
DOUBLE UP!! 🥰
PENCET TOMBOL LIKE, COMMENT DAN VOTENYA YA, gratis kok🥺
......................
Keivan pulang kerumah dengan perasaan yang biasa-biasa aja, malah dia bersyukur karena kencan butanya gagal, jadi dengan begitu dia tidak perlu berkencan dengan sosok Dora itu.
KREK
“udah pulang Kei?” Tanya Lolita terkejut Keivan sudah pulang pada pukul 12.
Keivan mengangguk “Dora gak dateng Ma”
“Kok bisa? Kalian gagal kencan dong?” Tanya Lolita lagi.
“Kamu sempat mengatakan sesuatu? Atau jangan-jangan kamu datang terlambat?” Selidik Lolita.
“Aku memang datang terlambat tadi, tapi aku sudah sempat mengatakan itu padanya” ujar Keivan.
“Tuhhh kan.. Mama selalu bilang kamu harus tepat waktu, karena cewek itu gak suka nunggu Kei! Sekarang kamu harus atur kencan ulang lagi! Mama gak mau tau!!” Ujar Lolita sebal.
“Ihh Mama.. udah jelas-jelas takdir gak setuju sama pertemuan ini, malah diatur ulang lagi..” keluh Keivan.
“Mama gak enak tau sama Dora, dia pasti lagi sedih, kesel terus jangan-jangan nangis.. ihhh dosa tau sayang buat anak orang sedih” ujar Lolita cerewet.
“IYA IYA AKU ATUR ULANG KENCANNYA DEH” ujar Keivan akhirnya setuju.
“Terus hubungi dia, oke?” Ujar Lolita senang.
Dan Keivan membalasnya dengan anggukan.
......................
Sedangkan Alexa sudah boleh pulang tapi dia mendapatkan libur selama 3 hari dari produsernya dan syuting film juga di tunda terlebih dahulu.
Itu artinya Alexa akan mempunyai waktu lebih untuk bersama dengan Digo, dan itu pasti sangat menyenangkan.
Berhubung malam minggu nanti Digo tidak praktek dan Taniara dengan senang hati menggantikan prakteknya, sejujurnya Taniara melakukan hal itu agar pikirannya terbebas dari memikirkan kencan buta bersama Diego itu.
Digo dan Alexa memutuskan untuk pergi jalan-jalan bersama, dia ingin bermain selayaknya anak kecil karena hidup menjadi anak dewasa sudah cukup melelahkan.
Digo menjemput Alexa di Apartemennya dan langsung mengajaknya jalan-jalan.
Di dalam mobil mereka berbincang-bincang dan tertawa bersama hingga tibalah mereka di pasar malam yang cukup ramai dengan banyak permainan.
Malam itu pasar minggu terlihat sangat ramai, banyak sekali orang-orang yang menikmati malam minggu mereka disana, sudah sangat lama bagi Digo tidak pergi ketempat seperti itu, dia yakin jika berpergian dengan Alexa pasti hasilnya akan sangat menyenangkan.
“kamu lapar sayang?” Tanya Digo menggandeng tangan kekasihnya itu seperti tidak ingin berpisah sebentar saja.
Alexa menggeleng “belum sayang”
“Bagaimana kita bermain menangkap boneka?” Usul Digo menunjuk salah satu permainan.
Alexa setuju.
Mereka mengantri agar bisa bermain mainan dan melihat keromantisan pasangan lain yang berhasil menangkapkan boneka untuk pasangannya.
Digo yakin bisa mengambilkan salah satu boneka itu.
“Kamu masih menyimpan boneka panda putih pemberianku sayang?” Tanya Digo mengingat dia juga pernah menangkapkan boneka untuk Alexa.
Alexa mengangguk “pasti aku menyimpannya sayang.. apa kamu bisa menangkapkannya lagi untukku?”
Digo mengangguk percaya diri “oke.. sekarang kamu pilih mau boneka yang mana?”
“Aku boleh milih juga nih?” Tanya Alexa kaget bahkan dirinya sangat tau sulitnya bermain permainan ini.
