
HAPPY READING🥰
Jangan lupa di like, comment dan vote aku yaa, follow aku juga agar tau tentang novel-novel terbaru aku😘😘
......................
Pagi itu ada sedikit ada keresahan di hati Digo karena semalaman dia menghubungi Alexa namun tidak ada balasan satupun, bahkan dia menelpon Risa, asisten Alexa tapi tidak ada kabar apapun juga.
Dia merasa sangat khawatir karena sudah meninggalkan Alexa pergi sendirian kemarin, dia memikirkan bagaimana jika ada sesuatu hal yang berbahaya menimpa Alexa saat ini.
Dia menelpon Taniara untuk mengambil alih tugasnya di rumah sakit, karena dia ingin pergi memastikan keadaan Alexa saat ini.
“Halo Tan” sapa Digo saat Taniara mengangkat panggilannya.
“Iya Go?” Balas Taniara yang sedang menikmati hari liburnya pagi itu.
“Kamu bisa ganti praktek hari ini kan?” Tanya Digo dengan nada cemas.
“Bisa sih.. tapi kenapa bukan kamu?” Tanya Taniara balik.
“Panjang ceritanya.. aku jelasin nanti aja ya” ujar Digo langsung mematikan panggilannya.
Taniara kebinggungan dengan telpon mendadak dari Digo itu, tapi pikirnya itu kesempatan bagus karena dirinya akan disibukkan oleh pasien dan tidak akan mempunyai waktu untuk memikirkan masalahnya.
Akhirnya Digo pergi sambil mengendarai mobilnya menuju Apartemen Alexa.
Sedangkan Taniara bersiap-siap untuk pergi bekerja, dengan mengendarai sepedanya dia pergi menuju kerumah sakit.
Tapi sialnya didalam perjalanan, ban sepedanya kempes dan ditempat itu tidak terlihat ada bengkel dan dirinya kesulitan untuk membenahi sepedanya itu.
“Kapan sih hidupku gak ada masalahnya.. adaaaaa ajaa herann..” ujar Taniara mendongkrak sepedanya dan menatap ban sepedanya yang kempes.
TIN
Suara mobil mewah Keivan datang dari arah belakang menyapa Taniara.
Keivan tersenyum kearah Taniara “Ayo naik!”
Taniara enggan berbicara kepada Keivan dan sambil menuntun sepedanya terus.
Begitupun Keivan dia mengikuti jalan sepeda itu dengan mobil yang dia sengaja gas pelan-pelan.
“Ayo naik!!” Ajak Keivan lagi.
Sedangkan keadaan menjadi macet karena mobil Keivan yang menghalangi jalan tersebut.
TIN
TIN
TIN
banyak klakson yang berbunyi dan teriak-teriakkan dari orang-orang yang kesal karena perbuatan mereka berdua.
Keivan langsung turun dari mobil dan mengangkat sepeda Taniara naik “Ishhh keras kepala sekali!!”
Taniara yang memberontak langsung berteriak-teriak “JANGAN!!! Kamu ngapain sih ganggu ganggu aku!!”
__ADS_1
Keivan dengan gagah mengangkat sepeda itu dan menaruhnya dibelakang mobilnya “mau ikut gak?”
Taniara masih enggan untuk naik ke mobil itu.
TIN
TIN
TIN
Macet semakin panjang, Taniara akhirnya memutuskan untuk naik.
Perjalanan akhirnya kembali lancar setelah Keivan menancapkan gasnya.
Mereka sama sama hening, tidak ada sepatah katapun yang keluar.
Keivan mengendarai mobilnya ke lain arah, arahnya bukan ke rumah sakit tapi ke arah yang berbeda.
“Eehhh lurus!!” Ujar Taniara menyadari Keivan mengambil jalur yang salah.
“Biarin!” Balas Keivan masih fokus menyetir.
“Iihh Kei!! Cepet muter lagi!!” Teriak Taniara.
Keivan menggeleng “No way”
“Muter gak!! Atau aku langsung turun..” desak Taniara sambil berpura-pura ingin membuka pintu mobil paksa.
“Kalau kamu berani.. silahkan” ejek Keivan.
“Kei!! Aku serius!! Aku mau kerja..” keluh Taniara kesal.
“Iyaa aku tau, makanya aku anter” balas Keivan.
“Bener kok ini!” Balas Keivan tak mau kalah padahal sudah jelas-jelas salah.
“Udah yaa Kei.. aku lagi males debat nih.. plis muter balik ya, kerjaan aku banyak!!” Ujar Taniara lagi.
