ahhhhh aku binggung sekali…”
“Jangan Taniara.. jangan pergi”
“Memang kenapa jika aku pergi? Lagipula kita pasti hanya akan mengobrol.. jika kamu merasa tidak cocok.. pergi dan lupakanlah dia”
Taniara seperti orang gila yang bicara sendiri dikamarnya.
Pesan itu sudah Taniara baca tapi belum berani dia balas.
“Bagaimana?” Tanya Diego lagi, mungkin dia sudah lama menunggu balasan Taniara.
“Oke, di Own Cafe jam 10 pagi” balas Taniara dengan sedikit senyuman saat mengetik.
“Ahhh ini bukan seperti diriku” batinnya malu-malu.
“Bisa-bisanya aku mencari lelaki di aplikasi ini” lanjutnya.
“Bagaimana caranya agar aku mengenalimu Dora?” Balas Diego lagi.
Taniara memikirkan hal yang sama, mereka belum pernah bertemu, di cafe itu pasti ada banyak orang, jadi mereka akan kesulitan menemukan satu sama lain.
“Hmmm.. aku akan memakai ransel seperti Dora” balas Taniara iseng.
“Baiklah.. aku akan memakai rompi seperti Diego” balas Diego juga.
“Sampai jumpa besok” balas Diego lagi dengan emoticon senyum.
Entah mengapa hati Taniara bergejolak, dia bahkan tidak bisa tidur hanya karena memikirkan kencan pertamanya besok, dia sudah membayangkan banyak hal. Dan semoga Sosok Diego benar-benar sesuai dengan tipenya.
__ADS_1