Digo mengangguk “iyaa.. pilih aja”
“Yang gede itu” ujar Alexa menunjuk boneka yang paling besar diantara boneka yang lain.
Digo tak mempermasalahkan hal itu, dia yakin bisa menangkap boneka apapun didalam mesin itu.
TARAA..
__ADS_1
Akhirnya Digo berhasil hanya dengan sekali permainan, boneka yang didapat juga sesuai harapan Alexa, banyak pasangan yang bertepuk tangan dan Alexa sangat bangga memiliki kekasih yang sangat hebat seperti Digo.
“Thank you sayang” balas Alexa sambil memeluk boneka barunya itu.
Digo hanya mengedipkan matanya centil.
“Main yang itu.. mau?” Ujar Digo menunjuk permainan kuda berputar.
Alexa terdiam dia mengingat bahwa Digo phobia ketinggian.
“Kenapa diam sayang? Aku sudah berani kok.. lagipula aku tidak phobia kuda hahaha” bisik Digo pelan.
Alexa dengan senang hati menerima tawaran itu, permainan yang sempat tertunda saat pergi ke wahana saat itu.
“Akankah kita bisa selalu seperti ini?” Batin Digo menatap Alexa yang menikmati permainan kuda itu.
Sangat menyenangkan, melihat tawa Alexa yang tidak ada hentinya mengembang dan genggaman tangan dingin yang menyejukkan hati dan pikiran Digo.
Setelah berputar-putar beberapa kali, mereka memutuskan untuk makan cemilan malam di kios sekitar pasar.
“Emmm.. hari ini sangatlah seru” ujar Alexa sambil mengunyah burgernya.
Digo mengangguk dan menatap wajah Alexa penuh bahagia.
“Wajahku berantakan?” Tanya Alexa curiga karena Digo menatapnya sambil senyum-senyum.
Digo menggeleng dan tersenyum “Kamu sangat cantik”
“Haaaahhhh dia menggemaskan sekali..” batin Alexa senang mendapatkan pujian itu dari kekasihnya.
“Kamu juga tampan” bisik Alexa pelan.
Alexa menyuapi kentang kedalam mulut Digo, Digo juga melakukan hal yang sama.
Setelah usai makan cemilan, mereka kembali ke dalam mobil dan memutuskan untuk pulang.
Alexa menikmati perjalanan mereka malam itu, sungguh Digo adalah obat penenangnya sekarang.
Sampainya di parkiran Apartemen dan sebelum dia turun, Alexa dengan senang mencium pipi Digo sebagai tanda terimakasih.
CUP
“Thank you sayang” ujar Alexa sambil tersenyum.
Digo tersenyum mendapatkan serangan tiba-tiba.
Alexa langsung melepaskan sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu mobil.
Tapi tangannya di cegah oleh Digo, Digo memutar wajah Alexa cepat dan menyambar bibir ranum Alexa lagi.
CUP
Rasa berc*iuman yang kedua ini sangatlah spesial, mereka tidak malu lagi untuk menyatukan bibir dan melilitkan lidah mereka, sangat lama dan saling memejamkan mata.
Setelah tersadar Alexa pamit kembali ke Apartemennya.
Alexa memegang bibirnya terus sampai di kamar “Haaahhhh baper baper..”
[Yakin masih kuat di Bumi?]
......................
Keivan belum merencanakan kencan ulangnya bersama Dora, dia lebih memilih keluar rumah untuk bermain futsal bersama teman-temannya.
Selama ini dia selalu bermain aman, tenang dan menang, tapi malam itu berbeda dia terlihat grasa-grusu dan tak fokus.
Karena hal itu dia akhirnya tersandung oleh temannya, lututnya pun keluar darah, Keivan adalah tipikal orang yang tidak suka melihat darah, jadi dia cukup khawatir saat itu.
Keivan mencoba menelpon Taniara untuk mengobati luka kakinya itu tapi tak ada jawaban, dia memutuskan untuk datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan Taniara yang sedang melamun karena tidak ada jadwal pasien memutuskan untuk membaca buku.