“Kamu ikutin aja kemauan aku, anggep aja sekarang kamu lagi aku culik” balas Keivan.
Taniara sangat heran dengan lelaki yang duduk disampingnya itu, entah apa yang sedang Keivan rencanakan, dia sungguh penasaran.
Dengan pasrah akhirnya Taniara mengikuti kemauan Keivan itu, mereka sampai di pantai, se pagi itu mereka sudah berjalan-jalan ke pantai, Keivan benar-benar tak terduga.
“Ayo ikut aku” ujar Keivan membukakan pintu mobil untuk Taniara.
Taniara masih duduk ditempatnya “gak mau!”
“Taniaa.. ayo turun..” ujar Keivan membujuk dengan pelan.
Suara pelan Keivan justru membuat hati Taniara bergetar, suaranya sangat candu untuk didengarkan.
“Ngapain sih kesini!! Aku gak mau!!” Ujar Taniara menolak.
“Yaudah.. awas nanti kamu diganggu preman sendirian, aku pergi dulu yaa” balas Keivan dengan bersungguh-sungguh berjalan pergi sendirian meninggalkan Taniara.
Taniara melihat kesekitar dan yakin tidak akan ada preman yang akan menganggunya, jadi duduk di mobil sepertinya tidak akan terjadi masalah.
Tapi beberapa menit kemudian, benar saja dia melihat segerombolan pria hendak mendekati mobil mewah Keivan itu, dengan fostur tubuh yang besar-besar dan tatapan mata yang garang cukup membuat Taniara ketakutan.
__ADS_1
Taniara langsung keluar dari mobil dan mencari keberadaan Keivan sebelum pria-pria itu menganggunya.
Dia berjalan dengan cepat dan akhirnya menemukan Keivan yang sedang duduk di santai dipinggir pantai sambil meminum wine.
Taniara langsung duduk disamping Keivan.
Keivan menoleh “katanya gak mau..” ejeknya sambil meminum segelas wine.
“Dasar orang stress! Ngapain jam segini ke pantai!” racau Taniara menatap Keivan.
“Emang ada larangan jam segini ke pantai?” Tanya Keivan menantang.
“Enggak sih. Tapi jangan sama aku perginya!!” Balas Taniara.
“Bawel banget sih! Tinggal duduk temenin ngomong, gitu aja!” Ujar Keivan lagi.
“Ini pemaksaan namanya” balas Taniara tak mau kalah.
Keivan menutup kedua telingganya dengan kedua tangannya “Taniaa… plis yaa, coba diem deh.. fokus kearah depan nikmatin pemandangan, gampang kan?”
Taniara akhirnya menurut, dia diam sambil memandang pantai didepannya, angin yang sejuk membuat rambutnya berterbangan.
“Ini..” ujar Keivan menyerahkan segelas wine untuk Taniara.
“Gak mau” balas Taniara cepat.
“Ratu minum nolak minum nih sekarang..” ejek Keivan.
“Aku cuma gak mau kamu ngambil kesempatan lagi!” Ujar Taniara.
“Kita sama sama gak sadar yaa saat itu, jadi kita gak tau siapa yang mulai duluan sebenarnya” balas Keivan lagi.
“Udah jelas lah kamu.. aku mah gak gitu orangnya” sahut Taniara.
“Aku juga bukan orang yang seperti ituu..” balas Keivan tak mau kalah.
“Bohong!! Dasar buaya darat!!” Ejek Taniara.
“Fitnah!!..” balas Keivan.
“Yaudah kita pacaran aja, TRIAL! 3 hari, kalau nyaman.. kita lanjut..” ajak Keivan tiba-tiba.
Taniara menatap Keivan, mata mereka saling bertemu seperkian detik, Taniara juga ingin cintanya berakhir dengan seseorang yang merenggut kesuciannya, dia ingin Keivan tapi gengsinya masih sangat tinggi.
“Bagaimana?” Tanya Keivan lagi.
“Emmmm…”
“Itungan ketiga belum ada jawaban, artinya IYA” ujar Keivan lagi.
“1… 3” ujar Keivan cepat.
Taniara langsung memukul pundak Keivan “Angka duanya belum!!! Aku belum selesai berpikir!!”
“Jawabannya udah kekunci, sekarang kamu udah jadi pacar aku” ujar Keivan sambil menyentuh tangan Taniara.
“Dihh.. curang!! Gamau gamau!!” Balas Taniara.
__ADS_1
“Diem gak! Atau aku cium nih?!” Ujar Keivan tiba-tiba sambil memajukan wajahnya kearah Taniara.
Taniara langsung menutup wajahnya agar Keivan tidak bisa menciumnya.