OPERASI CINTA

OPERASI CINTA
Situasi sulit


__ADS_3

HAPPY READINGđŸ„°


Jangan lupa di like, comment dan vote aku yaa, follow aku juga agar tau tentang novel-novel terbaru aku😘😘


...****************...


Keesokan harinya Alexa baru saja mendengar kabar dari rekannya bahwa ada pasien yang terkena lumbar spinal stenosis, penyakit yang juga pernah dia derita dan rasa sakitnya bukan main.


Dia juga mendengar kabar bahwa rumah sakitnya akan mengundang dokter lain khusus untuk menangani pasien tersebut, dia tak menyangka yang dimaksud adalah Dr. Digo Alvenzo dari Bahtera Hospital.


Alexa mendapatkan serangan pasien yang banyak dengan penyakit yang berbeda-beda, cukup melelahkan tapi karena dia menyukai bidang itu jadi rasa lelahnya tidak menjadi masalah.


Tanpa sengaja dia melewati bangsal pasien yang menderita lumbar spinal stenosis, pasien yang katanya terpental dari motor beberapa hari lalu.



“Susu itu..” ujar Alexa lirih sambil melihat susu disamping bed pasien, susu dengan merk yang sama seperti pemberian Digo saat dirinya sakit.


“Dokter yang menanganinya sangat tampan” ujar salah satu perawat wanita yang lewat dan tak sengaja terdengar oleh Alexa.


“Mungkin untuk pengobatan ini.. susu itu perlu.. ahh sudahlah jangan memikirkan dia..” batin Alexa pergi lagi dan hendak pulang karena jam prakteknya telah usai.


Digo memang datang pagi itu ke Meta Hospital, tempat Alexa magang. Ada panggilan untuk menangani pasien lumbar spinal stenosis dan cocok dengan bidangnya Ortopedi.


Sedikit mengingatkannya tentang kejadian pertama kalinya bertemu dengan Alexa, tapi semua orang juga pasti bisa saja terkena penyakit itu, lagi pula Digo mencoba untuk sedikit demi sedikit melupakan Alexa.


Keesokan harinya Digo datang lagi untuk fisioterapi khusus pasien itu, dia berangkat lebih terlambat karena harus mengantar Alika pergi bekerja.


Digo menyapa orang-orang staff di Meta hospital dengan ramah, bagaimanapun dia akan bekerja beberapa minggu disana.


Alexa yang melihat kejadian itu langsung terkejut, dia melihat Digo lagi setelah sekian lama, dengan kondisinya mereka sedang tidak baik-baik saja.


“Astaga.. bagaimana ini!!” Batin Alexa mencoba untuk bersembunyi.




Seseorang pun menepuk pundak Alexa dari belakang.


Alexa sangat terkejut tapi dia menahan teriakannya.


“Xa, bisa minta tolong gak? Bawain ini kesitu dong.. perut aku tiba-tiba sakit..” ujar salah satu teman perawat.


“Kemana?” Ujarnya pelan.


“Kesitu ke tempat receiptionist” ujar perawat itu.


Alexa melihat kearah keramaian itu, ada Digo disana. bagaimana dia bisa muncul tiba-tiba seperti itu.


“Udah cepetan.. bye” ujar perawat itu langsung berlari ke toilet.


Alexa kebinggungan mencari cara agar tidak diketahui oleh Digo.


Dia mengambil masker mulut di raknya dan memakainya.


“Dia pasti tidak akan mengenaliku sekarang..” ujarnya sambil memandang cermin.


Dia melangkahkan kakinya gemetar saat menuju keramaian itu.


“Aku rindu kamu.. tapi tidak ingin bertemu disituasi seperti ini..” batin Alexa sedih.


“Hai Xa!” Sapa teman perawatnya.

__ADS_1


“Hai” ujar Alexa dengan suara yang dibedakan.


“Kamu sakit?” Tanyanya lagi.


Alexa mengangguk “iya lagi pilek”


Digo hanya memandang Alexa biasa, dia tidak menyadari itu adalah Alexa, kekasihnya.


“Aku bawa ini..” ujar Alexa menaruh peralatan itu di meja.


Alexa melewati Digo sepintas dan aroma parfum Alexa mencuri perhatian Digo.


“Parfum itu..” batin Digo tiba-tiba teringat Alexa.


“Stop!” Ujar Digo menahan Alexa.


Alexa langsung merutuki dirinya “Astagaa.. bagaimana ini..” batinnya.


“Iya?” Ujar Alexa pelan.


“Kita belum berkenalan” ujar Digo lagi.


“Ohh.. Emm.. Xaxa” ujar Alexa sambil menundukkan badannya.


