OPERASI CINTA

OPERASI CINTA
Akibat soju 21+


__ADS_3

HAPPY READING GUYS!!🥰


PENCET TOMBOL LIKE, COMMENT DAN VOTENYA YA, gratis kok🥺


......................


Keesokan harinya.


“Aaaagghhhhhhhh” teriak Taniara masih terasa pusing dan melihat Keivan tidur disampingnya.


Dia tidak bisa mengingat kejadian semalam dengan jelas, kepalanya masih sangat pening.


Keivan mengerjapkan matanya pelan, mengucek-gucek matanya juga “apasih.. ribut amat”


Taniara shock karena dirinya sudah te*lanjang dan Keivan juga sama.


“Kei bangun!!! Ngapain kamu dikamar aku!!!” Teriak Taniara.


“Kan kamu yang nyuruh..” balas Keivan santai.


“Kei!! Sumpah.. jangan bercanda…” teriak Taniara lagi.


“Apasih? Jadi kamu gak inget?” Tanya Keivan bangkit dari tidurnya dan merebahkan punggungnya diranjang.


Taniara menggeleng.


“Kita gak anu anuan kan?” Tanya Taniara pelan.


Dia berharap mereka tidak melakukan hal bodoh seperti itu.


Keivan terdiam.


“Jawab Kei..” tanya Taniara lagi.


“Kamu ngerasa sakit gak?” Tanya Keivan balik.


“Apanya?” Tanya Taniara polos.


“Anumu.. ihh polos banget dah” ujar Keivan.


Taniara refleks memegang anunya dan memang terasa sedikit perih.


Tapi karena merasa penasaran, Taniara bangkit dari tidurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut, dia melangkahkan kakinya pelan.


“Aghhhh.. sakitt..” keluh Taniara.


“Darahh..” teriak Taniara melihat darah di spreinya.


DEG


Taniara langsung menatap wajah Keivan yang juga terkejut.


“Eitzz bentar.. bentar.. ini bisa aja darah luka kaki aku” ujar Keivan langsung mengecek luka kakinya namun luka itu sudah kering.


Keivan menggeleng “ternyata bukan darah aku”


“Aaagggggggghhhhh aku gamauuuu…” teriak Taniara tak terkontrol, selimut yang dia pegang juga hampir jatuh


Keivan meneguk air liurnya yang tertahan.


“Tan.. selimutmu..” ujar Keivan salah fokus.


Taniara langsung melilitkan selimut itu ditubuhnya.


“DIEM!!” Ujar Taniara sambil melotot.


“Jelasin semuanya secara detail!! Aku gak inget.. kamu pasti nyari kesempatan dalam kesempitan kan? KAN!!!” Teriak Taniara kesal.


Keivan terdiam.

__ADS_1


“KEI.. ayolahh..” balas Taniara lagi.


“Katamu tadi diem..” balas Keivan.


“Aku boleh nampar kamu gak sih?” Balas Taniara saklek.


“Jangan dong.. Emmm.. sebenarnya aku juga gak inget..” balas Keivan jujur.


“GAK MUNGKIN!! Kamu jangan bohong!! Pliss Kei..” ujar Taniara duduk lagi diranjangnya.


“Aku serius Tan.. aku gak inget.. sampai dirumah kamu kita minum-minum lagi, itupun karena kamu yang ngeluarin botol-botol soju itu” balas Keivan sambil menunjuk botol-botol soju yang berserakan di lantai.


Taniara mencoba mengingat kejadian kemarin tapi dia benar-benar lupa, jika semakin memaksa untuk mengingat dia hanya membuat kepalanya semakin pening.


Karena mereka berdua tidak mengingat kejadian semalam, jadi author saja yang akan menjelaskannya.. cekidot..


Flashback on :


Keivan membopong tubuh Taniara untuk duduk di mobilnya, kondisi Taniara saat itu masih setengah sadar sedangkan Keivan masih sepenuhnya sadar.


Keivan mengantar Taniara pulang kerumah, dia merasa kebinggungan saat mencari rumah Taniara, dia sudah sempat bertanya pada Taniara yang sudah setengah mabuk itu, tapi beberapa kali pula jalur yang ditempuh itu salah.


Dia mengutuki dirinya karena harus mendengar perkataan orang yang mabuk, dia harus menghabiskan banyak waktu untuk mencari rumah Taniara, hingga syukurnya mereka sampai disana pukul 02 dini hari padahal dari kedai ayam goreng itu pukul 11, sialnya mereka tersesat dan hilang arah selama 3 jam.


Keivan sudah sangat lelah saat itu.. Taniara terus mengoceh tak karuan.


“Kunci rumahmu mana?” Tanya Keivan sambil membopong tubuh Taniara.


“Emmm.. kasi tau gak yaa..” ejek Taniara sambil tertawa-tawa mabuk.


“Ishhh.. cepetan.. kamu berat..” keluh Keivan mulai kesal.


“Kamu pencuri yaa?!!” Teriak Taniara setengah sadar.


“Enggak.. aku kei, KEIVAN!!” Teriak Keivan di telingga Taniara.


Taniara memandang wajah Keivan dan menyentuh pipi Keivan dengan kedua tangannya “ehh iya Keivan.. kirain mau maling hihihi..”


“Kuncinya dibawah karpet..” ujar Taniara lagi.


Keivan langsung mencari kunci itu, dan dia menemukannya.


Dia langsung membuka pintu rumah itu dan membawa Taniara masuk, rumah Taniara sepi karena memang dirinya hanya tinggal sendirian.