Hingga akhirnya dia melihat notifikasi telpon di ponselnya “KEIVAN”
“Kenapa dia menelponku? Jangan-jangan dia menyadari bahwa aku adalah Dora?” Keluh Taniara cemas.
“Aaaaaa kenapa situasi menjadi sangat rumit..”
“Bodohnya aku menggunakan ponsel yang sama saat login aplikasi itu ckkk..”
TUK
TUK
Sepertinya pintu ruangan saat itu ada yang mengetuk, dan Taniara senang akhirnya ada pasien juga yang datang.
Taniara membuka pintu ruangan prakteknya dan terkejut melihat sosok Keivan didepannya.
“Kamu Ka-mu..” ujar Taniara terbata-bata.
“Aku telpon kamu dari tadi kok enggak diangkat?” Tanya Keivan sedikit kesal.
“Waduhhhhh.. gawat.. bisa-bisanya ketahuan dan dilabrak di rumah sakit” batin Taniara sangat cemas.
Taniara terdiam memaku.
“Tan..” ujar Keivan lagi.
“Eemmm.. sumpah aku minta maaf, ini pertama kalinya aku ikut-ikutan itu.. aku janji tidak akan menganggumu lagi!” Ujar Taniara akhirnya.
“Kamu kesambet?” Tanya Keivan binggung dengan ucapan Taniara.
“Kenapa isi minta maaf segala.. tenang aja.. kamu juga gak pernah ganggu aku” balas Keivan lagi.
“Sebentar.. kenapa Keivan sepertinya tidak ingin mengatakan hal yang aku takutkan? Apa jangan-jangan…” batin Taniara bergejolak.
“Terus ngapain kamu kesini?” Tanya Taniara.
“Neh.. aku luka abis main futsal” ujar Keivan sambil menunjuk lututnya yang sedikit berdarah.
Taniara tertawa didalam batinnya, sungguh dia hampir saja gila jika ketahuan dan dilabrak oleh Keivan.
“Yaudah yuk masuk” ujar Taniara mempersilahkan Keivan masuk.
Keivan sudah duduk di ranjang bed.
Taniara mempersiapkan perban dan obat-obatannya.
“Dimana Digo?” Tanya Keivan iseng.
“Lagi gak praktek” balas Taniara singkat.
TING
“Dora, jawablah pesanku ini” isi pesan Diego yang terlihat di ponsel Taniara saat tak sengaja di sentuh.
Taniara refleks langsung menoleh ke arah Keivan yang masih duduk di atas ranjang tapi anehnya saat itu Keivan tidak membawa ponselnya, jadi siapa yang mengirimkan pesan itu untuknya?
Taniara bernafas lega akhirnya hal dia takuti bukanlah Keivan, Diego adalah sosok orang lain, bertemu dengan Keivan saat itu hanyalah kebetulan.
Keivan meringis kesakitan saat Taniara membersihkan luka kakinya itu.
“Hati-hati..” ringis Keivan terus.
“Tahan ya” balas Taniara singkat dan melilitkan perban di luka kecil Keivan itu, sebenarnya luka itu tidak perlu di perban, tapi karena Keivan tidak suka melihat luka jadi lukanya harus di tutup.
“Kamu harus rajin membersihkan lukamu agar tidak infeksi, oke?” Ujar Taniara sudah selesai mengobati kaki Keivan.
“Aku tidak bisa.. bagaimana jika kamu datang kerumahku untuk merawat lukaku?” Usul Keivan.
“Aku? Ahhh tapi aku kan bekerja..” elak Taniara.
“Sebentar saja.. ayolah.. aku bayar 5 kali lipat, bagaimana?” Usul Keivan lagi.
Pikiran Taniara langsung menuju ke uang, biaya pengobatan akan dibayar 5 kali lipat, itu sungguh sangat lumayan untuk membayar beberapa cicilannya.
__ADS_1
“OKE!!!” Ujar Taniara semangat.