OPERASI CINTA

OPERASI CINTA
Romantisme


__ADS_3

HAPPY READING!!🥰


PENCET TOMBOL LIKE, COMMENT DAN VOTENYA YA, gratis kok🥺


......................


Malam itu Digo tidak bisa berpikir tenang, dia selalu memikirkan ucapan Ibu Alexa, dia bahkan tidur di sofa didalam ruangan kerjanya.


Pagi harinya Digo masih tidur terlelap, dan Alexa berniat untuk melihat Digo diruangannya, Alexa langsung masuk keruangan Digo dan melihat kekasihnya itu tengah tertidur di sofa kerjanya.


“Uduuu pacar aku kecapean nih..” batin Alexa jail ingin menjaili kekasihnya itu.


Alexa mengambil spidol dari meja kerja Digo dan hendak mengarahkan spidol itu kewajah Digo.


Alexa menahan tawanya agar Digo tidak terbangun.




Tapi sebelum spidol itu mengenai wajah Digo, Digo langsung menguap dan membuka matanya.


“Alexa?” Ujar Digo masih setengah sadar sambil memegang tangan Alexa yang memegang spidol itu.



Alexa tersenyum malu.


“Kenapa kamu tidur disini sayang?” Ujar Alexa langsung memasukkan spidolnya lagi, rencananya sudah gagal total.


Digo menguap lagi dan mendudukkan tubuhnya “Aku kelelahan sampai lupa pulang sayang”


“Badanmu pasti sakit sayang” ujar Alexa perhatian.


“Tidak.. aku baik-baik saja.. Emm.. lehermu masih sakit sayang?” balas Digo melihat leher Alexa yang masih terperban.


Alexa menggeleng “aku sudah sembuh sayang”


“Ibumu mana sayang?” Tanya Digo lagi.


“Ibu sudah pulang ke Bandung pagi tadi” balas Alexa sedih.


Digo menyentuh wajah Alexa tanpa berbicara apapun.


Dan Alexa mengamati wajah kekasihnya yang menurutnya sangat tampan itu.


“Apakah dia akan menciumku sekarang?” Batin Alexa bergejolak saat nafas Digo sangat terasa di wajahnya.


KRING


Digo mengangkat telepon ruangannya dan ternyata ada pasien darurat yang perlu tindak operasi secepatnya.


“Aku harus pergi ke ruang operasi sekarang” ujar Digo mengambil peralatannya.


Alexa mengerti “Baiklah, selamat bekerja sayang”


Digo pergi meninggalkan Alexa sendirian diruangannya.


...****************...


Di lain sisi Taniara sudah selesai bersiap pergi untuk kencan buta pertamanya, menemui lelaki yang baru saja dia kenal dari aplikasi kencan.


Dia berangkat pukul 09.45 menuju Own Cafe menggunakan Taksi.


“Huuhhh Tenang.. jangan grogi” batin Taniara benar-benar tak sabar bertemu dengan Diego.


TING


“Aku akan sedikit terlambat Dora, tunggu ya” pesan dari Diego.


“Emmm.. Baiklah, hati-hati” balas Taniara juga.

__ADS_1


Kira-kira dalam 17 menit perjalanan, Taniara sampai di Own Cafe, Tempat itu cukup ramai padahal masih terlalu pagi untuk menjadi tempat menongkrong.


Dia memutuskan untuk mencari meja yang bermuatan 2 orang di pojok didekat jendela, dia duduk disana dan menaruh Tas ransel Dora nya diatas meja.


Selagi menunggu Diego, dia memesan Matcha Tea sambil membaca buku tentang ortopedi.


“Kenapa Diego lama sekali” keluh Taniara sudah bosan menunggu.


“Jangan-jangan aku di prank” keluh Taniara lagi.


TING


“Aku udah didepan” pesan dari Diego singkat.


Jantung Taniara langsung berdebar, dia membenahi rambut dan pakaiannya agar terlihat rapi.


Taniara melihat kearah pintu masuk Cafe dan menunggu sosok Diego itu.


DEG


Taniara melihat sosok lelaki yang dia ketahui, lelaki itu pasti akan mengenalnya dan akan menginterogasinya, jika lelaki itu tau dia pergi untuk berkencan pasti dia akan mengejeknya terus.


Taniara langsung menutup wajahnya menggunakan bukunya agar tak terlihat.


TING


“Kamu duduk dimana?” Pesan dari Diego lagi.


Taniara tidak bisa membalas pesan itu karena tangannya fokus memegang buku.


Dia mengintip apakah lelaki itu sudah pergi atau belum.


Taniara bernafas lega karena dia tidak menemukan sosok lelaki itu, mungkin dia sudah pergi ke lantai atas.


“Aku duduk di lantai 1” balas Taniara kepada Diego.


“Baiklah” balas Diego cepat.


Tapi.. Lelaki itu muncul lagi setelah turun dari lantai atas.