“Xaxa?” Tanya Digo lagi merasa sedikit aneh dengan nama dan gerak-geriknya.


Alexa langsung menutup kartu identitasnya agar nama asli dan fotonya tidak terlihat.


Sedangkan perawat yang lain juga merasa aneh karena Alexa mengganti namanya tiba-tiba.


“Kamu sedang magang?” Tanya Digo.


Alexa hanya mengangguk.


“Saya harus pergi dulu..” ujar Alexa pelan.


Alexa langsung pergi lagi keruangannya dengan perasaan campur aduk “bagaimana jika identitasku ketahuan”


Digo pun melanjutkan tugasnya sesuai prosedur, beberapa hari ini dia selalu mengantar jemput Alika, dia juga sudah merasa cukup nyaman untuk berdekatan dengan Alika, entah mungkin hanya sebagai pelarian.


......................


Alika sudah menunggu jemputan Digo didepan kampusnya, dia sudah bekerja beberapa hari disana.


Akhirnya Digo datang.


“Udah lama nunggunya?” Tanya Digo sambil membukakan pintu mobil untuk Alika.


“Enggak kok.. baru ajah” balas Alika sudah duduk di mobil.


“Aku lagi ada urusan dirumah sakit lain, jadi cukup telat pulangnya..” ujar Digo sambil fokus menyetir.


“Aku bangga karena kamu sangat totalitas” ujar Alika memandang Digo dengan senyuman.


“Aku lebih bangga sama kamu..” balas Digo juga dengan senyuman.


Mereka melewati gerobak dagang Ice cream.


“Go.. aku mau itu..” ujar Alika melihat dagang Ice cream.


“Tapi udah malem..” balas Digo.


“Kasihan dagangnya masih keliling jam segini” ujar Alika peduli.

__ADS_1


Akhirnya Digo menyampingkan mobilnya.


Alika langsung turun dan memesan 2 ice cream.


“Duduk disana dulu yuk?” Tanya Alika sambil menunjuk bangku kosong dipinggir jalan.


Digo pun menyetujuinya.


Malam itu ditemani oleh bintang-bintang dan angin sepoi-sepoi.


“Go.. aku boleh nanya sesuatu gak?” Tanya Alika tiba-tiba.


“Boleh” ujar Digo sambil menikmati Ice creamnya.


“Menurut kamu.. aku itu apasih?” Tanya Alika pelan.


“Emm.. teman dekat..” balas Digo penuh pertimbangan.


“Kita sudah sama-sama dewasa, aku juga ingin mempunyai hubungan lebih serius.. maaf.. tapi aku bersungguh-sungguh” ujar Alika lagi.


Digo mengerti tentang pemikiran Alika, dirinya tidak boleh menggantung perasaan Alika demi kepentingannya.


“Kalau kamu tidak menganggapku lebih.. kamu tidak perlu melakukan ini lagi, mengantar dan menjemputku.. itu hanya membuatku semakin berharap” lanjut Alika, malam itu uneg-unegnya semua keluar.


“Maaf maksud aku bukan begitu..” balas Digo.


“Aku hanya belum siap menjalani hubungan yang serius, aku trauma..” lanjut Digo lagi.


“Alexa?” Tanya Alika berani.


Digo mengangguk “Iya.. dialah alasannya.. dia pergi tiba-tiba dan membuatku seperti tidak percaya cinta lagi”


Alika terdiam.


“Tapi aku akan mencoba untuk sembuh dari luka itu..” ujar Digo.


“Sampai kapan?” Tanya Alika.


“Secepatnya..” balas Digo.


Digo menyentuh salah satu tangan Alika “Akan perlu banyak proses.. aku harap kamu sabar yaa”


“Kalaupun nanti ujungnya aku akan mengecewakanmu, aku hanya manusia.. aku minta maaf” lanjut Digo.


“Sebegitu besarkah cintamu kepada Alexa?” Tanya Alika penasaran.


Digo mengangguk “sangat besar..”


Alika hanya sedih setelah mendengar perkataan Digo itu.


Setelah selesai menghabiskan ice creamnya mereka masuk kedalam mobil lagi.


Alika hanya terdiam tanpa sepatah katapun, dia masih terluka dengan pengakuan Digo tadi.


“Besok aku jemput jam berapa?” Tanya Digo.


“Tidak perlu.. aku berangkat sendiri saja” balas Alika.


Digo paham perasaan Alika, dia serba salah tentang hal ini.


Alika pun turun dari mobil setelah sampai dirumahnya.


“Terimakasih Go” ujar Alika turun dari mobil.

__ADS_1


“Sama-sama Alika” balas Digo.


Digo pun melanjutkan perjalanannya pulang.


__ADS_2