Keivan merebahkan tubuh Taniara di sofa “dah ya.. tiduran disini aja”


Taniara bangkit dari tidurnya dan bersandar di sofa “buka kulkas aku..” perintahnya.


Keivan ragu untuk membuka kulkas itu, dia sudah sangat lelah dan ingin pulang.


“BUKAK!!!” Perintah Taniara lagi.


Keivan akhirnya menurut dan membuka kulkas


“Astaga.. kamu ini peminum berat?!!” Ujar Keivan kaget melihat banyak botol soju di kulkas.


Taniara tertawa setengah sadar “Hihihihi.. bawa sini..”


Keivan menolak “kamu udah mabuk, kalo minum lagi bisa MATI”


“Iiihh bawel,, bawa sini.. bawa sini..” perintah Taniara terus.


Keivan masih enggan membawa botol itu kehadapan Taniara.


Taniara bangkit dari duduknya dan mengambil beberapa botol soju itu.


“Tan!! Jangan!!” Ujar Keivan melarang.


“Kalo kamu gak mau ikut minum.. pulang aja” balas Taniara saklek.

__ADS_1


Keivan cemas jika meninggalkan Taniara dalam kondisi itu, bisa saja Taniara akan mabuk berat dan pingsan tanpa pertolongan.


Keivan duduk didepan Taniara, dia ingin mengontrol perkembangan kesadaran Taniara.


Taniara meneguk satu gelas lagi “kamu mau?” Ujarnya menyerahkan gelas lain ke Keivan.


Keivan menerima gelas itu dan meminum juga.


“Lagi?” Ujar Taniara menyerahkan gelas itu ke Keivan.


Keivan menerima gelas itu dan meminumnya lagi.


Kejadian itu berulang-ulang terjadi, hingga akhirnya Keivan pun mabuk.


Taniara merebahkan dirinya di sofa, Keivan juga tanpa sadar merebahkan dirinya di sofa juga.


Mereka sudah sangat dekat, tapi semua kejadian itu tidak akan terjadi jika Taniara tidak memulainya.


Taniara mendekatkan tubuhnya kearah Keivan sambil menepuk dada Keivan “AKU KESEL SAMA KAMU .. KAMU JADIAN SAMA ORANG LAIN TAPI KAMU GAK TAU AKU SUKA SAMA KAMU!”


Taniara menganggap Keivan adalah Digo.


Keivan hanya diam karena dia setengah sadar.


Taniara naik ditubuh Keivan dan menjambak rambut Keivan “BILANG MAAF!!”


Keivan merasakan sakit pada rambutnya yang ditarik “awghhhh”


Keivan langsung men*indih tubuh Taniara, dia melihat wajah cantik Taniara didepannya, dia mengelus pipi gembul itu dengan lembut hingga membuat tubuh Taniara bergelinjang.


Tanpa sadar mereka berciuman, sangat lama.. saling melilitkan lidah dengan kepala yang dengan liar mencari tempat ternyaman.


Keivan langsung membuka kancing baju Taniara dan kancing bajunya.


Taniara tanpa melakukan penolakan, dia rela tubuhnya dikuasai oleh Keivan.


“Ahhhh” racau Taniara saat Keivan bermain di gunung kembarnya.


Keivan melakukan semua itu benar-benar dalam kondisi mabuk, tapi dia tidak membayangkan orang lain.. dia memang membayangkan sosok didepannya adalah Taniara.


Karena sofa terlalu sempit, akhirnya Keivan menggendong Taniara layaknya bayi koala menuju kamar Taniara, mereka masih saling berc*iuman satu sama lain.


Keivan merebahkan tubuh Taniara pelan di ranjang dan langsung melepaskan celananya, dia men*indih tubuh Taniara lagi, Keivan terlihat sangat jago padahal dia juga pertama kali melakukan itu.


Taniara melepaskan roknya sendiri, mereka benar-benar sudah gila…


Tanpa menunggu lama-lama Keivan langsung mengarahkan burungnya masuk ke inti Taniara, tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu.


“Ahhhhh huhhhhh” dezah Taniara sambil memeluk leher Keivan yang berada diatasnya.


Keivan terus memompa burungnya keluar masuk.


Inti Taniara masih sangat sempit dan membuat Keivan semakin berg*airah, dia seperti sedang memacu kuda.


“Huhhhhh hahhhhgghhhh” racau Keivan merasa burungnya terjepit sempurna.


Keivan membalikkan posisi setelah keduanya mencapai pelepasan dua kali.


Taniara yang sudah lemas dibantu bergerak oleh Keivan yang berada di bawahnya.


“Ahhhh.. ahhh nikmatt ahhh” racau Taniara sambil mengacak-acakan rambutnya.


Keivan terpesona melihat pemandangan itu, dia sudah sangat candu dengan jepitan inti Taniara itu, dia membalikkan posisi lagi menjadi diatas.


Keivan mengangkat kedua kaki Taniara ke lehernya dan mengarahkan burungnya masuk ke inti Taniara lagi, mendorong keluar masuk berulang kali dengan kecepatan tinggi.


Taniara sudah lunglai tak terdaya, mereka mencapai keni*kmatan tanpa sadar.


Keivan menjatuhkan tubuhnya kesebelah Taniara dan memeluk tubuh itu hingga terlelap.

__ADS_1


Flashback Off.


“Kita benar-benar sudah melakukannya..”ujar Taniara lirih.


__ADS_2