“Aghhhhhhhh.. kenapa dia turun lagi” keluh Taniara kembali menutupi wajahnya.


Taniara mengintip sosok itu yang berkeliling-keliling seperti mencari sesuatu.


“Ngapain sih dia disini!!!” Keluh Taniara.


“Kayaknya aku harus ngumpet di toilet deh”


TING


“Kamu dimana? Tolong angkat tanganlah” pesan dari Diego lagi.


“Astaga.. bagaimana ini..” keluh Taniara.


Taniara langsung mengambil tasnya dan tetap menutupi wajahnya itu menuju ke toilet.


KRING


Ponsel Taniara berdering dan dia melihat notifikasi “Diego”, karena Taniara tidak membalas pesannya jadi Diego menelponnya.


Taniara mengabaikan telepon itu dan berjalan dengan cepat menuju ke Toilet.


BUGHHH


“Awhhh Sory Sory” ujar Taniara yang sepertinya menabrak seseorang.


Taniara mengintip orang itu dan ternyata dia menabrak Keivan, orang yang sejak tadi dia hindari.


Taniara tetap menutupi wajahnya dengan buku sambil mengubah cara bicaranya “maaf.. saya harus pergi sekarang”


Keivan memberikan jalan untuk Taniara tanpa mengenali sosok Taniara itu.

__ADS_1


KRING


“Astaga.. kenapa dia menelpon terus” batin Taniara mengeluh.


Taniara melangkah lagi tapi tangan Keivan memegang tas ranselnya.


“Astaga.. mengapa dia memegangi tasku” batin Taniara kesal.


“Hand sanitizer mu jatuh” ujar Keivan menyerahkan hand sanitizer itu.


“Oooh makasih” balas Taniara dengan cepat dan pergi.


Keivan tersadar dengan deringan ponsel wanita itu karena saat itu dia juga menelpon seseorang yang sedang dia cari.


Taniara berhasil bersembunyi di toilet dan melihat banyak sekali notifikasi pesan dan panggilan dari Diego.


“Yaa tuhan.. kencan butaku gagal berantakan” keluh Taniara kesal.


“Emmm.. apakah Keivan sudah pergi?” Keluhnya lagi.


TING


“Kamu dimana? Aku sudah duduk di bangku pojok didekat jendela” pesan baru dari Diego.


“Aku harus keluar sekarang.. memangnya kenapa kalau Keivan melihatku sedang berkencan? Memangnya ada hal yang salah!?” Batin Taniara yakin keluar dari persembunyiannya.


Dia mengintip dari tembok dan melihat ke bangku pojok didekat jendela.


DEG


“HAH? KEIVAN?” ujar Taniara sangat terkejut melihat Keivan yang duduk dibangku pojok itu.


Keivan sedang sibuk dengan ponselnya dan lebih mengejutkan lagi, dia mengenakan rompi selayaknya Diego.


“KEIVAN ADALAH DIEGO?” ujar Taniara semakin terkejut.


“Aghhhhh.. kenapa bisa dia!!” Batinnya sangat frustasi.


Keivan menelpon Taniara lagi, dan dia mendengar deringan telepon dengan musik yang sama seperti wanita yang menabraknya tadi.


“Apakah wanita yang tadi itu Dora?” Batin Keivan curiga.


“Tapi mengapa dia menghindariku?” Batin Keivan binggung.


Taniara mengumpat kesal dan mematikan ponselnya dan pergi dari cafe itu diam-diam.


......................


Digo sudah menyelesaikan tindak operasinya, dia masih memikirkan perkataan Ibu Alexa, dia merasa bahwa Ibu Alexa belum mengatakan sesuatu kepada Alexa, karena raut wajah Alexa masih sangat ceria tadi.


“Ekhemm..” dehem Alexa yang berdiri menunggu Digo di depan ruang operasi dan langsung masuk menghampiri Digo.


“Apakah Operasinya berhasil?” Tanya Alexa.


Digo mengangguk “Berhasil sayang”


Alexa berdiri sejajar dengan tubuh Digo yang sedang bersandar.


“Apakah kamu putri yang penurut sayang?” Tanya Digo tiba-tiba.


“Tergantung.. tergantung perintahnya, jika menurutku perintahnya salah.. aku akan tetap berjuang..” balas Alexa.


Digo mendekatkan wajahnya ke arah Alexa.


Alexa tidak mau percaya diri lagi, mungkin saja kali ini mereka gagal berciuman lagi.


CUP


CUP


Digo benar-benar melakukannya, Alexa menutup matanya saat merasakan kelembutan bibir Digo yang menyentuh bibir ranumnya juga.

__ADS_1


Lidah mereka saling melilit panas, kepala mereka menjadi posisi kekanan kekiri agar nyaman. Sungguh berc*iuman di ruang operasi sangatlah romantis.


__ADS_2